Berjihad dengan Ilmu

Tuesday, May 21st 2013. | Taushiah

 

4. YAi Muh copy

Oleh: KH. Muhammad Faqih

Islam berawal dari komunitas kecil di daratan padang pasir. Sekelompok manusia yang mendapat petunjuk kebenaran di antara kubangan manusia yang melakukan tradisi yang keliru, sehingga mereka dikenal dengan sebutan kaum jahiliyyah. Mereka biasa menyembah berhala, mengubur hidup-hidup anak perempuan, saling bertikai, dan lain sebagainya.

Kedatangan Rasulullah Muhammad SAW. merupakan babak baru bagi kehidupan jahiliyyah yang gelap-gulita. Merubah tradisi-tradisi yang tidak bermartabat menjadi kemuliaan kehidupan. Dengan bahasa budi dan pekerti, beliau berhasil merubah kondisi itu dalam waktu yang relatif singkat, 23 tahun setelah kerasulannya.

Setelah Rasulullah wafat, beliau diganti oleh para pengganti (khulafa’) yang benar-benar tercerahkan (rasyidin), sahabat Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Tak pelak, kehadiran keempat nama ini telah membawa Islam medapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat sekitar Arab dan sekitarnya.

Islam dibesarkan oleh usaha sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah dalam meninggikan agama Allah. Usaha ini dalam istilahnya disebut sebagai jihad. Para ulama berpendapat bahwa jihad memiliki cakupan yang sangat luas. Setiap gerak yang berpotensi atau menghasilkan keluhuran agama maka itu disebut jihad, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, budaya, ketahanan wilayah (perang), dan lain sebagainya.

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk selalu mengembalikan semua prosedur jihad agar sesuai dengan al-Qur’an. Allah berfirman, yang artinya:

“Janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Quran dengan jihad yang besar”. [Q.S. al-Furqan: 52]

Melihat perkembangan sekarang ini, umat Islam telah jauh tertinggal jauh dengan umat lainnya. Ini sungguh sesuatu yang disayangkan. Jika diperhatikan secara mendalam, itu karena melemahnya ruh jihad generasi sekarang ini. Apalagi jika dibandingkan dengan generasi awal Islam, sungguh sangat jauh sekali.

Umat muslim telah jatuh pada perilaku cinta dunia. Kondisi sekarang ini, umat manusia lebih takut tidak tercukupinya kebutuhan dunia daripada ketidak-cukupan masalah akhirat. Mereka memilih berusaha semaksimal mungkin meningkatkan pundi-pundi dunia daripada melakukan ibadah kepada Allah.

Semua ini terjadi karena ketidak tahuan mereka akan pentingnya masalah agama dan hinanya dunia di mata Allah. Untuk itulah mengapa Allah menyampaikan betapa mulia derajat orang berilmu disisi-Nya. Dalam sebuah ayat, Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya niscaya Allah akan menjadikannya faham dalam masalah agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Ad-Darda` radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَلَكَ سَبِيْلاً يَبْتَغِي بِهِ عِلْماً، سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ. وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتِهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ. وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلًّ شَيْءٍ حَتَّى الْحَيْتَانُ فِي الْمَاءِ. وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاراً وَلاَ دِرْهَماً, إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ, فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa yang menempuh sebuah jalan guna mencari ilmu niscaya Allah akan memudahkan jalannya untuk masuk ke dalam surga. Sesungguhnya para malaikat betul-betul meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena mereka ridha dengan apa yang dia tuntut. Sesungguhnya seorang alim (orang yang berilmu) itu dimintaampunkan oleh segala sesuatu sampai ikan-ikan di lautan. Kelebihan seorang alim di atas abid (ahli ibadah) adalah bagaikan kelebihan yang dimiliki oleh bulan di atas bintang-bintang lainnya. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula perak akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu, karenanya barangsiapa yang mengambilnya (ilmu) maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat besar.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi).

Dari keterangan di atas, jadi jelaslah betapa mulia orang yang berjihad dengan ilmu. Untuk itulah para ulama telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan menyebarkannya. Karena dengan menyebarnya ilmu Allah, maka semakin kuatlah agama Islam.

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Berjihad dengan Ilmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *