Berbicara Islam Sebenarnya Juga Berbicara Tentang Perubahan

Wednesday, May 11th 2016. | Essay

uuu

Berbicara Islam Sebenarnya Juga Berbicara Tentang Perubahan

 

Di lakangan umat Islam sudah sedemikian populer, bahwa Muhammad diutus oleh Allah swt adalah sebagai rasul adalah untuk melakukan perubahan, yaitu perubahan dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat beradab. Gerakan perubahan itu pada awalnya dilakukan terhadap masyarakat Arab, suku Qurais,  di Makkah, selama  13 tahun.  Kemudian atas alasan strategis, ia berhijrah ke Madinah dan membangun masyarakat di tempat baru itu selama 10 tahun, dan ternyata sukses,  hingga akhirnya beliau wafat.

Selama menjadi utusan Allah, ia berjuang melakukan perubahan terhadap masyarakatnya. Ia mengenalkan konsep tauhid, yakni pengakuan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Di kalangan masyarakat Arab,  suku Quraisy ketika itu, masyarakatnya menyembah berhala. Mereka mengakui adanya tuhan, tetapi apa yang disebut sebagai tuhan itu tidak lain adalah buatannya sendiri, ialah berupa patung atau berhala. Nabi Muhammad datang untuk mengoreksi terhadap keyakinan masyarakat yang salah itu, dan menunjukkan konsep ketuhanan yang benar.

Tugas nabi untuk melakukan perubahan itu bukan perkara mudah. Ia harus berhadapan dengan para penguasa dan atau kepala suku yang telah memiliki segalanya, baik kekuasaan, pengaruh, kewibawaan,  otoritas, dan lain-lain dari masyarakatnya.  Apa yang dilakukan oleh Nabi itu, pada awalnya sama halnya dengan meruntuhkan kepercayaan, otoritas, dan kewibawaan para penguasa dan orang-orang kuat di tempat itu.  Oleh karena itu, mereka pasti menentang dan melawannya. Perlawanan dari para pemuka kaum Qurais bukan oleh karena,  Muhammad sebagai orang yang tidak dipercaya, melainkan kegiatannya dipandang akan membahayakan terhadap apa yang telah dimiliki dan dinikmatinya.

Dalam kisahnya, betapa berat apa yang dilakukan oleh Muhammad tatkala berjuang di Makkah bersama dengan beberapa sahabat yang berhasil memeluk Islam untuk melakukan perubahan itu. Perlawanan kaum Qurais pada setiap saat ditujukan kepada Muhammad dan para sahabatnya. Selain memperkenalkan konsep tauhid, yang diperjuangkan oleh Nabi adalah membelahak-hak kaum perempuan, menghilangkan perbudakan, dan lain-lain yang semua itu pasti mengganggu kepentingan kaum penguasa dan orang-orang terhormat di wilayah itu.

Betapa beratnya menghadapi tantangan dari orang-orang yang berkuasadanmerasaterhormat dari kalangan Qurais itu, nabi akhirnya hijrah ke Yasrif atau kemudian nama itu diubah menjadi Madinah. Tantangan di tempat baru, yakni di Madinah masih ada. Akan tetapi, dakwah yang dilakukan menjadi semakin mendapatkan banyak pengaruh. Usaha usaha yang dilakukan ketika itu, di antaranya adalah membangun masjid, mempersatukan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, membuat perjanjian perdamaian dengan kaun Nasrani dan Yahudi, menjaga keadilan di tengah masyarakat, mendorong siapapun agar  mencintai ilmu pengetahuan, memperbaiki ekonomi masyarakat,  memperhatikan anak yatim dan orang miskin,  dan lain-lain.

Selama dalam perjuangan itu, baik tatkala masih di Makkah maupun di Madinah, Nabi Muhammad dipandu oleh wahyu yang  disampaikan oleh Malaikat Jibril. Datangnya wahyu dan diterima oleh Nabi secara bertahap, menyesuaikan dengan tantangan dan kebutuhannya. Misi Rasulullah  di dalam membangun masyarakat beradab,  dalam waktu kurang lebih 23 tahun,  ternyata berhasil dengan gemilang. Hingga kini, masyarakat Madinah dikenal sebagai masyarakat yang ideal dan berperadaban tinggi.

Oleh karena itu berbicara Islam adalah berbicara tentang perubahan masyarakat, ialah dari masyarakat jahiliyah atau disebut sebagai tidak beradab menjadi masyarakat yang beradab. Masyarakat yang dimaksudkan itu adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, seperti misalnya adalah saling menghargai, ada kesamaan derajat di antara sesama, menjunjung tinggi keadilan, menghargai prestasi, ilmu pengetahuan, tolong-menolong di antarasesama, memperhatikan terhadap yang miskin, yatim, dan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Jika Islam dipandang sebagai konsep perubahan menuju peradaban tinggi, mulia, dan agung, maka seharusnya siapapun yang ingin melakukan perubahan, tidak terkecuali bangsa Indonesia sekarang ini, membutuhkan konsep itu. Namun sayangnya, Islam oleh sementara orang,  hanya sebatas dimaknai sebagai tuntunan  ritual dan hal lain yang tidak jauh dari itu, sehingga akibatnya Islam dipandang tidak terlalu relevan dengan hiruk pikuk pembangunan masyarakat. Akibatnya, apasaja yang berkonotasi Islam tidak segera diterima, dan bahkan dianggap sebagai pengganggu kemajuan. Itulah sebabnya, hingga kini masih harus ada upaya-upaya untuk meyakinkan,  bahwa Islam adalah konsep perubahan masyarakat menuju kehidupan yang berakhlak atau berperadaban mulia. Wallahua’lam.

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Berbicara Islam Sebenarnya Juga Berbicara Tentang Perubahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *