Beberapa Sifat Negatif yang Dominan dalam Diri Manusia

Sunday, July 29th 2018. | Uswatun Hasanah

Termasuk faktor eksternal yang menjadi penghalang dakwah adalah beragamnya sifat manusia. Manusia diciptakan dengan tabiat yang berbeda-beda. Pola pikir masyarakat yang bermacam-macam menjadi tantangan besar bagi orang yang berdakwah.

Al Quran menyebutkan beberapa sifat negatif yang mendominasi diri manusia. Sifat-sifat itu berasal dari orang-orang jahiliyah pada zaman dahulu, namun tidak menutup kemungkinan juga tertanam pada manusia yang hidup setelahnya. Apalagi, banyak orang menyebut zaman sekarang dengan “zaman jahiliyah modern”.

Sudah menjadi keharusan bagi seorang yang berjuang di jalan Allah Swt. untuk mengetahui sekaligus menyikapi sifat-sifat yang dominan dalam suatu masyarakat. Bila kita berdakwah pada orang yang mudah diatur, maka hal itu bukan capaian keberhasilan. Karena, kita sebenarnya belum benar-benar mengajaknya, melainkan hanya menuntunnya. Padahal, aktivitas menuntun lebih mudah daripada mengajak.

Di antara sifat-sifat negatif manusia yang disebutkan dalam Al Quran adalah:

  1. Mengkufuri nikmat

وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ الإنْسَانَ لَكَفُورٌ (٦٦

Artinya: Dan Dialah Allah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu kembali (pada hari kebangkitan). Sungguh, manusia itu sangat kufur nikmat. (Q.S. Al Hajj: 66)

Betapa manusia penuh dengan kenistaan. Bagaimana tidak? Segala urusan yang terjadi selalu saja diukur dengan logika dan kondisi dirinya. Saat menerima kebaikan, mereka mengaku bahwa kebaikan itu lantaran usaha dan doanya. Sedangkan saat memperoleh musibah, mereka larikan musibah itu kepada Allah Swt.  Karena takdir dan kehendak-Nya.

Banyak manusia yang kufur nikmat. Sungguh mereka tidak pernah merasa puas dalam hidupnya. Meski memiliki nikmat sebesar gunung, mereka berharap mendapatkan nikmat sebesar dua gunung. Begitu seterusnya. Manusia telah diberi nikmat tak terhingga, namun terkadang tidak digunakan sebagaimana semestinya.

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Artinya: “Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Q.S. Saba’: 13)

  1. Melampaui batas karena kecukupan

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى (6) أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى (7(

Artinya: “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena Dia melihat dirinya serba cukup. (Q.S. Al ‘Alaq: 6-7)

Orang-orang yang diberi kecukupan dan tidak mendapat hidayah akan merasa sombong dan melewati batas. Lantaran menerima anugerah berupa harta, kecerdasan, ketampanan dan lainnya, orang sukar menerima kebenaran yang kurang sesuai dengan kemauannya. Jika menjumpai orang-orang seperti ini, maka orang yang berdakwah harus memiliki bekal lebih banyak untuk menghadapinya. Sebagaimana Fir’aun, karena mendapat kecukupan dari Allah Swt., dia merasa sombong dan enggan menerima ajakan Nabi Musa as.

Penyebab paling besar manusia melampaui batas adalah harta dan pangkat. Padahal, kecenderungan nafsu terhadap keburukan bisa jadi lebih besar apabila diiringi dengan harta dan pangkat. Hal inilah yang rentan mencegah manusia dari wushul kepada Allah Swt. serta mengakibatkan kerugian.

  1. Suka tergesa-gesa

وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً

Artinya: Dan manusia adalah bersifat tergesa-gesa. (Q.S. Al Isra’: 11)

Dalam ayat ini terdapat dua takwil mengenai objek dari ayat tersebut:

  1. Nabi Adam as. Karena saat ruhnya sampai pada pusar, pandangannya diarahkan pada jasad. Ia merasa kagum dan tergesa-gesa untuk bangkit, akan tetapi tidak kuasa.
  2. Seluruh manusia. Sebab, tak ada satu manusia pun yang tidak tergesa-gesa. Sehingga, meninggalkan sifat buruk ini dinilai baik untuk agama dan dunia.

Imam Fakhurrazi berkata, “Memang yang dikehendaki adalah pendapat yang pertama, namun subtansinya kembali pada pendapat yang kedua. Seluruh manusia diarahkan kepada nabi Adam karena beliau adalah asal dari manusia. Ketika nabi Adam mendapat sifat ini, maka sifat ini juga menetap pada seluruh manusia.”

  1. Mempunyai sifat kikir

وَكَانَ الإنسان قَتُورًا

Artinya: Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Q.S. Al Isra’ :100)

Sudah menjadi tabiat manusia bersifat kikir. Pada mulanya mereka diciptakan sebagai pihak yang membutuhkan. Keadaan ini meniscayakan berbagai sarana guna memenuhi kebutuhannya. Terkadang manusia bersikap dermawan apabila dalam dirinya tersimpan motif dan maksud tertentu.

Manusia bersedia mengeluarkan sebagian hartanya lantaran ingin berburu pujian atau karena janji yang terlanjur diucapkan. Padahal, mengeluarkan sesuatu dengan mengharap gantinya adalah hakekat dari kikir. Sifat asal manusia adalah bakhil. Kedermawanan adalah sifat baru yang perlu dipaksakan, baik demi memperoleh pujian atau pahala.

Apa yang disebutkan di atas adalah sifat-sifat manusia yang termaktub dalam Al Quran. Sebenarnya masih banyak sifat negatif lainnya yang disebutkan dalam kitab suci, namun empat sifat di atas adalah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For Beberapa Sifat Negatif yang Dominan dalam Diri Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *