Berdakwah, Perjuangan Menuju Titik Keikhlasan

Sunday, December 14th 2014. | Tokoh

dai kita 2

Ballighu anni walau ayah. Sebagai santri selain belajar agama dengan niatan agar bisa melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan syariat semaksimal mungkin, santri juga memiliki tugas lain untuk menyerukan tuntunan agama yang dia peroleh selama nyantri kepada khalayak, agar Islam tetap ya’lu wa la yu’la alaih.

Langitan, sebuah lembaga pendidikan berbasis pesantren salaf yang hampir setiap tahunnya selalu melahirkan santri-santri yang siap untuk diterjunkan di tengah masyarakat guna menegakkan nama Islam. Para santri-santri ini tersebar hampir di seluruh penjuru negeri, bahkan ada yang sampai ke beberapa negeri  tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, kawasan Timur Tengah dan lain sebagainya. Ini tentunya sebagai wujud bahwa santri itu tidak melulu pulang dari pesantren kemudian di rumah hanya sekadar sebagai imam shalat jama’ah di mushola atau masjid saja. Tapi lebih dari itu, tugas mencerdaskan umat pun begitu menanti sentuhan dingin dari para santri ini.

Berdakwah ke Luar Pulau

Di antara santri alumni Langitan yang kini juga sedang berjuang untuk agama Allah adalah Muhammad Muhajirin. Santri yang berasal dari kabupaten Malang ini baru sekitar satu tahun lebih memutuskan untuk berdakwah di luar pulau Jawa, tepatnya di Kepulauan Riau.

Awalnya santri yang dulunya adalah termasuk dari jajaran divisi marketing di majalah Kakilangit yang kini bermetamorfosis menjadi majalah Langitan ini masih ingin kembali ke Langitan pasca kepulangannya karena sakit yang cukup lama ini. Namun karena kebetulan ada tawaran dari seorang teman, yang juga alumni Langitan seangkatannya untuk ikut berdakwah di luar Jawa. Setelah berpikir agak lama, dan tentunya setelah melalui musyawarah antar keluarga, akhirnya Muhajir, begitu dia akrab disapa pun memutuskan untuk menerima tawaran itu.

Perjalanan pesawat terbang sampai kepulauan Riau yang tidak memakan waktu lama, kemudian menempuh perjalanan darat sekitar satu jam membuat Muhajir begitu semakin bersemangat untuk segera sampai di lokasi yang tepat berada di desa Nagaberane, kecamatan Kampar utara, kabupaten Kampar,Provinsi  Kepulauan Riau.

Generasi Pertama

Di sana Muhajir berdakwah di sebuah yayasan pendidikan pesantren yang baru berdiri sekitar  empat tahun berjalan. Pondok pesantren Assalam, tempat Muhajir berdakwah ini baru mengeluarkan satu angkatan alumnus untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah, sedangkan untuk tingkatan Madrasah Aliyah baru satu tahun ini didirikan, sehingga baru ada satu angkatan kelas satu.

Meski tidak sebagai muassis atau pendiri, namun Muhajir masih terbilang ikut sebagai generasi pertama. Karena sebuah lembaga itu akan selalu melewati perubahan dan perbaikan system di tahun-tahun wal berdirinya. Namun di sana seorang alumni Langitan, yang tak lain adalah teman Muhajir yang memberikan tawaran padanya, yaitu Muhammad Najih Arnik adalah termasuk sebagai pendiri, meski dia hanya pendatang, karena keduanya memang berasal dari Jawa Timur.

Sebenarnya waktu pertama kali pondok pesantren Assalam  ini diresmikan, ada tiga alumni Langitan yang ikut meletakkan batu pertama, namun dalam perkembangannya, hanya Najih Arniklah yang bertahan di sana, dan akhirnya mengajak Muhajir untuk turut berdakwah di sana.

Sistem Pendidikan Full Day

Di pondok pesantren Assalam yang memang menyediakan lembaga pendidikan formal MTs dan MA atau setara SMP dan SMA ini mewajibkan semua siswa untuk bermukim atau mondok di asrama-asraa yang telah disiapkan. Sehingga tak satupun siswa yang pulang-pergi atau bajak. Jumlah santrinya saat ini sekitar 500 santri, 300 satri putra dan 200 santri putri.

Kelas dimulai sejam pukul 07.00 WIT sampai sore. Dan dalam kelas itu pelajaran umum dikolaborasikan dengan pelajaran agama dan kitab kuning. Sehingga selama satu hari full para santri ini berada di kelas. Sehingga malam harinya hanya digunakan untuk pengajian-pengajian dan belajar kelompok saja.

Di pesantren ini juga sedang dirintis program tahfidzul qur’an. Sehingga bagi para santri yang mungkin ingin menghafal Al Qur’an bias mendapatkan pengajaran khusus. Dan sebagaimana pondok pesantren kebanyakan di sini juga menyediakan berbagai ekstrakulikuler untuk menunjang kreatifitas dan intelegensi para santri.

Dan Muhajir, juga Najih pun mengkombinasi system pendidikan di sana dengan apa yang ada di Langitan sebagaimana yang mereka dapatkan ketika menimba ilmu di sana. Meski tidak semuanya, hanya beberapa yang mungkin cocok dan bias diterapkan saja.

Kendala Perbedaan Budaya

Muhajir yang menyelesaikan pendidikan di jenjang Madrasah Aliyah Al Falahiyah pada tahun 2009 ini mengaku mengalami kendala ketika harus berdakwah di sana. Di antara kendalanya adalah maslah culture atau budaya yang tentunya tidak bias disamakan dengan pulau Jawa. Sikap, sifat dan perwatakan pun berbeda. Sehingga Muhajir pun harus pandai-pandai bagaimana agar tetap bias menjalankan misi dakwah, dengan tidak merubah prinsipnya juga tetap bias diterima di hati penduduk sana.

Apa lagi ketika dihadapkan dengan orang tua santri yang kebanyakan berfikir bahwa di pesantren anaknya tidak boleh kekurangan suatu apa pun. Sehingga mereka terus memperilakukan ankanya seperti di rumah. Padahal tujuan pengasuh dan para guru adalah bagaimana agar para santri itu belajar mandiri. Namun itu bukanlah sebuah problem yang berarti jika harus dihadapkan dengan semangat dakwah seorang santri seperti Muhajir ini.

Dan satu yang selalu terngiang di hati Muhajir. Ternyata apa yang didapatkannya selama di Langitan semua sangat bermanfaat dan berguna ketika sekarang dia terjun di tengah masyarakat. Mulai keilmuan, kehidupan social, berorganisasi semua sekecil apapun memiliki nilai tersendiri. Sehingga tak ada sedikitpun yang dijalankan di pondok ini yang tidak memiliki arti. Mungkin itulah yang dinamakan barakahnya Langitan. Yang jelas berdakwah biar bagaimanapun kondisi dan keadaannya itu harus tetap berjuang, melawan semua keinginan mencapai titik keikhlasan.

Adi Ahlu Dzikri.

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Berdakwah, Perjuangan Menuju Titik Keikhlasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *