Bertemu Kiai Sepuh

Tuesday, March 25th 2014. | Dawai

Secara kebetulan saja, saya bertemu dengan kiai sepuh. Ketika itu, saya merasa beruntung dan sangat bergembira oleh karena, saya merasa tidak begitu akrab dengan kiai dimaksud, tetapi rupanya, pemuka agama yang sudah berusia 83 tahun itu, ternyata mengenal saya. Kiai itu menyebut saya Pak Rektor, sekalipun sudah lima bulan, saya tidak lagi menjabat sebagai rektor.

Dalam pertemuan singkat itu, saya memperoleh pengetahuan yang mungkin bagi orang lain menganggap sederhana, tetapi saya rasakan amat mendalam. Kiai mengatakan bahwa problem sekarang ini bukan terletak pada krisis ekonomi dan kepintaran. Dikatakan bahwa ekonomi masyarakat sekarang ini sudah baik. Jalan-jalan sudah pada macet dipenuhi oleh mobil yang bagus-bagus. Rumah-rumah penduduk juga sudah kelihatan bagus-bagus. Selama ini tidak terdengar ada berita orang kelaparan karena tidak ada yang dimakan.

Masih menurut penilaian kiai sepuh itu, bahwa sekarang ini orang pintar juga sudah sedemikian banyak. Orang sudah banyak yang menulis buku. Kemampuan bicaranya bagus-bagus. Pokoknya orang pintar sudah banyak sekali jumlahnya. Hanya saja, menurut penilaian kiai yang setiap hari masih aktif memberi pengajian itu, bahwa di tengah-tengah banyaknya orang pintar, ternyata hanya sedikit saja orang yang ngerti. Orang pintar tidak otomatis mengerti.

Mendengarkan pandangan kiai itu, saya mencoba untuk menggali apa yang dimaksud dengan orang mengerti itu. Beliau menjelaskan bahwa, orang mengerti selalu berusaha memberi manfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Orang yang mengerti tentang dirinya sendiri, maka akan memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah makhluk yang serba lemah dan terbatas, karena itu ia selalu menyerahkan diri pada Tuhan, atau bertawakal.

Masih menurut penjelasan kiai sepuh dimaksud bahwa, orang yang tidak mengerti tentang dirinya sendiri dan bahkan juga arti kehidupan yang sebenarnya, maka orientasi hidupnya sehari-harinya hanya sebatas digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisiknya. Kebutuhan fisik itu sebenarnya juga terbatas, yaitu apa yang dimakan, pakaian yang dikenakan, tempat yang dijadikan berteduh, dan sejenisnya. Manakala kebutuhan itu terpenuhi dan apalagi berlebih, mereka merasa bangga dan bahagia sekali. Orang sekarang mau bekerja keras hanya untuk memenuhi jenis kebutuhan yang bersifat rendah itu.

Hal yang memprihatinkan, kata kiai sepuh tersebut, untuk memenuhi kebutuhan, agar seseorang memiliki harta yang banyak, pangkat atau jabatan, mereka berani melakukan apa saja. Nafsu, kata kiai, sudah tidak dikendalikan lagi. Banyak manusia mengikuti hawa nafsunya secara berlebihan dan bahkan tanpa batas. Itulah yang menjadikan kehidupan manusia ini tidak banyak bedanya dengan makhluk lainnya, menjadi rendah.

Kita mendengar berita, antar manusia sekarang banyak yang berebut sesuatu, bertengkar, konflik, beradu kekuatan untuk memperoleh kemenangan, saling menjatuhkan, tuduh menuduh, saling tidak mempercayai, mencelakakan orang lain dianggap hal biasa dan lain-lain. Harkat dan martabat manusia sudah tidak dihargai lagi. Mereka lebih menghargai dan mengutamakan barang atau benda dari pada menyelamatkan orang. Barang dianggap lebih tinggi nilainya daripada manusia.

Di sela-sela pembicaraan kiai itu, saya menanyakan, apakah sebenarnya yang menjadi penyebab hingga kehidupan senjadi seperti ini. Apakah hal itu disebabkan oleh orang tua gagal dalam mendidik anak-anaknya, atau lembaga pendidikan sudah kurang berfungsi lagi, atau lainnya. Kiai menjawab dengan singkat, bahwa hal itu karena rejeki yang diperolehnya tidak selektif. Pada zaman sekarang, orang tidak mampu lagi membedaklan yang halal dan yang haram, dan apalagi yang subhat. Semua diambil, asalkan dirasakan enak, tanpa melihat status rejeki itu sendiri.

Sebagai buah dari mengkonsumsi rejeki yang tidak jelas, kata kiai, maka akan berpengaruh terhadap perilaku. Dengan mengkonsumsi rejeki yang tidak halal, maka seseorang tidak akan mampu mengingat dan mengenal sesuatu yang mulia dan agung. Kata kiai, Dzat yang mulia hanya bisa dijangkau oleh orang-orang yang mampu membersihkan dirinya. Atas keadaan itu semua, menurut kiai sepuh, tidak ada jalan lain, kecuali berserah diri kepada Tuhan, Dzat Yang Maha Pengatur. Siapapun orangnya tidak akan mampu menyelesaikan. Sebab, persoalannya sudah sedemikian rumit dan berat. Wallahu a’lam.

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Guru Besar UIN Maliki Malang

Comments

comments

tags: ,

Related For Bertemu Kiai Sepuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *