Bau Busuk di Telinga Sang Penegak Hukum

Wednesday, September 2nd 2015. | Aswaja

Hakim Penegak Hukum

Kisah ini dinukil dari kitab Nashoihul Ibad karangan Syaikh Nawawi al-Banteni. Beliau mengkisahkan seorang Hakim yang terkenal saleh di tengah masyarakatnya. Namun sebuah tragedi pertemuannya dengan seorang pencuri kain kafan mengungkapkan bagaimana sebenarnya seorang hakim tersebut.

Berawal dari kegelisahan seorang Hakim menjelang akhir hayatnya, ketika mengetahui isu yang santer terdengar di seantero masyarakat. Mereka diresahkan dengan adanya kasus pencurian kain kafan mayat yang semakin hari semakin marak. Sang hakim galau, apakah nanti makamnya juga akan menjadi target pencurian kain kafan itu?

Ia  tahu siapa yang biasa melakukan itu semua. Maka dipanggilah tukang curi kain kafan tersebut. Ia berkata; “Aku akan memberimu beberapa dirham sebanding dengan harga kain kafan itu, tapi jangan kau gali makamku” pencuri itu mendengarkan dengan baik perkataan Sang hakim. Ia menyanggupinya.

Si pencuri ternyata tak sungguh-sungguh memegang janjinya setelah hakim itu meninggal dunia. Di benaknya terlintas godaan mencuri kain kafan sang hakim. Istrinya sempat meredam niat buruknya ini, tapi gagal. Proses penggalian kubur pun berlangsung. Dalam aksi nekatnya inilah tukang curi kain kafan mendapatkan pengalaman ajaib.

Telinganya seperti mendengar suara dua malaikat. Ia seolah dibimbing merekam peristiwa yang tak lazim dapat ditangkap indra itu.

“Ciumlah bau kakinya (hakim),” ujar malaikat satu kepada yang lain.

“Tidak ada yang aneh. Dia tidak menggunakan kedua kakinya untuk maksiat.”

Penciuman terus berlanjut pada kedua tangan dan mata. Hasilnya sama. Tak ditemukan kejanggalan karena si hakim mampu menjaga tangan dan penglihatannya dari perbuatan haram. Malaikat lalu mulai memeriksa kedua telinga si hakim. Satu telinga masih luput dari masalah, tapi tidak untuk telinga bagian lain.

“Apa yang kau temukan?” tanya mailakat satu kepada yang lain.

“Sebuah bau busuk.”

“Kau tahu bau apa ini? Ini bau perbuatan si hakim yang cenderung mendengarkan satu pihak ketimbang yang lain dalam penyelesaian kasus sengketa dua pihak. Tiup!”

Begitu tiupan diembuskan, api tiba-tiba memenuhi kuburan. Dan sejak peristiwa itulah pencuri kain kafan mengalami kebutaan.

Syaikh Nawawi tak mencantumkan riwayat secara rinci perihal kisah dramatis ini. Beliau hanya menyebutnya berasal dari cerita sebagian ulama terdahulu. Syaikh Nawawi mengulasnya ketika menjelaskan balasan kehidupan setelah mati.

Cerita di atas setidaknya berpesan bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh sikap tidak adil dalam penegakan hukum tak hanya menimpa pada orang lain tapi juga diri sendiri. Citra positif di mata orang lain sebagai orang saleh tak akan mampu mengapus risiko dan tanggung jawab akibat kebusukan perilaku yang disembunyikan. Bukankah pengadilan sebenarnya justru terjadi setelah kehidupan di dunia ini?. [sumber: Nu Online]

 

 

 

 

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Bau Busuk di Telinga Sang Penegak Hukum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *