Benteng Ahlu Sunnah di Kota Apel

Wednesday, May 11th 2016. | Jelajah Pesantren

10301290_990781030948493_2644303107589070883_n

Benteng Ahlu Sunnah di Kota Apel

Profil Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang

 

Abad 17 dimana KH. Hasan Munadi mendirikan pesantren di daerah Gading Malang, salah satu pesantren tua di Indonesia ini sebagai salah satu lembaga agama yang menjadi benteng spiritual umat, khususnya di daerah Malang. Selama beberapa abad, pesantren yang dikenal dengan nama PPMH Gading telah berjasa kepada bangsa ini, mempertahankan akidah para generasi, melahirkan santri-santri yang menyalurkan ilmu Rasulullah, dari generasi ke generasi.

 

Pondok Gading Preriode Awal

Pesantren Gading Malang (nama awal yang dikenal) didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. Nama Gading yang menjadi trend pondok, karena tempatnya termasuk di kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Nama terakhir (pondok Gading) lebih masyhur dan sepertinya melekat di kalangan masyarakat untuk menyebut pesantren di kota Apel ini.

 

Mengasuh Selama 90 Tahun

  1. Hasan Munadi sebagai perintis dan pendiri pondok Gading dianugerahi umur panjang oleh Allah, selaras dengan anugerah keilmuan dan kemanfaatan beliau menyebarkan ilmu Allah di pondok Gading. Kiai Hasan wafat pada usia 125 tahun dan meninggalkan empat orang putra, KH. Isma’il, KH. Muhyini, KH. Ma’sumdan Nyai Mujannah.

 

Periode Kedua

Pada periode kedua, Pondok Gading diasuh oleh putera pertama Kiai Hasan Munadi, KH. Ismail. Saat membina dan mengembangkan pesantren, Kiai Isma’il dibantu oleh keponakannya, KH Abdul Majid.

Karena tidak mempunyai keturunan, KH. Isma’il mengambil salah seorang puteri KH. Abdul Majid (keponakannya) yang bernama Nyai Siti Khodijah sebagai anak angkat.

Putri angkat Kiai Isma’il ini kemudian dinikahkan dengan KH. Moh. Yahya, salah seorang alumni PPMH yang berasal dari daerah Jetis Malang. Kiai Isma’il wafat pada usia 75 tahun dan mengasuh Pondok Gading selama 50 tahun, setelah sebelumnya menyerahkan estafet kepengasuhan Pondok Gading kepada Kiai Moh. Yahya.

 

Nama “Miftahul Huda”

Yang menarik, ketika pengasuhan KH. Moh. Yahya, nama Pondok Gading menjadi Pondok Pesantren Miftahul Huda. Saat beliau mengasuh, para santri diizinkan menempuh pendidikan formal di luar pesantren.

Sebuah kebijakan sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa pesantren, tujuan utamanya untuk keseimbangan keilmuan dari para santri, seimbang antara ilmu agama sebagai bekal spiritual ubudiyah (akhlak) dan amaliyah (ibadah) santri, ilmu umum bekal para santri agar cakap menghadapi globalisasi, perpaduan ilmu agama dan umum juga dalam rangka untuk mencetak santri yang saleh, alim, dan kafi.

Kebijakan yang beliau pilih pada periode ketiga PPHM ternyata membuat perkembangan pesantren semakin pesat.

 

Membentuk Generasi Berakhlak dan Bertakwa

Sebagai lembaga pembina jiwa taqwallah dan Membentuk insan-insan yang bertakwa dan berakhlak mulia, begitulah visi dan misi Pondok Gading dalam membina para santri dari berbagai daerah. Di samping tujuan mulia lain yang menjadi slogan dan semangat pondok. Yaitu, mencetak kader-kader agama dan bangsa sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik) di masyarakat yang memiliki kedisiplinan tinggi, bertanggungjawab dan berkepribadian luhur dengan bekal ilmu (lisanut maqol) dan amal (lisanul hal). Subhanallah…

 

Filosofi SANTRI

Sebagaimana pesantren salaf di Indonesia pada umumnya, PPMH dalam mendidik mengarahkan para santri untuk meneladani atau mempraktikkan filosofi kesantriannya. Menjadi sosok yang berada dalam lingkaran makna SANTRI, kalau diperinci, setiap huruf mempunyai arti;

Sin: Saalikun Ilal akhirah; Orang yang menuju (berada di) jalan akhirat. Nun: Naaibun ‘anil masyayikh; Para pengganti guru (ulama). Ta’: Taarikun ‘anil ma’ashi; Menjauhkan diri dari kemaksiatan. Ra’: Rooghibun fil khairat; Senang terhadap kebaikan. Ya’: Yarjus salamata fid diini waddunya wal akhirah; Selalu mengharapkan keselamatan di dalam agama, dunia, dan akhirat. Tidak berlebihan ketika alumni lulusan PPMH menjadi teladan dan anutan di tengah-tengah masyarakat.

 

Ala Manhaj Salafusshaleh

Kurikulum Madrasah Diniyah Salafiyah Matholiul Huda (MMH) yang berada dalam naungan PPMH mempunyai tiga tingkatan, 1. Ula (Pendidikan Tingkat Dasar) yang membekali santri untuk mempelajari dasar-dasar keislaman, 2. Wustho (Pendidikan Tingkat Menengah) yang menitikberatkan pada pendalaman Ilmu alat (gramatikal Arab sebagai mediasi para santri memahami kitab kuning), 3. Ulya (Pendidikan Tingkat Atas) yang mengarahkan santri untuk menguasai ilmu fikih dan ilmu falak (hisab).

Komponen pendidikan Islam yang dimiliki Madrasah MMH diharapkan mampu menjadikan santri cukup bekal keilmuannya, penddikan akhlaknya, dan pembendaharaan pemahaman ibadah untuk terus mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah.

Apa yang telah dilakukan Pondok Gading telah menjadi indikasi bahwa pesantren yang terletak di kota dingin ini berkomitmen untuk mencerdaskan bangsa, mencetak generasi unggul, unggul dalam hal karakter keagamaan yang kuat, unggul dalam prilaku akhlak, dan yang terpenting santri atau lulusan PPMH menjadi generasi yang terus membangun bangsa menjadi baldatun tayyibah yang penuh dengan rahmat Allah. Amin.

 

Umar Faruq

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Benteng Ahlu Sunnah di Kota Apel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *