Amal Bukan Tempat Bersandar

Thursday, October 5th 2017. | Tasawuf

من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar pada amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) ketika terlanjur melakukan kesalahan”.

Dalam untaian ini Syaikh Ibnu Athoillah merangkum jawaban panjang dengan kalimat yang singkat. Maka tidak heran jika kalimat seringkas ini banyak memunculkan gagasan hangat ulama tasawwuf untuk mensyarahinya. yang perlu kita cermati adalah beliau mencoba menuntun hati kita agar kembali pada jalur yang benar, yakni meninggalkan harapan-harapan yang menyertai amal. Sebuah pasal yang mengingatkan kita bahwa amal yang telah kita lakukan bukanlah muncul dari dalam diri, melainkan ia sudah menjadi ketentuan Allah, diri ini hanya sebatas media mengalirnya qudrot. Maka tidaklah benar jika amal itu tersisipi harapan agar tercapai apa yang diinginkan, apalagi sampai bergantung pada amalnya. Sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang raja’nya kepada Allah, Lebih-lebih sampai berhenti beramal.

Begitu juga dalam tingkah taat, tidak lantas menjadikannya merasa lebih disisi Allah, semuanya sama, harapan-harapan duniawi tidak terlintas menyertai amalnya. Imam Syarqowi dalam syarhnya menggambarkan harapan itu terkadang berupa ingin masuk surga sekaligus menikmati keindahannya dan terhindar dari siksa neraka. Atau agar bisa wushul kepada Allah namun disertai dengan harapan mampu melihat perkara rahasia yang jarang orang bisa merasakannya sehingga ia mempunyai kemampuan lebih jika dibanding dengan lainnya, agar kasyaf dan lain sebagainya. Itu semua salah besar, sebab muncul dari nafsu ammaroh manusia. Dan ia masih berasumsi bahwa kekuatan melakukan ibadah muncul dari dirinya sendiri bukan dari Allah.

Al-Arif Billah menanggalkan semua itu. Ia beribadah namun tidak berharap nikmat lebih. Ia beramal namun tidak mementingkan nafsunya, karena Ia hanya menginginkan ridho Allah. Hatinya hanya terpikat dengan keagungan Allah. Kadar raja dan khoufnya berimbang. Maka kadar khoufnya tidak akan berkurang karena maksiat, begitu juga sebaliknya, kebaikan yang ia lakukan tidak akan menambah kadar raja.

 

Hakikat Ketuhanan

Subyektifitas Ibnu Athoillah dalam statedmennya ini bukanlah orang yang malas beramal, maka tidak bisa dikaitkan dengan orang yang terlanjur melakukan maksiat, ataupun dalam rangka meremehkan amal. Karena amal adalah jalan untuk menggapai ridho-Nya. Secara logis, tanpa beramal seseorang tidak akan bisa mencapai pembersihan hati. Sedangkan pembersihan hati ini adalah kunci utama menerima keagungan tuhan serta pintu pembuka mahabbah. Bagaimana seseorang bisa mengenal tuhan tanpa tahu keagungan-Nya dan bagaimana bisa begitu dekat tanpa rasa mahabbah?

Ma’rifah tidak diperoleh begitu saja, tetapi melalui pemberian tuhan. Ma’rifah bukan hasil penalaran manusia, tetapi tergantung pada kehendak dan rahmat Allah. Allah hanya akan memberikannya pada seseorang yang mampu menerimanya, tentunya setelah melalui begitu banyak metode pembersihan hati.

Dari sepenggal definisi diatas dapat diketahui bahwa Ma’rifah lebih bersinggungan dengan kontak batin dan dimensi nalar, yang keduanya bisa dimunculkan dari qalb. Qalb selain digunakan untuk merasa juga bisa digunakan sebagai alat berfikir. Karena al-Arif Billah yang dimaksudkan disini adalah orang-orang yang mampu mendalami rahasia pada obyek sirry dengan batinnya, bukan dengan hal yang sifatnya zahir. Karena ketuhanan tidak akan bisa ditemukan kebenarannya jika digali dengan penalaran zahir.

 

Al-Yaqin

Yaqin berarti mengetahui secara mendalam serta perasaan mantap dalam hati. Seorang arif bisa dengan jelas dan sadar dengan keagungan Allah. Ia bisa merasakan bahwa Allah berada dalam hatinya, menggerakkan badannya dan mengatur jalannya takdir, sehingga ia akan menyadari bahwa segala apa yang terjadi, apa yang ia lakukan, bahkan apa yang ia lihat hanya tertuju pada satu, yaitu Allah.

Perpaduan itu secara otomatis akan membawa perasaan yaqin yang kokoh serta kesaksian yang tak tergoyahkan, maka timbuLlah rasa tenang, seimbang antara khouf dan raja, mahabbah dan syahadah. Yang kesemuanya akan bermuara pada dzat yang agung, yaitu Allah Swt.

Comments

comments

Related For Amal Bukan Tempat Bersandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *