Bagaimana Mengatasi Jenuh dalam Rumah Tangga

Tuesday, April 11th 2017. | Keluarga

 

Dr. Halikota *)

Rumah tangga diibaratkan sebagai labuhan dimana seseorang berharap akan mendapatkan ketenangan batin dan kesejahtraan hidup. Dikatakan bahwa dengan menikah seseorang telah menyempurnakan separuh agamanya. Karena itu perlu kiranya seseorang, paling tidak, memiliki harapan untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawadah dan rahmah.

Realitanya, sebelum menikah tidak sedikit orang yang justru minder dan cenderung pesimistis, apakah dirinya mampu mewujudkan keluarga ideal seperti itu? Mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah bukanlah sesuatu yang instan. Ia tidak terjadi begitu saja, namun melalui sebuah proses. Dan untuk menjalani proses ini perlu bekal, baik dari suami maupun istri.

Setidaknya, ada tiga bekal (persiapan) yang dapat dijadikan landasan untuk membentuk sebuah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Pertama, persiapan secara spiritual (ruhiyah). Kedua, ilmu untuk mencapai keluarga sakinah yang bisa diperoleh dari buku-buku bacaan atau konsultasi. Ketiga, persiapan fisik (jasad). Bagi Muslimah, persiapan ini mulai dari yang terlihat sampai yang tidak tampak. ‘Tiga persiapan ini tidak hanya ditujukan kepada mereka yang akan melangsungkan pernikahan, tapi juga bagi keluarga yang sudah menikah.

Sebelum lebih jauh membahas tentang keluarga sakinah ada baiknya kita ketahui lebih dulu, seperti apa sebenarnya keluarga sakinah itu? Sementara kita mungkin membayangkan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang selalu hidup rukun, adem-ayem dan segala kebutuhannya terpenuhi, sehingga tidak ada gejolak sama sekali.

Tentu saja bukan seperti itu gambarannya. Karena keluarga yang “sempurna” semacam itu hanya bisa diwujudkan oleh para aktor dan aktris dalam drama televisi. Lagi pula jika kita renungkan lagi apa enaknya menjalani kehidupan yang lurus dan datar tanpa gejolak semacam itu?

Kita tahu, selama masih hidup dalam dunia ini manusia tidak akan pernah lepas dari persoalan hidup. Karena semua orang hidup pasti punya sangkut paut dengan orang hidup lainnya. Dikatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial dimana kehadirannya tidak bisa hanya tunggal. Ia membutuhkan manusia yang lain dalam upaya untuk melanjutkan kehidupannya. Bahkan jika toh, manusia itu sudah sangat berkecukupan dalam hal apapun, ia tetap butuh orang lain, paling tidak untuk diakui eksistensinya.

Begitu pula, setiap keluarga pasti punya masalah. Dan itu adalah hal yang wajar. Justru jika tidak punya masalah itu yang disebut aneh. Mungkin persoalan itu bersumber dari cemburu, perbedaan karakter, watak atau yang berkaitan dengan ekonomi.

Hanya saja, dalam sebuah keluarga yang sakinah, setiap masalah dapat diatasi dan diselesaikan sesuai dengan tuntunan Alquran dan Hadits Nabi. Alhasil, masalah itu tidak sampai meruncing atau melebar ke mana-mana. Mengutip pesan Rasulullah, pernikahan merupakan penyatuan dua insan — pria dan wanita — yang memiliki watak atau karakter berbeda. Watak atau karakter tentulah ada yang baik, ada pula yang buruk.

Nah, jika yang selalu dilihat oleh pasangan kita hanya keburukan-keburukan saja, pasti akan muncul masalah. ‘Oleh karena itu, Rasul mengingatkan agar setiap pasangan selalu melihat kelebihan dari pasangannya agar masing-masing memperoleh manfaat.

Suami istri memiliki hak dan kewajiban yang harus saling dihargai. Jika istri atau suami lalai menjalankan kewajiban dan sulit diatur, sedangkan pasangannya pun tidak mampu menasihati, mintalah bantuan kepada pihak ketiga seperti konsultan keluarga, atau guru mengaji suami/istri.

Suami atau istri suka marah-marah? Hal ini pun harus segera diatasi. Kalau suasana sudah aman, sampaikan bahwa keluarga kita ini mempunyai visi dan misi. Bagaimana mau membentuk keluarga sakinah kalau marah-marah terus seperti itu.

Di masa Khalifah Umar bin Khatab, ada seorang suami hendak mengadu kepada Umar karena istrinya mengomel terus. Ketika tiba di rumah Umar, pria itu mengetahui bahwa istri Umar juga sedang mengomel, sehingga dia tidak jadi menyampaikan masalahnya kepada Khalifah. Tapi kemudian, Umar memanggil pria tersebut dan mengatakan bahwa istri mengomel itu biasanya hanya sesaat. Penyebabnya, dia jenuh dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari.

Berdasarkan kisah ini para suami seharusnya tidak segan mengajak sang istri refreshing menghilangkan kejenuhan. Tak perlu ke tempat yang jauh atau mahal, yang penting istri senang dan rileks. Kalau istri aktif di kelompok pengajian misalnya, alangkah indahnya jika suami mengantar istri ke tempat pengajian. Tak harus setiap hari. Minimal seminggu sekali, istri tentu akan senang.

*) Pakar Psikologi Keluarga

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Bagaimana Mengatasi Jenuh dalam Rumah Tangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *