Berkunjung Pesantren Quran di Kaki Gunung Slamet

Tuesday, March 20th 2018. | Jalan-jalan, Jelajah Pesantren

Kru Majalah Saat Wawancara dengan KH Muhammad Thoha

Suasana yang begitu sejuk nan segar menyambut kami ketika tiba di kawasan komplek Ponpes Ath-Thohiriyyah. Sempat kebablasan beberapa meter karena lokasi pondok yang masuk gang dan kurang terlihat. Beruntung sekali, sebelum masuk gang, ada plang yang menandakan lokasi Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah yang masuk sekitar 50 meter.

Adzan Maghrib sedang berkumandang ketika kami sampai di depan komplek Ponpes Ath-Thohiriyyah. Kami langsung menuju Kantor Pengurus pondoknya.

Sejarah Singkat

Dahulu, ketika KH Muhammad Thoha Alawy Al Hafidz pulang dari Mekkah, beliau sebenarnya tidak ada niat untuk mendirikan sebuah pesantren. Beliau hanya ingin menularkan ilmu yang diperoleh dari beberapa pesantren kepada masyarakat Karangsalam Kidul dan sekitarnya. Dan itu pun hanya sebatas ngaji di masjid depan rumah beliau.

Pada mulanya adalah sebuah kegiatan kursus Bahasa Arab untuk anak-anak yang belajar mengaji Alquran di rumah Ustadz Juwaini, yang jumlahnya tidak seberapa banyak. Tapi setelah berjalan beberapa waktu dan kemudian ditingkatkan menjadi Madrasah Diniyah Awaliyah para pengengelola menjadi kewalahan karena jumlah yang semula hanya puluhan membengkak menjadi 400 anak. Untuk menampung animo masyarakat itu, para pengurus akhirnya mengambil langkah dengan mengatur kelas-kelas darurat, menyeleksi tingkat peserta didik dan lain-lain.

Sebenarnya di desa itu sudah pernah ada Madrasah Diniyah tapi sudah hapir lima tahun terakhir kegiatan itu hilang dari peredaban masyarakat. Entah apa sebabnya lembaga tempat belajar agama sore hari untuk anak-anak itu kemudian tiada kabar beritanya. Padahal orang tua merasa terbantu oleh adanya Madrasah Diniyah itu. Mereka merasakan besar manfaatnya Madin. Disamping anak-anak sepulang dari SD, sore harinya mereka berkesempatan menambah pelajaran agama, tapi waktu sore tidak muspro untuk main-main saja.

Muncul ide untuk menarik minat anak-anak agar lebih giat mengaji. Maka sejak 5 Oktober 1989 dirintis adanya Kursus Bahasa Arab oleh sejumlah remaja setempat. Kegiatan kursus tersebut diadakan di rumah Ustadz Juwaini, seorang tokoh yang ada di Karangsalam. Kiprah anak-anak muda itu tidak meleset. Kursus Bahasa Arab yang diadakan semula dengan “coba-coba” itu benar-benar telah menarik minat anak-anak yang ternyata masih tinggi minat untuk belajar mengaji. Mereka masuk kursus itu sama dengan belajar di Madrasah Diniyah yang selama ini mereka rindukan.

Pada awalnya kegiatan itu hanya diikuti oleh 30 anak. Itupun hanya diadakan dua kali dalam seminggu. Di samping mereka diberikan pelajaran dasar Bahasa Arab, juga ada pelajaran beribadah seperti doa wudlu, salat, membaca shalawat dan ditambah pelajaran dasar bahasa Inggris. Dari hari ke hari peminatnya kian bertambah. Sekalipun rumah Ustadz Juwaini tidak bisa lagi menampung.

Ketika pesertanya makin membengkak menjadi 60 orang anak, pihak pengelola semakin ditantang pengetahuannya. Tempat belajar yang selama ini numpang di rumah Ustadz Juwaini, harus mencari tempat lain. Ini pertanda seberapa jauh dukungan masyarakat terhadap kegiatan pengajian tersebut.

Masjid Yang Dulu di Gunakan Sebagai Tempat Pengajian

Pindah Ke Masjid

Bersamaan dengan meluapnya semangat mengaji  anak-anak, para tokoh khususnya para pemuka agama desa Karangsalam mulai memikirkan kegiatan belajar-mengajar di masa mendatang. Akhirnya, kepengurusan sepenuhnya diserahkan kepada pengengelola untuk diatur dan dilakukan penataan. Diantaranya minta petunjuk ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten atau Penilik Pendidikan Agama Islam Kecamatan setempat. Sedang masalah tempat dan kemungkinan mendirikan bangunan Madrasah menjadi pemikiran Kiai dan masyarakat setempat.

Ketika peminatnya terus meluap karena tidak hanya anak-anak dari desa Karangsalam saja tetapi juga dari desa sekitar, dua rumah yang selama ini dijadikan tempat belajar sudah tidak mampu lagi menampung.

Atas saran KH. Thoha Alawy, takmir Masjid Jamik Parakanonje kegiatan tersebut dipindah ke masjid mulai tanggal 20 Mei 1990. Sekalipun belum memenuhi syarat pendidikan yang klasikal, tapi menempatkan masjid sebagai pusat pembelajaran memang lebih efektif. Peminatnya pun terus berkembang dari hari ke hari hingga mencapai 400 anak yang ada dibagi menjadi lima kelas.

Akhirnya, apa yang menjadi pemikiran para kiai dan tokoh masyarakat setempat dapat terwujud secara bertahap. Pada 10 Maret 1991, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Madrasah Diniyah Ath-Thohiriyyah “Al-Mustaqbal”. Upacara sederhana itu disaksikan oleh pejabat dan sesepuh tingkat desa dan Kecamatan. Diharapkan usaha gotong royong masyarakat itu akan segera berhasill menempatkan murid-murid Madin “Al-Mustaqbal” ke kelas yang lebih memadai.

Pesantren Alquran

Beliau KH Muhammad Thoha Alawy Al Hafidz sebelum mengaji kepada Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki Al Hasani di Mekkah telah terlebih dulu beliau telah melalang buana di pelbagai pesantren di jawa. Termasuk guru beliau adalah KH Arwani Amin, Kudus dan KH Abdullah Umar Semarang. Kedua-duanya adalah guru ngaji Alquran beliau. Beliau juga adalah santri pertama KH Abdullah Umar Semarang. Santri-santri Kiai Umar adalah para santri yang sudah pernah menghafalkan Alquran, akan tetapi karena kurangnya biaya, santri tersebut harus rela memendam dalam-dalam cita-citanya itu. Tercatat teman mondok Abuya (sapaan akrab para santri) yang sama-sama pernah berhenti hafalan ada sekitar 25 santri. Semuanya digratiskan biaya oleh Kiai Umar.

Di pesantren At-Thohiriyyah, para santri diwajibkan menghafal Juz ‘Ama, baik putra maupun putri. Selebihnya, para santri bebas memilih antara menghafal Alquran atau tidak. Semuanya dibawah bimbingan langsung Buya (sapaan akrab para santri) selepas jamaah Maghrib.

Lokasi yang dekat dengan beberapa perguruan tinggi di Kota Purwokerto, seperti IAIN Purwokerto dan UNSOED membuat pesantren ini mayoritas dihuni oleh mahasiswa dan anak sekolah. Jadi untuk kegiatan kepesantrenan dimulai sehabis Sholat Maghrib sampai Sholat Shubuh. Dan untuk siang harinya, para santri dipersilahkan belajar pendidikan formal diluar pondok, dimanapun yang mereka kehendaki.

Selain letak yang strategis, banyak juga mahasiswa yang nyantri di sana karena dari pihak kampus sendiri mengadakan program Baca Tulis Alquran (BTA). Program ini menjadi syarat mutlak bagi mahasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi. (Khozin)

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Berkunjung Pesantren Quran di Kaki Gunung Slamet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *