Antara Syukur dan Kufur

Thursday, May 17th 2018. | Tasawuf

Setiap saat seorang hamba membutuhkan Sang Pencipta. Karena, di hadapan-Nya, dia merasa tak berdaya. Cara menjadi hamba yang baik adalah dengan mematuhi apa yang diperintahkan dan menjauhi perkara yang dilarang oleh-Nya. Dalam konteks ini, syukur termasuk perkara yang dianjurkan bagi seorang hamba.

Ketahuilah bahwa bersyukur dan upaya menghindari kufur tidak akan sempurna, kecuali dengan mengetahui hal-hal yang dicintai oleh Allah serta hal-hal yang dibenci oleh-Nya. Karena, arti syukur ialah mengimplementasikan perintah Allah Swt. terhadap hal-hal yang di cintai-Nya.

Mengenai hikmah setiap anggota tubuh, seperti perut besar, empedu, jantung, ginjal dan masing-masing urat, yaitu urat syaraf dan sendi, serta apa yang berada di dalamnya berupa rongga lekukan, jerjakan, kemerengan, tipis, tebal dan sifat-sifat lainya, tidak banyak diketahui oleh manusia. Sesungguhnya pengetahuan manusia sangat sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah Swt.

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan hanya sedikit. (Q.S. Al-Isra’: 85).

Jadi, setiap orang yang menggunakan anugerah bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka ia telah mengkufuri nikmat-Nya. Misalnya, seseorang memukul orang lain dengan tangan. Perbuatan ini sama saja dengan mengkufuri nikmat tangan. Karena, sebagian fungsi tangan manusia adalah melindungi diri dari sesuatu yang berbahaya. Dijadikanya tangan adalah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, bukannya justru mencelakai orang lain.

Barangsiapa memandang wajah seseorang yang bukan mahramnya, maka ia telah mengkufuri nikmat mata dan mengkufuri adanya matahari. Karena, aktivitas memandang dinilai sempurna dengan kedua nikmat tersebut. Sesungguhnya kedua nikmat itu dijadikan agar manusia melihat sesuatu yang bermanfaat baginya, baik dalam urusan agama maupun dunia. Ia menjaga kedua nikmat tadi dari sesuatu yang mendatangkan madharat baginya. Maka ia telah memakai dua nikmat itu, pada sesuatu yang tidak dikehendakinya.

Kiranya ini perlu dipahami, karena yang dimaksud dengan “mengetahui asal mula terciptanya makhluk hidup” ialah agar mereka bisa menggunakan kedua nikmat itu untuk wushul kepada Allah. Supaya bisa sampai kepada Allah, maka mereka harus mencintai-Nya dan menjauhkan diri dari tipuan dunia. Bagaimanapun, tak ada kasih saying manusia, kecuali dengan membiasakan dzikir kepada Sang Pencipta. Selain itu, tak ada cinta, kecuali dengan ma’rifat yang diperoleh dengan membiasakan berpikir (tafakkur).

Tak mungkin manusia membiasakan dzikir dan berpikir, kecuali dengan badan yang sehat. Badan tidak akan sehat, kecuali dengan makanan. Makanan tidak akan sempurna, kecuali dengan adanya bumi, air, dan udara. Perihal demikian tidak akan sempurna, kecuali dengan terciptanya langit, bumi dan lain sebagainya.

Semuanya itu berjalan karena adanya badan yang merupakan sarana bagi jiwa. Adapun yang kembali kepada Allah Swt. adalah jiwa muthmainnah (jiwa yang tenang) dengan panjangnya ibadah dan ma’rifah. Karena itulah Allah Swt. berfirman dalam surat Adz Dzariyat ayat 56-57:

 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.”

Setiap orang yang menggunakan sesuatu bertujuan pada selain Allah, niscaya ia mengkufuri nikmat Allah. Sebab, ia telah memanfaatkan nikmat sebagai jalan kemaksiatan.

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Antara Syukur dan Kufur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *