April Fuller, Masuk Islam Karena Ajarannya Rasional

Friday, August 3rd 2018. | Dunia Islam

Islam merupakan agama kedua terbesar di dunia dan yang paling pesat perkembangannya secara global. Ada sekitar tujuh juta Muslim di Amerika Serikat (AS), empat ribunya berada di sekitar North Carolina. Salah satunya seorang muallaf bernama April Fuller.

April Fuller tertarik pada Islam karena baginya, agama ini paling mudah dipahami oleh akal. “Saya tumbuh besar di lingkungan yang cukup agamis. Jadi, saya percaya Tuhan pasti ada. Kemudian, saya selalu punya rasa ingin tahu yang tinggi. Dan akhirnya saya sadari, saya kurang cocok dengan Sekte Baptist.”

Pada semester kedua, Fuller berkenalan dengan seorang mahasiswa Muslim, Ahmad (bukan nama sebenarnya), melalui sahabatnya. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah akrab. Dalam beberapa kesempatan, Ahmad banyak bercerita tentang Islam. “Saya banyak mengobrol dengannya (Ahmad). Dan, dia semakin antusias menjelaskan Islam. Saya kira, agama ini cukup masuk akal,” kata Fuller.

Menurut April, pemeluk Islam memakai rasio dalam beragama. “Seringkali ketika mendebat tentang Kristen, saya disuruh diam. Dengan Islam, mereka (pemeluk Islam) membolehkan kita untuk meragukannya.” Ucapnya.

Fuller mengutip penjelasan Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) bahwa orang Islam percaya pada Allah yang Maha Esa. Allah adalah zat satu-satunya yang pantas disembah. Umat Islam juga mengimani hari akhir dan masing-masing bertanggung jawab atas perbuatannya.

Berhijab

Sesudah menjadi Muslim, April bergabung dengan Asosiasi Mahasiswa Muslim di kampus Universitas Mississipi, tempatnya belajar. Dia kemudian menjadi ketua divisi perempuan di asosiasi tersebut. Bagi April, dunia kampus merupakan tempatnya yang paling optimal untuk mengaktualisasikan diri.

“Saya sangat sayang dengan semua kawan saya. Mereka begitu memahami saya. Sejak saya bergabung dengan Asosiasi Mahasiswa Muslim, saya belajar banyak tentang Islam.”

Sejak memeluk Islam, April berhenti mengonsumsi minuman beralkohol. Dia juga mulai mengenakan hijab, namun tetap menjadikannya modis. Baginya, memenuhi perintah agama tidak harus menjadikan seseorang ketinggalan zaman. “Saya menemukan kedamaian, sesuatu yang tidak saya peroleh sebelum menjadi Muslim. Saya jadi sadar siapa saya, apa tujuan hidup saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mengerti arti eksistensi diri.”

Beragam Respons

Mahasiswa sastra Inggris ini mengumumkan keislamannya melalui akun Facebook-nya. Tidak lama kemudian, dia kebanjiran surat elektronik dari para sahabat dan temannya. Nada suratnya beragam, mulai dari kecaman hingga apresiasi. Fuller menyadari, sikapnya memeluk Islam pasti memantik banyak tanggapan. Dari teman-teman sebaya, dia kebanyakan mendapatkan respons positif. Namun, dari orang-orang tua, tanggapannya sedikit berbeda. Salah satunya, guru spiritual Fuller pada masa kanak-kanaknya dulu.

“Mengapa pula saya berharap lagi. Kini, saya orang kafir bagimu. Saya pun musuh bagimu. Sangat memalukan, kamu telah berpaling dari cinta Tuhan dan memilih Nabi yang salah, yang mempropagandakan kebencian,” kata gurunya itu.

“Selain itu, ada pula jemaat gereja tempat Fuller terdaftar. Hatiku remuk karena kamu, figur remaja yang saya kagumi, justru berpindah agama.”

Adapun surat yang bernada gembira datang dari sahabat Fuller, Ila (bukan nama sebenarnya). Keduanya memang telah bersahabat sejak kecil. “Aku tahu, banyak orang dan mereka yang mengaku kawan menudingmu karena pilihanmu ini. Aku harap kamu baik-baik saja, sayang.”

Fuller memiliki paman seorang pastor gereja Southern Baptist di Raleigh, kota yang berpenduduk sekitar 1.500 jiwa. Sekte tersebut merupakan yang terbesar di negara-bagian North Carolina. Keluarga Fuller termasuk pemeluk Kristen yang taat beribadah. Sebagai contoh, kakeknya begitu kecewa dengan keputusan Fuller memeluk Islam.

“Beberapa hari setelah aku mualaf, dia (kakek Fuller) mengejekku dengan tuduhan teroris, ‘bangunan apa yang mau kau ledakkan nanti.”

Berbeda dengan kakeknya, ibunya cukup memahami keputusan Fuller. “Ibuku selalu mendukungku agar mendengarkan kata hati. Jadi, tak ada bedanya (sikap ibu) ketika aku memeluk Islam. Ibu kemudian menyesuaikan diri dengan kepercayaanku kini. Mulai dari makanan dan lain-lainnya. Ibu selalu di sampingku, menolongku dengan segala upaya.”

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For April Fuller, Masuk Islam Karena Ajarannya Rasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *