Berkunjung ke Makam Ahli Badar

Friday, April 8th 2016. | Ziarah

20120327_121742

Berkunjung ke Makam

Ahli Badar

 

Perang Badar adalah salah satu perang terpenting dalam sejarah perkembangan Islam pada zaman Rasulullah SAW. Sebagai perang besar pertama bagi umat Islam, Perang Badar berbuah manis bagi kaum muslimin karena pasukan muslim yang jumlahnya hanya 313 orang bisa memenangkan pertempuran dengan kuasa Allah SWT. saat melawan kaum Quraisy yang berjumlah 1.000 orang. Pada pertempuran ini, banyak para pejuang yang syahid dan meninggal di jalan Allah SWT. Para syuhada tersebut dimakamkan di Badar yang letaknya sekitar 90 kilometer dari Kota Yanbu.

Memang benar tidak ada seorangpun yang dapat menahan pertolongan Allah terhadap umat yang beriman padaNya. Seperti yang tercantum dalam surat al-Anfal ayat 9, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut“. Kemenangan kaum muslim itu disambut dengan kegembiraan luar biasa oleh penduduk kota Madinah.

Lembah Badar merupakan daerah subur yang terletak antara Makkah dan Madinah. Daerah ini menjadi subur karena memiliki sumber air. Saat ini, Badar adalah sebuh tempat pemberhentian kendaraan dan perlintasan kendaraan, terletak pada jalan lama dari Madinah ke Makkah atau Jeddah. Selain tempat pengisian bahan bakar, di lokasi ini juga tersedia tempat makan dan minum.

Selain lembah, Badar juga memiliki gurun pasir yang sangat menarik. Banyak orang yang sering mengunjungi Badar karena gurun pasir disini memiliki pasir yang lembut sekali dan tidak panas di kulit. Datarannya sangat empuk seolah akan mengisap kaki-kaki kita. Benar-benar tumpukan pasir membentuk bukit. Bukan bukit batu beralas pasir.

Makam Badar sendiri berada di tengah Kota Badar. Anda tidak akan sulit menemukannya, bahkan meski harus bertanya, orang-orang yang Anda temui akan dengan mudah memberikan petunjuk menuju makam pejuang perang Badar.

Di sana juga dibangun semacam tugu dan monumen Perang Badar. Monumen tersebut memuat nama keempat belas sahabat Nabi yang mati syahid dalam peperangan ini. Seperti makam-makam lainnya, di sini Anda juga akan diawasi dengan ketat oleh para penjaga ketika berziarah, karena seperti kita ketahui, pemerintah Arab Saudi khawatir peziarah akan melakukan hal-hal yang berbau syirik.

 

Perang Badar

Pertengahan Ramadan 2 Hijriah, satu hari menjelang pertempuran Badar, Allah menurunkan hujan. “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)” Al-Anfal:11.

Perangpun  tidak bisa terelakan. Diawali perang tanding, 3 lawan 3, Ali bin Abu Thalib, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ubaidah bin Al-Harits, mereka berhasil membunuh lawan tandingnya, walau Ubaidah terluka cukup parah, dan akhirnya menemui syahid. Perangpun berlanjut menjadi perang terbuka, kaum Muslimin yang jumlahnya lebih sedikit, atas perintah Rosulullah mengambil strategi bertahan. “Jangan ada seorang pun di antara kalian bergerak sebelum aku memberi komando”, demikian pesan beliau diawal pertempuran. Hanya dengan lesatan-lesatan anak panah dan senjata-senjata jarak jauh lainnya, mereka terus mencoba bertahan. Pedang-pedang mereka masih disarungkan.

Kondisi mereka kian terjepit, pasukan Makkah semakin dekat dan terus bertambah dekat mencoba membobol pertahanan. Rosulullah dalam kekhawatiran yang sangat, hingga beliau berdoa kepada Rabbnya, “Ya Allah, ini Quraisy datang dengan segala kecongkakannya, mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, sempurnakanlah kepadaku segala apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa-apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam, tentulah Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini.”

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” Al-Anfal:9.

Rosulullah melihat Jibril berkelebat diatas kudanya menyerang pasukan Makkah, ia pun segera bangkit dan berteriak, ‘Abu Bakr itu Jibril dengan kudanya ditengah pertempuran! Gigi seri kudanya telah berdebu.” Ia pun memberi komando kepada seluruh pasukan kaum Muslimin untuk maju, sambil melemparkan segenggam kerikil ke arah pasukan Makkah, ‘Gempur! Demi Dia yang memegang hidup Muhammad. Setiap orang yang sekarang bertempur mati-matian, terus maju dan pantang mundur lalu tewas, adkhalahullahul jannah, Allah akan menempatkan mereka di surga!

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Al-Anfal:17.

Akhirnya dengan pertolongan Allah-lah umat islam memenangkan pertempuran yang heroik itu. Sebuah awal yang manis dalam pertarungan umat islam dengan kafir Quraisy.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy[1] dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu. Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.

Bagi kaum Muslim awal, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.

Kekalahan Quraisy dalam Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud.

 

 

 

Rencana pasukan Muslim

Lukisan Iran (1314), menggambarkan pertemuan para pemimpin Muslim sebelum memulai Pertempuran Badar.

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu,[15] dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir”. Al-Anfal: 7

 

Pada saat itu telah sampai kabar kepada pasukan Muslim mengenai keberangkatan pasukan dari Mekkah. Muhammad segera menggelar rapat dewan peperangan, disebabkan karena masih adanya kesempatan untuk mundur dan di antara para pejuang Muslim banyak yang baru saja masuk Islam (disebut kaum Anshar atau “Penolong”, untuk membedakannya dengan kaum Muslim Quraisy), yang sebelumnya hanya berjanji untuk membela Madinah. Berdasarkan pasal-pasal dalam Piagam Madinah, mereka berhak untuk menolak berperang serta dapat meninggalkan pasukan. Meskipun demikian berdasarkan tradisi Islam (sirah), dinyatakan bahwa mereka pun berjanji untuk berperang. Sa’ad bin Ubadah, salah seorang kaum Anshar, bahkan berkata “Seandainya engkau (Muhammad) membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu.”[16] Akan tetapi, kaum Muslim masih berharap dapat terhindar dari suatu pertempuran terbuka, dan terus melanjutkan pergerakannya menuju Badar.

Pada tanggal 15 Maret, kedua pasukan telah berada kira-kira satu hari perjalanan dari Badar. Beberapa pejuang Muslim (menurut beberapa sumber, termasuk Ali bin Abi Thalib) yang telah berkuda di depan barisan utama, berhasil menangkap dua orang pembawa persedian air dari pasukan Mekkah di sumur Badar. Pasukan Muslim sangat terkejut ketika mendengar para tawanan berkata bahwa mereka bukan berasal dari kafilah dagang, melainkan berasal dari pasukan utama Quraisy. Karena menduga bahwa mereka berbohong, para penyelidik memukuli kedua tawanan tersebut sampai mereka berkata bahwa mereka berasal dari kafilah dagang. Akan tetapi berdasarkan catatan tradisi, Muhammad kemudian menghentikan tindakan tersebut.[16] Beberapa catatan tradisi juga menyatakan bahwa ketika mendengar nama-nama para bangsawan Quraisy yang menyertai pasukan tersebut, ia berkata “Itulah Mekkah. Ia telah melemparkan kepada kalian potongan-potongan hatinya.”[17] Hari berikutnya Muhammad memerintahkan melanjutkan pergerakan pasukan ke wadi Badar dan tiba di sana sebelum pasukan Mekkah.

Sumur Badar terletak di lereng yang landai di bagian timur suatu lembah yang bernama “Yalyal”. Bagian barat lembah dipagari oleh sebuah bukit besar bernama “‘Aqanqal”. Ketika pasukan Muslim tiba dari arah timur, Muhammad pertama-tama memilih menempatkan pasukannya pada sumur pertama yang dicapainya. Tetapi, ia kemudian tampaknya berhasil diyakinkan oleh salah seorang pejuangnya, untuk memindahkan pasukan ke arah barat dan menduduki sumur yang terdekat dengan posisi pasukan Quraisy. Muhammad kemudian memerintahkan agar sumur-sumur yang lain ditimbuni, sehingga pasukan Mekkah terpaksa harus berperang melawan pasukan Muslim untuk dapat memperoleh satu-satunya sumber air yang tersisa.

 

Sumber sejarah

Badar dalam al-Qur’an

 

Keadaan jalan raya menuju Badar saat ini.

Pertempuran Badar adalah salah satu dari sedikit pertempuran yang secara eksplisit dibicarakan dalam al-Qur’an. Nama pertempuran ini bahkan disebutkan pada Surah Ali ‘Imran: 123, sebagai bagian dari perbandingan terhadap Pertempuran Uhud.

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Ali ‘Imran: 123-125

Menurut Yusuf Ali, istilah “syukur” dapat merujuk kepada disiplin. Di Badar, barisan-barisan Muslim diperkirakan telah menjaga disiplin secara ketat; sementara di Uhud mereka keluar barisan untuk memburu orang-orang Mekkah, sehingga membuat pasukan berkuda Mekkah dapat menyerang dari samping dan menghancurkan pasukan Muslim. Gagasan bahwa Badar merupakan “pembeda” (furqan), yaitu menjadi kejadian mukjizat dalam Islam, disebutkan lagi dalam surah yang sama.

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” Ali ‘Imran:13

Badar juga merupakan pokok pembahasan Surah kedelapan Al-Anfal, yang membahas mengenai berbagai tingkah laku dan kegiatan militer. “Al-Anfal” berarti “rampasan perang” dan merujuk pada pembahasan pasca pertempuran dalam pasukan Muslim mengenai bagaimana membagi barang rampasan dari pasukan Quraisy. Meskipun surah tersebut tidak menyebut Badar, isinya menggambarkan pertempuran tersebut, serta beberapa ayat yang umumnya dianggap diturunkan pada saat atau segera setelah pertempuran tersebut terjadi.

Catatan tradisi Islam

 

Pertempuran Badar, dalam kuliah Islam kontemporer.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Historiografi Islam awal

Sesungguhnya seluruh pengetahuan mengenai Pertempuran Badar berasal dari catatan-catatan tradisi Islam, baik berupa hadits maupun biografi Muhammad, yang dituliskan beberapa puluh tahun setelah kejadiannya. Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi. Pertama, banyak suku-suku Arab yang hidup di jazirah Arabia buta huruf dan tradisi oral merupakan cara mereka untuk menyampaikan informasi. Pada saat Balatentara Islam dapat menaklukkan suku-suku Arab yang lebih berpendidikan di Suriah dan Irak, dapat dikatakan seluruh kaum Quraisy telah masuk Islam, sehingga menghilangkan peluang adanya catatan-catatan non-Muslim mengenai pertempuran tersebut. Kedua, dengan tersusunnya berbagai kompilasi hadits, maka naskah-naskah catatan aslinya menjadi tidak dibutuhkan lagi, dan menurut Hugh Kennedy kemudian dimusnahkan dengan “kecepatan yang menyedihkan”.[46] Terakhir, umumnya umat Muslim yang taat beranggapan bahwa para Muslim yang tewas di Badar adalah para syahid yang mulia, sehingga besar kemungkinan menjadi kendala bagi usaha yang sungguh-sungguh untuk melakukan penggalian arkeologis di Badar.

 

Saat itu, musim semi 624 Masehi atau bertepatan dengan 2 Hijriah, Muhammad SAW di Madinah mendapatkan berita, kafilah dagang kaum kafir Makkah yang diketuai Abu Sofyan sedang dalam perjalanan kembali dari Suriah menuju Makkah. Kafilah tersebut membawa harta melimpah, seribu ekor onta yang sarat dengan muatan bernilai lebih kurang 50.000 dinar emas.

 

Dua tahun sebelumnya, kaum muslimin terpaksa harus hijrah dari Makkah menuju Madinah, akibat kondisi Makkah yang tidak kondusif. Mereka selalu mendapatkan tekanan demi tekanan dari penduduk Makkah. Bahkan pernah diembargo ekonomi dan sosial selama 3 tahun lamanya. Perjalanan hijrah kaum muslimin pun tidaklah berjalan mulus. Hampir keseluruhan kaum muhajirin, harus rela keluar Makkah secara sembunyi-sembunyi, dengan meninggalkan seluruh harta kekayaannya, baik itu tanah, kebun, rumah, emas dan perhiasan. Banyak pula yang harus berpisah dengan sanak keluarganya dikarenakan perbedaan aqidah atau ditahan kaumnya. Suami meninggalkan anak istrinya, anak meninggalkan ayah ibunya, wanita menceraikan suami dan meninggalkan anaknya. Puncak dari tekanan kaum kafir Makkah ini adalah ketika mereka hendak membunuh Muhammad SAW. Sehingga Beliau pun dengan ditemani sahabatnya – Abu Bakr r.a harus berhijrah secara sembunyi-sembunyi. Seluruh harta yang ditinggalkan kaum Muslimin ketika itu, pada akhirnya digunakan kaum kafir sebagai modal kafilah dagang mereka.

 

Setelah hijrah, setelah berdirinya kekuatan negara muslim Madinah dibantu Kaum Anshar, dan setelah turun perintah Allah untuk berjihad. Sejak saat itulah, beberapa kali kaum Muslimin dibawah komando langsung Rasulullah SAW, melancarkan serangan balik kepada kaum kafir Makkah yang mencoba melewati jalur-jalur perdagangan antara Makkah dan Suriah, namun itu adalah serangan-serangan kecil yang gagal.

 

Maka, ketika mendengar kafilah dagang Abu Sofyan hendak kembali ke Makkah itu, Rasulullah SAW berkeyakinan ini sebagai kesempatan emas bagi kaum Muslimin untuk melancarkan pukulan telak terhadap perekonomian  penduduk Makkah. Beliau lalu menyampaikan pengumuman kepada kaum Muslimin,“Ini adalah kafilah Quraisy yang membawa harta-benda mereka, maka keluarlah menyongsongnya, semoga saja Allah menjadikannya harta rampasan bagi kalian.”

 

Lalu pada Ramadan 2 H / Maret 624, Muhammad SAW bersama 313 orang sahabatnya, mereka keluar dari Madinah, berencana melakukan serangan tersebut. Hanya ada 2 ekor kuda dan 70 ekor unta yang dibawa para mujahid itu, sehingga mereka harus bergantian menungganginya. Nabi SAW sendiri harus bergantian menunggangi seekor onta bersama Ali bin Abi Thalib dan Marstad bin Abi Marstad Al-Ghanawi. Mereka memang tidak menggalang kekuatan besar. Bahkan tidak ada kewajiban ketika itu kepada seluruh kaum Muslimin untuk turut serta. Menyerahkan pilihan secara multak kepada mereka. Karena hanya terpikir seperti serangan-serangan kecil sebelumnya, hanya akan berbenturan dengan kafilah itu yang dikawal empat puluhan orang saja.

Abu Sufyan tentu sadar, akibat permusuhannya dengan kaum Muslimin, jalur-jalur utama perdagangan Makkah – Suriah, yakni di antara Makkah dan Madinah menjadi daerah rawan baginya.  Maka saat mendekati Badar, saat ia mulai mendengar mengenai rencana Muhammad SAW untuk menyerangnya. Iapun  mengirim utusan yang bernama Damdam ke Makkah untuk memperingatkan kaumnya dan mendapatkan bala bantuan. Segera saja kaum Quraisy Makkah mempersiapkan pasukan sejumlah 1.300 orang untuk melindungi kelompok dagang tersebut, bersamanya pula ada 100 kuda, 600 perisai dan onta yang banyak sekali sehingga tidak diketahui berapa jumlahnya.

 

Pasukan Muhammad SAW sudah mendekati tempat penyergapan yang telah direncanakannya, yaitu di sumur Badar, suatu lokasi yang biasanya menjadi tempat persinggahan bagi semua kafilah yang sedang dalam rute perdagangan dari Suriah. Akan tetapi, beberapa orang petugas mata-mata dari kaum Muslimin berhasil diketahui keberadaannya oleh kafilah dagang Abu Sufyan, yang kemudian langsung membelokkan arah kafilahnya ke arah barat menuju pesisir, yakni; Yanbu.

 

Pasukan Quraisy Makkah telah tiba di Juhfah, saat Abu Sufyan mengirimkan mereka berita bahwa kafilah dagang telah aman dari incaran pasukan Madinah, karena mengambil jalur lain, dan telah berada dibelakang mereka. Mendengar  hal ini, maka pasukan Makkah pun bermaksud kembali pulang. Akan tetapi Abu Jahal, sang thaghut Quraisy berdiri dengan penuh kesombongan dan kecongkakan seraya berkata, “Demi Allah, kita tidak akan pulang hingga berhasil mengambil alih Badar, lalu tinggal disana selama tiga hari sambil menyembelih onta, makan-makan dan meminum arak dengan diiringi nyanyian para biduanita sehingga bangsa Arab mendengar tentang keberadaan, perjalanan dan berkumpulnya kita. Sehingga, mereka akan selamanya segan terhadap kita.”

Namun, Bani Zahrah, yang menjadi bagian pasukan Quraisy telah memutuskan untuk kembali ke Makkah. Jadilah jumlah pasukan Makkah yang meneruskan perjalanan menuju Badar berkurang menjadi sekitar 1000 orang.

 

Di Badar, Rosulullah mendengar berita ini. Posisinya menjadi kritis. Jumlah pasukan dan perlengkapan perang tidak sebanding. Lalu beliaupun memastikan bahwa sudah tidak ada lagi celah untuk menghindari pertempuran. Andaikata tentara Makkah dibiarkan terus merangsak ke sekitar kawasan itu, maka akan dapat memperkokoh posisi militer Quraisy. Sekaligus memperlemah dan menimbulkan rasa takut kaum Muslimin. Bahkan tidak ada jaminan tentara Makkah tersebut akan berhenti hingga Badar saja, mungkin saja mereka akan meneruskan perjalanannya ke Madinah, sehingga berakibat peperangan melebar hingga ke pinggiran kota. Maka, seandainya tentara Madinah sampai mundur, hal ini akan menjadi preseden buruk terhadap citra dan nama baik kaum Muslimin.

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” Al-Anfal : 15-16

Lalu Rosulullah mengadakan rapat militer dan meminta saran sahabat-sahabatnya. Al-Miqdad bin Amr, salah seorang muhajirin berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, teruslah maju! Berdasarkan apa yang telah ditampakkan oleh Allah padamu. Kami akan selalu bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa, ‘pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja’ Akan tetapi, pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah! Sesungguhnya kami akan berperang bersama kamu berdua! Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, andai engkau bawa kami menuju Bark Al-Ghimad (ungkapan: sampai keujung manapun) niscaya kami akan berperang bersamamu hingga engkau mencapainya!”

 

Sa’ad bin Mu’adz, golongan Anshar, ia pun berkata kepada Rosulullah SAW, “Sepertinya engkau khawatir bahwa kaum Anshar hanya memandang kewajiban mereka membelamu sebatas dinegeri mereka saja. Dan sesungguhnya aku berkata atas nama kaum Anshar dan menjawab atas nama mereka, ‘Berangkatlah kemana engkau suka, jalinlah hubungan dengan orang yang engkau kehendaki, putuskan hubungan dengan orang yang engkau kehendaki, ambillah dari harta-benda kami apa yang engkau inginkan dan berilah kepada kami apa yang engkau inginkan. Dan apa yang engkau ambil dari kami, kami lebih senang dengannya daripada apa yang engkau biarkan. Apapun yang engkau perintahkan, maka kami akan tunduk terhadap perintahmu. Demi Allah, jika engkau membawa kami hingga sampai Al Bark Min Ghamdan (seperti ungkapan diatas) niscaya kami akan berjalan bersamamu. Demi Allah, jikalau engkau tawarkan laut ini kepada kami, lalu engkau mengarunginya niscaya kami akan mengarunginya bersamamu!”

 

Duhai Muhajirin, kalian adalah sebaik-baik sahabat. Duhai Anshar, kalian adalah sebaik-baik pembela.

 

Adalah musim semi 2012 Masehi / 1433 hijriah, tepatnya Selasa, 27 Maret 2012, saat lepas dari check point Yanbu, lelaki itu langsung membelokan arah mobilnya keluar dari lintasan jalan tol, menuju jalan 340. Itu adalah jalan pintas menuju Badar. Ketika jalanan berubah menjadi satu jalur untuk dua arah, dihatinya mulai muncul getaran. Hatinya mulai dipenuhi gairah baru. Ini jalan seperti jalan akses masuk pedesaan. Ooh ini petualangan baru teriaknya. Jalanan terlihat sepi, tidak begitu banyak kendaraan yang melintas. Pun di kanan kiri jalan tidak banyak pemukiman, yang ada seperti pemberhentian atau tempat istirahat truk-truk pengangkut barang. Getaran-getaran semakin menguat tak kala barisan bukit Badar tampak semakin jelas dan semakin dekat. Ini memang kali pertamanya mengunjungi Badar. Badar Kubra, pertempuran pertama kaum Muslimin yang sangat menentukan itu, mulai membayangi benaknya.

 

Tibalah lelaki itu di ujung jalan, ditemuinya pertigaan, iapun membelokan mobilnya ke arah kiri. Kemudian terus kembali menyusuri jalanan. Kondisi jalanan telah berubah, tampak seperti memasuki celah di antara gunung-gunung. Oh, itu adalah salah satu celah Badar! Celah itulah yang juga dilalui pasukan Makkah.

Bayangan pertempuran badar semakin menari-nari. Ia sudah tidak konsen lagi menyetir. Hatinya dipenuhi gairah yang sangat!
Ya Allah, seandainya aku adalah salah satu yang tengah menghadang pasukan Makkah di penghujung celah ini, batinnya.

***

 

 

***

 

Lelaki itu telah sampai dilokasi pertempuran Badar. Mana? Dimana pasukan Makkah itu? Ya Rosulullah, bagaimanakah kondisimu? Duhai para sahabat, apakah kalian berhasil memenangkan pertempuran? Ini diriku, ingin bergabung bersama kalian. Tapi dimanakah kini para mujahid berada? Oh.. berilah aku petunjuk! Aku ingin bergabung bersama pasukan Badar! Hati lelaki itu terus saja berteriak. Girohnya begitu memuncak! Lalu Ia mencoba mencari jalan memutar. Hingga tiba di sebuah tempat, dimana telah dipagari tembok tinggi sekelilingnya.
Didepan tempat berpagar itu terdapat sebuah papan petunjuk bertulis;  مقبرة شهداء بدر

 

Lelaki itu menghentikan kendaraannya. Lalu keluar dan berdiri lemas, sedikit gemetar, salah tingkah, akibat begitu terharunya ia berada didepan makam para syuhada Badar itu. Kemudian ia menyebrangi jalan didepannya, menuju ke sebuah tugu. Ia berdiri tertegun di depan tugu itu. Di situ tertera nama-nama dari 14 orang syuhada badar. Semoga Allah merahmati mereka semua.
Kaum Muslimin memang memenangkan Perang Badar. Tercatat 14 orang meninggal sebagai syuhada. Sedang dari pasukan kafir Makkah tercatat 70 orang yang mati, dan 70 orang lagi menjadi tawanan.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For Berkunjung ke Makam Ahli Badar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *