AQAD BELAJAR DOSEN VS MAHASISWA

Sunday, April 30th 2017. | Konsultasi

 

Assalamu’alaikum.

  1. Adib yang saya hormati. Saya ingin bertanya masalah kuliah. Jadi begini, dalam setiap semester, di banyak kampus biasanya mahasiswa diwajibkan membayar uang pemrograman oleh pihak civitas akademika, dengan jaminan mendapat jatah belajar (contract study) materi tertentu. Namun pada kenyataannya, pihak Fakultas tidak memberikan jatah sesuai dengan perjanjian awal. Hal ini karena faktor dosen kadang berhalangan, sehingga sampai pada pelaksanaan UAS (Ujian Akhir Semester) banyak materi mata kuliah yang belum tuntas. Yang saya tanyakan, termasuk akad apa antara pihak Mahasiswa dengan Perguruan Tinggi (PT) terkait? Lantas bagaimana menurut perspektif Fiqh, bila pihak Perguruan Tinggi (PT) terkait tidak memenuhi service (pelayanan) yang telah disepakati sebagaimana dalam deskripsi di atas ? dan yang terakhir, dapatkah dibenarkan bagi mahasiswa menuntut ganti rugi, jika dari pihak perguruan tinggi terkait terbukti benar-benar tidak memenuhi kewajiban? Atas jawabannya, saya sampaikan terima kasih. Dan mohon maaf bila terlalu bertele-tele.

Anton, Lamongan, 085748334XXX

 

Jawaban:

Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Saudara Anton yang kami hormati pula. Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan (Syakhsun Ma’nawiy) yang mempunyai misi pendidikan. Dalam Fiqh disebut dengan Jihat ‘Am. Dalam menjalankan misi pendidikan, lembaga PT. membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhannya. Dana yang dibutuhkan dipungut dari murid/mahasiswa yang menuntut ilmu pada lembaga tersebut. Hubungan antara siswa dengan lembaga, berkaitan dengan pembayaran, adalah tergolong pemberian (Hibah) tanpa melalui akad yang mengikat. Hal ini disebabkan :

  • Pihak lembaga tidak mungkin diposisikian sebagai Mu’jir (pihak yang menyewakan jasa pendidikan) karena lembaga sebagai Syakhsun Ma’nawi tidak mungkin mampu melakukannya.
  • Dalam prakteknya, tidak ada kontrak sewa-menyewa antara pihak murid dengan perguruan tinggi pada saat pendaftaran.

Nah, tidak terpenuhinya target pelajaran sebagaimana dimaksud dalam pertanyaan, bisa jadi disebabkan kesalahan pimpinan karena tidak melaksanakan tugasnya menyediakan pengajaran kepada murid/mahasiswa atau disebabkan kelalaian pihak pengajar atau dosen lalai dalam menjalankan tugas sebagai pengajar. Jika tidak terpenuhinya target pelajaran disebabkan kelalaian pimpinan, maka yang berdosa adalah pimpinan. Jika yang disebabkan kelalaian dosen/pengajar, maka tergantung hubungan kerja antara pengajar dengan pihak PT. Atau bila dirinci sebagai berikut:

  1. Apabila hubungan kerja antara pengajar dengan pihak PT tidak terikat dengan kontrak yang mengikat, seperti akad sewa mengajar sesuai dengan jumlah SKS yang ditetapkan PT, maka ketidakhadiran pengajar tidak mengakibatkan dosa pada yang bersangkutan, akan tetapi yang bersangkutan hanya berhak mendapatkan gaji sesuai dengan jam mengajar, kecuali jika disebabkan ada udzur syar’i, maka yang bersangkutan tetap berhak mendapatkan gaji penuh.
  2. Apabila hubungan kerja antara pengajar dengan pihak PT, terikat dalam kontrak sewa, maka kelalaian tanpa ada alasan syar’i berakibat dosa akan tetapi tidak berhak mendapatkan gaji sesuai yang tertuang dalam kontrak. Akan tetapi yang bersangkutan berhak mendapatkan bagian dari gaji yang disepakati sesuai prosentase selisih ujroh misil (gaji pada umumnya) antara yang bersangkutan kerja penuh dan tidak penuh.

Kemudian, dari deskripsi di atas, sekaligus menjawab pertanyaan nomor tiga, bahwa mahasiswa tidak berhak menuntut ganti rugi materi kepada pihak PT, karena tidak terpenuhinya target sebagaimana dimaksud akibat dari kesalahan pengajar atau pimpinan PT yang tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Sedangkan pembayaran yang telah dilakukan oleh mahasiswa tergolong “sumbangan wajib” yang menyebabkan uang yag telah disetor sepenuhnya menjadi milik PT. Di sisi lain, pimpinan dan dosen/pengajar mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan kewajibannya sesuai dengan tugasnya. Oleh karenanya, mahasisiwa dapat menuntut agar pimpinan memenuhi kewajibannya dan pengajar melaksanakan tugasnya. Mahasiswa juga dapat menuntut dosen/pengajar untuk mengembalikan gaji  kepada pihak PT. yang bukan menjadi haknya dan sudah diterima, sebagaimana dalam jawaban di atas.

Referensi: ‘Umairah [2]: 323, Tuhfah al-Muhtaj [6]: 133, Ghayah Talkhish al-Murad min Fatawa Ibnu Ziyad: 194-195, Fatawi al-Kubra al-Fiqhiyyah [3]: 264, Bujairami ala al-Khatib [3]: 215-216/265, Hasyiyah al-Jamal [3]: 558, Bughyah al-Mustarsyidin: 165/173,

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For AQAD BELAJAR DOSEN VS MAHASISWA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *