Asal-Usul Menabuh beduk

Sunday, August 26th 2018. | Cakrawala

Pada malam Lebaran, lantunan takbir menggema ke segala penjuru. Umat Islam berlomba-lomba menyebut nama Tuhan dengan penuh khusyuk dan khidmat. Setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan, saatnya mereka menyambut hari kemenangan dengan hati yang bersih dan lapang. Demi menyemarakkan Idul Fitri, tak jarang sebagian kaum Muslimin mengiringi takbir dengan suara bedug yang dipukul berdasarkan irama tertentu. Bagaimanapun, tabuhan bedug menimbulkan semangat membara bagi siapa saja yang ingin meramaikan suasana hari raya.

Bedug merupakan peninggalan nenek moyang yang hingga detik ini masih bertahan. Di berbagai pelosok negeri, bedug dapat dengan mudah dijumpai. Terutama di tempat-tempat ibadah umat Islam, pada umumnya ia diletakkan di bagian depan atau serambi. Kini, bedug lebih berfungsi sebagai penanda masuknya waktu salat. Marbot masjid atau musalla terbiasa memukulnya sesaat sebelum salat wajib ditunaikan. Meskipun fungsinya bisa saja tergantikan oleh alarm, kondisi dan realitas kultural tidak lantas menghapus keberadaannya. Muatan sejarah dan filosofi di baliknya membuat masyarakat sebisa mungkin mempertahankannya.

Lantaran mengajak orang-orang Islam untuk berbondong-bondong mengunjungi tempat ibadah, ditabuhnya bedug memuat syiar Islam. Penabuhan bedug bermaksud mengundang segenap umat Islam untuk segera melaksanakan salat wajib berjamaah. Hal ini berbeda dengan masa silam, di mana bedug kerap digunakan untuk berbagai keperluan. Saat alat komunikasi modern semisal gawai belum ditemukan, masyarakat telah berutang budi pada bedug. Ia berkontribusi besar dalam upaya menyebarkan pesan, baik bagi individu maupun komunitas. Informasi yang bersifat personal maupun publik dapat disampaikan dengan baik berkat adanya bedug.

Alarm Bahaya

Lebih dari itu, bedug menampung usaha menguatkan jalinan atau interaksi sosial. Tak berlebihan jika ia dianggap mampu meneguhkan fondasi komunalisme dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai, prinsip, serta etos kebersamaan dapat diteguhkan lantaran keberadaan bedug. Betapa kentalnya ikatan pertemanan dan kekeluargaan turut dikukuhkan oleh sepotong kayu besar berlubang dengan ujung yang tertutup kulit binatang tersebut. Walaupun dalam konteks ini, terjadi penyempitan peran dan fungsi bedug, akan tetapi eksistensinya tak mungkin dinihilkan. Sumbangsihnya bagi peradaban manusia tidak perlu diragukan. Sejak lama, bedug menjadi medium komunikasi tradisional yang syarat makna.

Dalam taraf tertentu, bedug merupakan simbol dan tanda tentang munculnya suatu bahaya yang mengancam kehidupan manusia. Masyarakat tradisional genap memanfaatkannya untuk menyebarluaskan berita musibah kepada sesama. Dengan memukul bedug beberapa kali, seseorang ingin mengingatkan semua orang untuk segera merespons datangnya bala bencana.

Fakta historis menunjukkan bahwa pernah suatu saat di salah satu desa di kampung Setu, masyarakat setempat memukul bedug dan tanda bahaya lain yang kemudian diikuti oleh desa-desa tetangga. Namun demikian, bedug tidak selamanya identik dengan kesedihan. Di sejumlah tempat dalam perkampungan di Mandailing, masyarakat selalu memasang bedug sebagai medium pemberitahuan mengenai berita suka dan duka. Ini berarti, selain memberitakan rasa sedih, bedug juga menyebarkan kegembiraan.

Tradisi Dugderan

Bedug juga menjadi peranti masyarakat Indonesia mengekspresikan kebudayaannya. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh masyarakat Kauman Kelurahan Bangunharjo Kecamatan Semarang Tengah yang sejak lama mempunyai tradisi “dugderan”. Tepatnya di depan Masjid Besar Semarang yang dibangun pada tahun 1750 tersebut, masyarakat setempat dahulu kala menyelenggarakan kegiatan “dugderan” pada saat menjelang datangnya bulan Ramadhan. Upaya menyambut kehadiran bulan suci diwujudkan oleh mereka dengan menggelar tradisi tersebut.

Konon, “dugderan” berasal dari kata “dug” dan “der” yang tiada lain merupakan suara bedug. Acara “dugderan” semula dimaksudkan selaku sarana berdakwah. Dengan digelarnya tradisi tersebut, masyarakat dapat dengan mudah memperoleh pengetahuan tentang kapan kewajiban puasa dimulai. Dalam konteks inilah, terbukti bahwa masjid merupakan pusat informasi yang cukup terpercaya. Seraya menunggu pengumuman dari penghulu masjid, banyak orang yang datang dari berbagai daerah biasanya beristirahat di sekitar masjid (Hamid Abdullah, dkk, 1987: 21-22).

Seiring berjalannya waktu, “dugderan” berkembang menjadi perantara masyarakat mengais rizki. Tak heran apabila di beberapa titik sekitar Masjid Besar Semarang berdiri toko penjual mainan anak-anak. Dalam buku Tingkat Kesadaran Sejarah Masyarakat Propinsi Jawa Tengah Kotamadya Semarang disebutkan bahwa terdapat barang khas yang dijual pada kesempatan tersebut, yaitu warak ngendok (dalam bahasa Indonesia berarti “badak bertelur”). Mainan ini berbahan kertas berwarna yang dibentuk menyerupai badak berukuran kecil, sedangkan endok atau telurnya berupa telur ayam yang direbus dengan dipoles warna merah. Arak-arakan yang digenapi dengan berbagai bentuk kesenian tradisional bernafaskan islami seperti rebana, terbangan, dan lain-lain, menjadi puncak kegiatan “dugderan”.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Asal-Usul Menabuh beduk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *