Apa yang Datang Menjelang Musim Hujan

Tuesday, May 1st 2018. | Cakrawala

Baik media cetak maupun daring memberitakan bahwa masyarakat di sejumlah daerah diterpa banjir. Lantaran datangnya musim hujan, air melimpah di mana-mana. Fakta ini menggambarkan betapa besarnya kekuasaan Tuhan. Mengingat, sebelumnya, akibat kemarau panjang, banyak desa dari berbagai penjuru mengalami kekeringan. Para warga mengaku kesulitan memperoleh air, baik untuk bahan konsumsi, aktivitas mandi dan mencuci, maupun keperluan sehari-hari lainnya.

Persoalan kekeringan sebenarnya tidak hanya ditemukan belakangan. Pada masa silam, banyak desa Nusantara yang terbilang kering dan tandus. Salah satu gambaran mengenai hal ini adalah apa yang diabadikan oleh P. Worsley, S. Supomo, M. Fletchert dan T.H. Hunter dalam Kakawin Sumanasantaka Karya Mpu Monaguna: Kajian Sebuah Puisi Epik Jawa Kuno (2014). Dalam buku ini, tepatnya pada Pupuh 28, disebutkan gubahan syair yang menyajikan ironi sekaligus anomali. Betapa di balik bait yang indah tersimpan pemandangan mengerikan:

“Lihatlah di depan Tuan, desa miskin di sepanjang punggung bukit terpencil. Sirih pinang langka di sini, dan tidak dapat didatangkan seketika. Tanah datar berhutan begitu kering dan gersang, tak bisa didiami. Namun dapat diubah dalam pikiran, sehingga bisa menjadi sangat indah.

Kelaparan Massal

Bagi petani, kekeringan merupakan petaka yang sangat ditakuti. Hasil panen tentu tidak bisa dinikmati apabila kemarau panjang meluluhlantakkan apa yang mereka kerjakan selama ini. Beragam tanaman yang sedianya ditukar dengan uang ternyata berubah menjadi onggokan sampah yang tak berharga sama sekali. Pengalaman penduduk di luar Jawa berikut cukup merefleksikan fenomena yang dimaksud.

Data kerusakan tanaman pada tahun 1982 menunjukkan bahwa kebakaran dan kekeringan genap mengakibatkan minimnya hasil panen padi di 5 desa di Kalimantan Timur: Pelawan, Long Segar, Muara Danau, Long Lees dan Melan. Di samping itu, rata-rata proporsi rumah tangga yang ditimpa kerusakan tanaman padi di desa-desa lain berkisar antara 58 hingga 88 %.

Kebakaran dan kekeringan juga menghancurkan produksi buah. Imbasnya, 37 famili dari Desa Long Bleh dan seperenam dari keseluruhan rumah tangganya rela meninggalkan tanah kelahiran demi memperoleh kerja dan bahan makanan. Bencana ini nampaknya memaksa pemerintahan Kutai Kartanegara secara ‘darurat’ mengelola distribusi beras dua kali dalam tiap pekan. Bagi keluarga yang bermukim di desa-desa di tepian Sungai Mahakam, mereka berhak menerima 2,5 kg beras selama satu tahun. Bagaimanapun, emergensi aksi pemberian beras dinilai sangat signifikan dalam upaya mencegah kelaparan massal masyarakat lokal (Herman Hidayat, 2008: 129).

Dalam kitab suci al-Qur’an, musibah kebakaran tercatat dalam surat al-Baqarah ayat 266, sedangkan bencana kekeringan diabadikan dalam surat al-Hadid ayat 20. Adapun kemarau panjang termaktub di antaranya dalam surat al-A’Raf ayat 130.

Pemelihara Kolektivitas

Dalam sejumlah kasus, munculnya musibah kekeringan ternyata tidak dihadapi dengan sikap pesimistis, melainkan justru ditanggapi secara bijak. Selain terbukti gemar merespons situasi personal dengan tegar, orang desa juga mampu mengatasi penderitaan sesama. Perilaku yang ditunjukkan oleh seorang warga Desa Mekar Buana di Jawa Barat barangkali menjadi contoh representatif.

Oleh dermawan ini, beberapa paralon besar sengaja disediakan guna mengalirkan air bersih dari bagian hulu Sungai Cigeuntis. Lantaran air yang berasal dari paralon-paralon tersebut dibagikan ke setiap rumah melalui selang kecil, penduduk yang tidak memiliki sumur akhirnya leluasa memanfaatkannya. Kini, mereka bisa menikmati air bersih tanpa berusah payah berjalan kaki ke sumber air. Padahal, berdasarkan buku Karawang dalam Lintasan Peradaban (2016: 114), saat debit air mengecil pada musim kemarau, penduduk setempat terbiasa mencari sumber mata air di hulu yang cukup jauh dari pemukiman penduduk.

Etos gotong-royong dan kerja sama inilah yang semestinya juga dipraktikkan di tempat-tempat lain. Seiring tak terbendungnya laju modernisasi dan globalisasi yang kerap mendorong manusia untuk memupuk egoisme dan individualisme, orang desa seyogyanya senantiasa mengukuhkan diri selaku pemelihara kolektivitas. Aktivitas gotong-royong dan tolong-menolong sebenarnya dianjurkan dalam agama Islam. Allah berfirman: “… dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (Q.S. Al-Maidah: 2)

Namun demikian, langkah ini saja tidak cukup. Upaya mengimplementasikan prinsip, nilai dan semangat kebersamaan perlu diimbangi dengan hadirnya aktor lokal. Di sinilah perlunya revitalisasi jagatirta yang pernah menjadi bagian dari pamong desa. Bertugas mengatur pengairan ke sawah-sawah, terutama pada waktu air sulit ditemukan (musim kemarau), jagatirta mempunyai andil yang tak mungkin dinihilkan. Jagatirta berperan dalam membagikan air seadil-adilnya, agar konsentrasi air pada sebagian kecil lahan dihindarkan. Berbekal kebijaksanaan, jagatirta mendorong orang desa untuk selalu melakukan intropeksi sekaligus mawas diri.

[Multazam]

Comments

comments

Related For Apa yang Datang Menjelang Musim Hujan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *