Berkah Dekat dengan Syaikhina/ Dekat dengan Guru, Manfaat dalam Ilmu | Drs. Ahmad Syathori, M. Ag

Saturday, May 26th 2018. | Tokoh
Nama                         : Drs. Ahmad Syathori, M. Ag.
TTL                            : Cirebon, 28 Desember 1967
Alamat                      : Blok Karangsari, RT 02, RW 02, Mundu Pesisir, Mundu, Cirebon
Aktifitas Khidmah  : Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Penceramah, Khotib dan Pengisi Majelis Taklim di Masjid Raya at-Taqwa dan masjid-masjid besar sekitar Cirebon.

 

Berawal dari informasi yang diberikan sang kakak sepupu karena kekagumannya akan KH. Ubaidillah Faqih ketika bertemu beliau saat ibadah haji di Mekah, Syathori muda akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Ponpes. Langitan setelah sebelumnya mendapatkan predikat lulus dari MTs NU Buntet Pesantren.

Dengan memantapkan hati, Ustadz Syathori akhirnya berangkat dari Cirebon menuju Tuban pada bulan Sya’ban tahun 1983 untuk terlebih dahulu mengikuti ngaji posoan di Langitan. Sayang, saat itu Langitan sedang sepi. Sehingga Ustadz Syathori memutuskan untuk kembali pulang dan baru kembali lagi ke Langitan pada bulan Syawal.

Dilema dalam Masa Awal Menuntut Ilmu

Sekembalinya ke Langitan, Syathori muda mulai berubah pikiran. Belakangan hatinya berontak ingin melanjutkan studi ke pondok pesantren yang didalamnya terdapat sekolah formal agar ia bisa mendapatkan ijazah. Saat itu, pilihannya jatuh kepada salah satu pondok pesantren di Jombang.

“Disitu saya sekolah mogok. Hampir bolos terus selama tiga bulan karena ingin mondok yang ada ijazahnya. Alhamdulillah, berkat doa Yai Faqih (saya bisa kembali mondok di Langitan, red). Saya dipanggil ke ndalem beliau sampai dielus-elus. ‘Syathori, wis kon iki nang kene ae karo aku’. Ucai Yai Faqih dengan wajah yang berkaca-kaca. Terus saya dikasih minum dan beliau dawuh lagi, ‘Wis Syathori, wis kon iki nang kene ae karo aku. Pindah tah? Nek gak betah, rono, pindah ae nang Darut Tauhid!’ Saya jawab, ‘Mboten yai, kulo pengen sekolah mawon.’ Akhirnya, Yai Faqih berkata, ‘Yo wis, rono sek karo uwamu nang ruang tamu’.” Kenangnya.

KH. Abdullah Faqih lalu mendatangi uwa-nya yang saat itu sedang beristirahat di ruang tamu setelah menyambangi Ustadz Syathori. “Yo wis, Syathori monggo dibeto ten Jombang. Tapi nek Syathori gak betah, monggo mriki maleh kulo nrimo.” Ucap KH. Abdullah Faqih kepada uwa-nya. Akhirnya, saat itu juga, Ustadz Syathori langsung izin boyong dan melakukan perjalanan ke Jombang.

>>>Foto istimewa, kenang-kenangan KH. Abdullah Faqih untuk beliau

Namun tiba-tiba, belum genap satu hari di Jombang, lagi-lagi ia berubah pikiran. Hingga dikeesokan harinya, Ustadz Syathori akhirnya memutuskan untuk pamit dan kembali menuntut ilmu di Langitan.

Beliau kemudian menuntut ilmu di Langitan selama lima tahun hingga 1987 M. Namun meskipun begitu, beliau berharap dapat dianggap santri oleh Yai Faqih dalam masa-masa selanjutnya karena beliau baru pamitan untuk boyong pada tahun 1993 ketika beliau baru lulus dari perguruan tinggi.

“Mudah-mudahan masih dihitung Yai Faqih santri. Soalnya lulus dari MTs, saya izin istirahat karena sakit-sakitan. Kemudian di rumah masuk Aliyah langsung kelas tiga sampai kuliah selesai. Sepuluh tahun kemudian, saya kembali ke Langitan dan matur Yai Faqih lagi untuk mondok seminggu, baru pamitan boyong. Jadi lulus perguruan tinggi itu 93. Kalau dihitung dari 83 sampai 93 berarti sepuluh tahun mondok baru pamit. Alhamdulillah Yai Faqih meridhoi.” Ujar beliau.

>>>Redaktur bersama Drs. Ahmad Syathori, M. Ag

Dekat dengan Syaikhina

Setiap santri tentu berharap agar dapat dekat dengan sang guru. Karena itu merupakan sebuah anugerah tersendiri. Begitu pula yang dirasakan oleh Ustadz Syathori. Kedekatannya dengan Syakhina KH. Abdullah Faqih bahkan melebihi kedekatan santri-santri pada umumnya.

“Alhamdulillah di Langitan saya dekat dengan Yai Faqih. Termasuk orang yang insyaAllah difahami dan dimengerti sama Yai Faqih. Sampai-sampai, Alhamdulillah saking dekatnya sampai bisa mijeti Yai Faqih,  diberi foto (kenang-kenangan, red) sama Yai Faqih langsung dan Alhamdulillah termasuk santri yang direstui menjadi pegawai negeri oleh Yai Faqih. Sampai-sampai kalau saya ada masalah apa-apa, ya konsultasi sama Yai Faqih. Sampai-sampai, masalah keluarga pun konsultasi ke Yai Faqih.” Kenangnya sambil meneteskan air mata dan membacakan Al-Fatihah sejenak untuk beliau.

Kedekatan itu membuat Ustadz Syathori merasa bahwa Langitan sudah mendarah daging di dalam jiwanya. Karena baginya, pondoknya hanya Langitan, tidak ada yang lain.

>>>IAIN Syekh Nurjati Cirebon, tempat beliau mengabdi pada ilmu

Berkah Langitan

Meskipun hanya mondok sampai Tsanawiyah, namun Ustadz Syathori merasakan manfaat dan berkah ilmu yang didapatkan dari Langitan. Terbukti, beliau kerap mengisi kajian di masjid-masjid besar di sekitar Cirebon.

“Alhamdulillah ilmu yang saya dapatkan berkah dan bisa bermanfaat baik untuk diri saya maupun masyarakat. Alhamdulillah saya bisa berkiprah di masyarakat walaupun belum punya pondok atau majelis karena saya belum bisa istiqomah. Banyak yang minta ngaji, tapi karena kesibukan jadi belum bisa fokus. Tapi Alhamdulillah, waktu ngaji juga ada. Saya istiqomahkan majelis taklim di Masjid Raya At-Taqwa Cirebon, masjid Mundu dan masih banyak lagi.” Ujar beliau.

 

>>> Masjid Raya At-Taqwa Cirebon, istiqomah mengisi majelis taklim

Seuntai Pesan

Seperti biasa, sebelum berakhir kami meminta pesan-pesan. Dengan penuh kerendahan hati, beliau berpesan, “(1) Jadilah orang pinter jangan seperti komputer. Karena kalau komputer kan mudah error, kena virus, hang dan perlu di upgrade, kalau orang pintar kan enggak. (2) Jadilah orang pinter, bener, angger. Orang pintar itu susah, apalagi jadi orang bener, jelas lebih susah lagi. Apalagi sekaligus angger (istiqomah) itu lebih susah lagi!” Pungkasnya. (LuthfiAN)

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Berkah Dekat dengan Syaikhina/ Dekat dengan Guru, Manfaat dalam Ilmu | Drs. Ahmad Syathori, M. Ag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *