Berebut anugrah dan rahasia kenabian di Syi’ib Hud

Sunday, May 5th 2013. | Jalan-jalan, Ziarah

Catatan perjalanan ziarah makam Hud As. di Tarim, Yaman.
Oleh: Agus Mohammad Zahid Hasbullah Munif*

Nabi Hud merupakan salah satu Nabi yang berbangsa Arab selain Nabi Saleh, Nabi Syu’aib dan Nabi Muhammad Saw. Nabi Hud diutus kepada kaum ‘Ad yang merupakan generasi keempat dari Nabi Nuh, mereka tinggal di Ahqaf. Dahulu Hadhramaut dikenal dengan Wadi Ahqaf. Pada bulan Sya’ban banyak dikunjungi orang untuk berziarah, dalam ritual ziarah ini terdapat hal yang menarik dan mengesankan yang sayang untuk dilewatkan. Alhamdulillah, salah satu koresponden Kakilangit berkesempatan meliput secara khusus langsung dari makam Nabi Hud As, Yaman. Kami akan menyajikan data, fakta sejarah serta sedikit pandangan ulama Tarim tentang ziarah Nabi Hud As.

Sejarah Singkat Ziarah Hud As.
Sya’ban merupakan bulan yang mulia dalam Islam. Dibulan ini terdapat malam yang disebut juga malam nishfu Sya’ban, dibulan ini pula dilaksanakan ziarah Nabi Hud as. Menurut riwayat yang masyhur dari kitab-kitab sejarah, bahwasannya makam Nabi Hud As. terletak di lembah Ahqaf, tepatnya di propinsi Hadhramaut, Yaman bagian selatan, yang sekarang tempat ini lebih dikenal dengan nama Syi’ib Hud. meskipun ada riwayat lain yang mengatakan makam Nabi Hud as berada di Palestina (pendapat lemah).

Namun, tidak ada riwayat yang menjelaskan siapa yang pertama kali berziarah ke makam Nabi Hud As. Disebutkan dalam sejarah bahwa nabi-nabi terdahulu sudah pernah ziarah ke makam Nabi Hud As, seperti Nabi Sulaiman dan Dzul Qarnain. Pada masa Jahiliyah, di sekitar gunung tempat makam berada, sering kali dijadikan pasar ketika nishfu Sya’ban. Setelah Islam datang, kabilah-kabilah di Hadhramaut banyak yang mendatangi Syi’ib Hud untuk berziarah. Dan kabilah yang paling banyak berperan dalam kepentingan ziarah ini adalah keluarga Ba’abbad.
Ketika keturunan Imam Ahmad Al Muhajir, kakek buyut dari Saadah Ali Ba’alawy (keturunan Rasulullah Saw yang tersebar di Yaman) mulai tersebar di Hadhramaut, masyarakat setempat mengakui bahwasannya Ali Ba’alawy lah yang pantas menjadi khalifah Rasulullah Saw, sehingga mereka memberikan tongkat kepemimpinan kepada Ali Ba’alawy untuk menjadi pemimpin disetiap aspek keagamaan, di antaranya adalah ziarah Nabi Hud As. Menurut mereka hal itu juga merupakan bentuk dari mematuhi perintah Allah dan anjuran Rasulullah Saw.
Yang pertama kali memimpin ziarah Hud As adalah imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy yang hidup pada abad ke-6 H. kemudian diteruskan oleh putranya dan saudara-saudaranya, dan selanjutnya ranting kepengurusan dilanjutkan oleh keturunan Imam Faqih Muqaddam. Pada abad ke-8, Imam Abdurrahman as-Seggaf meneruskan jejak pendahulunya di dalam memimpin ziarah Hud, bahkan beliau sampai membiayai para peziarah yang miskin guna memberi semangat kepada mereka agar tetap berziarah. Ketika abad ke-9, Imam Ahmad Syihabuddin melanjutkan tongkat estafet yang kemudian diberikan kepada muridnya yang bernama Syekh Abu Bakar bin Salim. Prosesi ziarah dari dua marga ini (bin Syihab dan BSA/bin Syekh Abu Bakar) masih terus lestari hingga saat ini setiap hari ke-10 Sya’ban yang dipimpin oleh munshib (pemimpin suatu keluarga) masing-masing dari keturunannya.

Pada pertengahan abad ke-11 muncul seorang ulama besar yang bernama Imam Abdullah bin Alawy al-Haddad. Beliau mengadakan ziarah khusus pada pagi hari ke-9 yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Pada abad itu pula keluarga Balfaqih memberikan partisipasi yang besar untuk ziarah ini sehingga dalam pelaksanaanya mereka mendapat tempat pertama yang disebut ziarah fath (pembuka). Ziarah ini dipimpin oleh Imam Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih, ulama yang berjuluk ‘Allaamatud dunya. Tak ketinggalan juga Imam Ahmad bin Zein al-Habsyi yang hidup di abad ke-12 mengadakan ziarah pada hari ke-8. Kemudian pada akhir abad 12, Habib Hamid bin Umar Hamid menetapkan ziarah di sore hari ke-9. Begitu seterusnya, sampai saat ini agenda ziarah tersebut masih terus berlangsung. Para habaib dar berbagai marga yang lain pun tidak ketinggalan ikut menyemarakkan kegiatan ziarah tahunan ini. Jarang sekali ditemukan ziarah yang sejarah pelaksanaannya terus berkesinambungan dari masa ke masa seperti ziarah Hud As.

Tertib Ziarah
Sebelum pelaksanaannya, peziarah dipersilakan mandi atau berwudhu di sebuah sungai yang letaknya dekat dengan Syi’ib Hud. Selesai mandi mereka menuju Hashoot syeikh Umar Muhdhar, sebuah bangunan yang sudah diwakafkan menjadi masjid. Di tempat inilah bacaan al-Fatihah, Yasin dan doa dikumandangkan bersama. Dari Hashoot mereka berduyun-duyun menuju Bi’ru at-Taslim sambil terus menyuarakan kalimat Subhaanallah wa al-hamdulillah wa laa ilaaha illa Allahu wa Allahu Akbar. Sesampainya di Bi’ru at-Taslim, jamaah berhenti dan mengucapkan salam untuk arwah para nabi dan malaikat. Setelah itu perjalanan berlanjut menuju maqbarah Nabi Hud As. Sebelum jamaah duduk dan sang munshib memimpin pembacaan surat Fatihah dan Hud, mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw, Nabi Hud As, para nabi lain dan para malaikat sambil berdiri. Jeda Maghrib dan Isya’ digunakan untuk membaca surat Hud dan Ratib al-Imam al-Haddad secara bersama-sama kemudian mereka salat Isya’ berjamaah.

Saat prosesi mencapai puncaknya tanggal 09 Sya’ban pagi, seluruh habaib dari berbagai marga –yang memiliki tartib ziarah di hari-hari tertentu seperti keterangan atas- berkumpul dan berarak-arakan mendatangi makam Nabi Hud As dengan membawa bendera dan tongkat panjang yang ujungnya dipasang Quba’ (semacam topi berbentuk kerucut). Keluarga Balfaqih mendapat kehormatan untuk membuka mata acara ziarah hingga selesai. Selanjutnya mereka beranjak turun menuju Naaqoh (Naaqoh adalah sebuah batu besar untuk bernaung dengan duduk di sampingnya). Mereka berjalan turun dengan terus mengumandangkan dua bait kasidah:
إن قيل زُرْتم بمَا رَجَعْتُمْ * يا سيّد الرُّسْـلِ مَا نَقُـوْل
قُوْلُوْا رَجَـعْنَا بِكُلِّ خَيْر * وَاجْتمع الْفَرْع وَالْأصُوْل

sesampai di Naaqoh, mereka duduk dan memulai jalsah dengan bacaan fatihah, sambil mendengarkan hadhrah (kumpulan shalawat dan kasidah). Saat waktu dirasa cukup, maka salah seorang da’i dari rombongan peziarah berdiri untuk memberikan ceramah kepada hadirin. Setelah itu dilanjutkan oleh keluarga Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad dengan tertib yang sama, disusul keluarga Hamid bin Umar Hamid pada sore hari ke-9. Saat memasuki hari ke-10, maka giliran keluarga Bin Syihab untuk memulai ziarah yang diteruskan oleh keluarga Syekh Abu Bakar bin Salim sekaligus menjadi penutup dari ziarah Hud As. Naaqoh menjadi tempat terakhir, karena setelah dari sini mereka menuju kediaman masing-masing keluarga. Munshib bertugas menyambut tamu-tamu yang datang. Bagi yang berkenan bisa mendapatkan ilbas (seperangkat pakaian seorang ulama yang dibungkus, berbentuk kerucut sepeti topi kurcaci yang dipakaikan di kepala untuk tabarruk).
Pemerintah tetapkan libur 3 hari sebagai penghormatan.

Rasulullah Saw mengatakan bahwa: “Para nabi tetaplah hidup pada makamnya”. Ucapan Nabi ini meneguhkan kepada umatnya untuk selalu menjaga hubungan ruhaniah dengan para utusanNya, memberikan penghormatan layaknya seorang yang masih hidup. Tidak berarti mereka yang telah berpindah ke alam Barzakh sudah habis perkara, akan tetapi sebagai umat Muhammadiyah, kita butuh untuk mengukuhkan hati dengan kembali meneladani sejarah mereka. Sungguh atas kadar rasa ta’dzim dan hormat terhadap Arbab al-ishthifaa’ (orang-orang yang terpilih dari para utusan, nabi, auliya’ dan shalihin), seorang muslim mampu membentengi dirinya dari godaan-godaan dunia, tipu muslihat Iblis dan bala tentaranya.

Ketika musim ziarah datang, penduduk kota Tarim dan sekitarnya serentak menghadiri tradisi yang sudah mengakar ini. Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Yaman saat ini menetapkan libur 3 hari khusus wilayah Tarim ketika tiba waktunya ziarah. Kita tidak akan menjumpai ikhtilath dalam ziarah ini –seperti di sebagian tempat- karena ribuan peserta yang hadir dari berbagai kalangan di Hadramaut dan penjuru bumi lain adalah laki-laki.

Syi’ib Hud dalam pandangan ulama Tarim ibarat sebuah charger (ces batrei) dan para peziarah adalah baterai-baterai yang siap dices untuk mendapatkan tambahan tenaga sehingga performanya untuk menjalani hidup dan beribadah semakin optimal, karena di tempat ini berkumpullah an-nafahaat al-ilaahiyyah wa al-asraar an-nabawiyah (anugerah ketuhanan dan rahasia kenabian). Rasulullah Saw. menyuruh kita untuk selalu menghadirkan diri dalam setip waktu dan tempat turunnya anugerah Ilahi. Pun pula, mereka menghadiri ziarah ini dengan harapan tergolong هم القوم لا يشقى به جليسهم. Sehingga mendapat madad (pertolongan) dari Allah Swt. Wallahu a’lam bi as-shawaab.

*) Koresponden Kakilangit, tinggal di Mukalla, Hadramaut, Yaman

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Berebut anugrah dan rahasia kenabian di Syi’ib Hud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *