Amar bin Yasir Surga menantikan kedatangannya

Monday, May 1st 2017. | Uswatun Hasanah

 

Amar bin Yasir adalah putra dari Yasir dan Sumayyah. Sumayyah adalah sahaya dari Abu Hudzaifah sahabat Yasir. Keislaman keluarga Yasir·termasuk dalam golongan yang pertama, iman mereka mendapat ujian karena siksa dan kekejaman Quraisy.

Kaum Quraisy menyerahkan keluarga Yasir pada Bani Makhzum untuk disiksa. Setiap hari, Yasir, Sumayyah dan Amar dibawa ke padang pasir Mekah yang panas, lalu didera dengan berbagai siksaan!.

Pada suatu hari ketikaRasululiah saw mendatangi keluarga Yasir. Amar memanggil seraya berkata: “Wahai Rasulullah, siksaan kepada kami telah sampai puncaknya.” Rasulullah saw kemudian bersabda : “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan. Shabarlah, wahai heluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah Surga!.”

Ammar bin Maimun mengatakan : “Orang-rang musyrik membakar Amar bin Yasir dengan api. Ketika Rasulullah saw. lewat di tempatnya, beliau memegang kepala Amar sambil berdoa : “Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh ‘Ammar, sebagaimana dulu hamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim…!.”

Siksaan kaum kafirin yang makin kejam tidak membuat Amar dan keluarganya goyah akan keimanan kepada Islam. Keteguhan itulah yang membuat Rasulullah sangat mencintai Amar.

 

Keimanan yang Tangguh

Amar dapat bertahan dari semua siksa yang ditimpakan atas tubuhnya, ia tetap menyebut nama Allah walaupun kekejaman dan kebrutalan kaum Quraisy menyiksa muslimin tambah beringas.

Setelah Rasulullah saw dan para sahabat hijrah ke Madinah, di tengah-tengah Islam mengembangkan dakwahnya, Amar mendapatkedudukan tinggi dan Rasulullah saw amat sayang kepadanya, Rasulullah bahkan sering membanggakan keimanan dan ketaqwaan Amar kepada para shahabat.

Rasulullah saw bersabda : “Diri Amar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya…..!.” Saat terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan Amar, Rasulullah saw. Bersabda:“Siapa yang memusuhi Amar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci Amar, maka ia akan dibenci Allah!.”

 

Teladan

Rasulullah pernah berkata : “Contoh dan ikutilah Abu Bakar dan Umar, ambillah hidayah yang dipakai Amar untuk jadi bimbingan!”

Mengenai perawakan Amar bin Yasir, para ahli riwayat menceritakan :
Amar bin Yasir adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru,seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara.

Amar bin Yasir juga menjadi tentara Islam di pesang Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk  dan perang-perang Islam lainnya. Setelah wafatnya Rasulullah, tentara Islam bertubuh besar ini tidaklah berhenti, tetap melanjutkan perjuangan pasukan muslimin.

Amar bin Yasir selalu berada di barisan pertama pasukan Islam saat menghadapi tentara Persi  dan  Romawi, atau saat memberantas kaum murtad.Amar bin Yasir dikenal sebagai seorang prajurit yang gagah dengan tebasan pedangnya yang tak pernah meleset, ia sebagai seorang Mu’min yang soleh dan mulia dalam mencari rida Allah.

 

Kesederhaan dan Kezuhudan sang Gubernur

Saat pemerintahan Islam masa Khalifah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab,Amar bin Yasir diangkat sebagai Gubernur Kufah dengan Ibnu Mas’ud sebagai·Bendaharanya. Saat itu, Khalifah Umar bin Khattab menulis sepucuk surat berita gembira kepada penduduk Kufah, isi surat itu kurang lebih demikian : “Saya kirim kepada kalian, Amar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai Bendahara dan Wazir. Mereka berdua adalah adalah orang-orang pilihan, dari golongan sahabat Muhammad Saw, dan termasuk pahlawan Badar…!.”

 

Tentara Gagah Berani

Dalam menjalankan pemerintahan di Kufah, Amar bin Yasir menjalankan sistem pangkat dan jabatan politik dengan penuh kesolehan, kezuhudan dan rendah hati. Ibnu Abil Hudzail, bercerita: “Saya lihat Amar bin Yasir sewaktu menjadi Amir di Kufah, membeli Sayuran di pasar,kemudian mengikatnya dengan tali dan memikul sendiri di atas punggungnya untuk dibawa pulang.”

Ketika salah satu penduduk menghinanya: “Hai yang telinganya terpotong!”, Amar bin Yasir yang sang penguasa Kufah itu dengan rendah hati menjawab. “Yang kamu cela ini adalah telingaku yang terbaik.” Amar bin Yasir tertanya bangga dan tidak membalas hinaan itu, kupingnya terpotong saat perang Yamamah, saat itu kaum muslimin menyerbu barisan tentara kaum murtad, pimpinan Musailamah Al Kaddzab.

Putusnya telinga Amar bin Yasir ini, diceritakan oleh Abdullah bin Umar : “Waktu perang Yamamah saya lihat Amar bin Yasir menaiki sebuah batu besar. Ia berdiri sambil berseru: ‘Hai kaum muslimin, apakah kalian hendak lari dari Surga?. Inilah saya, Amar bin Yasir, kemarilah..!.’ketika perang berkecamuk, saya melihatsebelah telinganya telah putus, sedang ia berperang dengan gagah pemberani..!.”

 

Hidup Dengan Kebenaran

Ketika Hudzaifah ibnul Yaman menjelang meninggalnya. Sanak family dan kawan-kawannya yang berkumpul di sekelilingnya bertanya : “Siapakah yang harus kami ikuti menurutmu, jika terjadi perselisihan di antara umat?” Hudzaifah menjawab: “Ikutilah Ibnu Sumayyah (Amar bin Yasir), karena hingga matinya, ia tak akan berpisah dengan kebenaran!.”

 

 

*R. Umar Faruq

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Amar bin Yasir Surga menantikan kedatangannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *