Aqiqah, Bukan Sekedar Pesta  

Wednesday, February 18th 2015. | Keluarga

kartun-kambing

Ketika seorang bayi lahir ke dunia, orang yang paling bahagia adalah orang tua. Sebagai manifestasi syukur atas terlahirnya si jabang bayi, agama menganjurkan untuk menyembelih hewan aqiqah (sebagaimana hewan kurban dalam segi kriterianya).

Aqiqah berasal dari kata ‘Aqq yang berarti memutus dan melubangi. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena
lehernya dipotong. Penyembelihan hewan aqiqah dilakukan pada hari ketujuh, yang dihitung dari hari kelahiran bayi atau pada hari kelipatan tujuh (14, 21, dst), meski tidak menjadi masalah jika kita tidak bisa menjaga kesunahan tersebut artinya menyembelih hewan aqiqah bisa dilakukan pada selain tanggal (kelipatan tujuh).

Beberap ulama ahli fiqih mengatakan bahwa hukum aqiqah untuk bayi baik laki maupun perempuan adalah sunah (muakkadah) bagi orang yang berkewajiban memberi nafkah terhadap si anak. Hal ini berdasar pada beberapa hadis sahih di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang anak itu bersama aqiqah (setelah masa kelahiran), sembelihlah untuknya, jauhkanlah ia dari penyakit”. Penyakit di sini maksudnya rambut yang ada di kepala bayi saat dilahirkan. Pendapat lain mengatakan penyakit yang dimaksud adalah kulup kelamin yang harus dipotong ketika dikhitan. [Lihat Sahih Bukhori, hadis nomor 5154]

galeri-foto-kambing-bahel

Ada pula hadis yang diceritakan oleh Imam Turmudzi, Nabi Saw. Bersabda: “Anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Aqiqah tersebut disembelih sebagai ganti dari anak tersebut pada hari ke tujuh kelahirannya, dipotong juga rambutnya dan diberi nama.Makna kalimat ‘digadaikan dengan aqiqahnya’ adalah bahwasanya bayi tersebut tidak dapat memberi syafaat/pertolongan kepada kedua orang tuanya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad dan diperkuat oleh Syihabuddin bin Hajar dalam kitab At-Tuhfah.

Selain tersebut di atas, beberapa hikmah disyariatkannya aqiqah adalah pertama, mengandung makna intrinsik sebagai sarana pendekatan (taqarrub) kepada Allah sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dianugerahkan Allah Swt. karena lahirnya sang anak sebagai keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah Saw. kelak pada hari kiamat.

Kedua, dalam aqiqah mengandung unsur perlindungan dari setan yang dapat mengganggu anak yang terlahir, dan ini sesuai dengan makna hadis, “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya.” Sehingga, anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insyaAllâh lebih terlindung dari gangguan setan yang sering mengganggu anak-anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibnu al-Qayyim, “Bahwa lepasnya anak dari gangguan setan tergadai oleh aqiqahnya.” Dalam arti yang lebih luas bisa bermakna aqiqah merupakan tebusan bagi sang anak dari berbagai musibah. Dengan demikian, semoga ia senantiasa dalam keselamatan.

Ketiga, aqiqah merupakan tebusan utang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari perhitungan. Mengenai hal ini, juga sesuai dengan pendapat Imam Ahmad yang mengatakan, “Dia tergadai dari memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya).” Hal yang demikian memang sangat penting, apalagi bila dihubungkan dengan hadits Nabi Saw. bahwa semua amal akan terputus jika bani Adam meninggal dunia, kecuali tiga hal yang salah satunya adalah doa dari anak salih yang mendoakan orang tuanya.

Keempat, aqiqah memperkuat tali silaturahmi di antara kaum Muslimin atau anggota masyarakat. Di mana dengan adanya aqiqah, orang-orang yang diberi jamuan akan merasa senang dan ini bisa menambah eratnya persaudaraan.

Dengan demikian aqiqah menjadi semacam ibadah yang di samping berdimensi spiritual, juga merupakan ibadah dari umat Islam yang bersifat sosial. Dengan melakukan aqiqah seorang hamba berarti telah berusaha menumbuhkan kesadaran akan tugas-tugas pribadi (hubungan hamba kepada Allah) dan tugas serta peran sosial (hubungan hamba dengan hamba lainnya). Untuk itu tujuan aqiqah tidak hanya terbatas pada pesta makan semata. Akan tetapi esensi dari ibadah aqikah justru lebih luas daripada sekedar pengertian pesta makan.

 

[Mohammad Sholeh]

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Aqiqah, Bukan Sekedar Pesta  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *