Antara Memerintah dan Mendelegasikan

Tuesday, May 8th 2018. | Keluarga, Konsultasi

Sebagai orang tua kita pasti sering meminta anak-anak melakukan aktifitas untuk membantu kita di rumah. Namun, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk meminta bantuan mereka. Orang tua yang satu mengeluarkan perkataan, “Mas, tolong buang kotoran yang ada di tempat sampah ini ke depan rumah”. Sedangkan orang tua lainnya mengucapkan, “Tiap kali tempat sampah ini penuh, belum ada yang memindahkannya ke depan rumah. Bisakah Mas membantu Mama untuk memindahkannya ke depan rumah setiap kali penuh?”

Dua pertanyaan di atas sebenarnya memiliki tujuan serupa, yaitu dipindahkannya tempat sampah ke depan rumah. Namun, terdapat perbedaan signifikan bagi anak yang melaksanakan masing-masing permintaan orang tua. Permintaan pertama menghasilkan ketaatan anak terhadap perintah kita, sementara permintaan kedua membuahkan tanggung jawab buah hati terhadap tempat sampah yang sudah waktunya dipindahkan. Permintaan pertama berupa perintah, sementara permintaan kedua adalah pendelegasian tugas.

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita sering meminta anak untuk membantu kita. Sayangnya, kita lebih sering memerintah anak daripada mendelegasikan tugas kepadanya. Padahal, beberapa permintaan harus dipenuhi oleh anak setiap hari. Akhirnya, kita terkesan kerap memerintah, cerewet dan selalu menuntut.

Sebaliknya, permintaan yang disampaikan dalam bentuk delegasi akan dianggap oleh buah hati sebagai tanggung jawab baru yang harus dipenuhi. Pada hari pertama pendelegasian, kita memang harus menjelaskan tugas tersebut dan alasan pendelegasian kepadanya. Namun, pada hari-hari berikutnya, kita hanya mengingatkan tugas tersebut dan tidak usah memerintah lagi. Tentu mengingatkan tugas lebih ringan daripada memerintahkan anak untuk melakukannya.

Dari proses delegasi, seorang anak dapat belajar lebih banyak daripada perintah, antara lain yaitu:

  1. Dari pendelegasian baru seorang anak mendapatkan tanggung jawab baru yang harus dilakukan. Kondisi ini akan membangun rasa bangga pada dirinya. Ia merasa bahwa keberadaannya di rumah memberi manfaat bagi orang lainnya. Sementara pola perintah lebih terkesan memberikan beban baru bagi anak.
  2. Anak mempunyai otoritas besar, karena ia melakukan tugas bukan atas dasar perintah tetapi lebih pada sebuah prinsip tanggung jawab tersebut. Sementara pada pola perintah, anak mau bergerak setelah muncul perintah dan dorongan orang tua.
  3. Selain tidak terlalu banyak berbicara tentang tugas anak, orang tua juga tinggal mengingatkan tanggung jawab anak. Berbeda dengan pola perintah, orang tua akan selalu dituntut untuk memerintah anak ketika membutuhkan bantuan.
  4. Dalam jangka panjang, anak-anak yang sering menerima pendelegasian tugas akan tumbuh menjadi mandiri dan mempunyai inisiatif untuk melakukan tugasnya berdasarkan prinsip dan keyakinan. Sebaliknya, anak yang selalu diperintah tumbuh menjadi anak yang selalu menunggu perintah dan kurang pro aktif.

 

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Antara Memerintah dan Mendelegasikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *