Ali Zainal Abidin; Ahli Sujud yang Rindu Surga

Thursday, January 7th 2016. | Uswatun Hasanah

 

images-6

Imam Ali bin Husein a.s. yang lebih dikenal dengan julukan As-Sajjad dan Zainal Abidin dilahirkan di Madinah pada tanggal 15 Jumadil Ula 38 H. atau 5 Sya’ban 38 H dan wafat pada tanggal 12 atau 25 Muharam 95 H.

Beliau menjadi saksi betapa bengisnya prajurit khalifah Yazid bin Muawiyah dalam Perang Karbala. Saat berusia 11 tahun, beliau ikut dalam perkemahan kaum wanita. Beliau menyaksikan bagaimana kepala ayahnya Sayyidina Husain dipancung kemudian kepalanya ditendang oleh para prajurit hingga mereka merasa puas. Beliau juga melihat bagaimana satu persatu keluarganya berguguran.

Tidak cukup sampai di situ, beliau juga hampir menjadi sasaran kekejaman prajurit Yazid bin Muawiyah, jika beliau tidak diselamatkan oleh bibinya, Sayyidina Zainab. Pada waktu itu, perempuan tangguh yang berada di sebelahnya tersebut memeluknya erat. Sayyidina Zainab menangis dan menuntut para prajurit melepaskan anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Para prajurit terketuk hatinya dan membiarkan beliau tetap hidup dan ditawan bersama tahanan lainnya. Tidak lama kemudian para tawanan dipindah ke Damaskus, Syria, dan dipertemukan dengan Khalifah Yazid bin Muawiyah. Mereka kemudian dibebaskan, bahkan diantar pulang ke Madinah.

Kenangan pahit tersebut tidak pernah bisa dilupakan sampai Imam Ali bin Husein beranjak dewasa. Setelah peristiwa itu, beliau seringkali menangis. Bukan karena kematian keluarganya, tetapi lebih pada kekejaman para prajurit itu kepada dzurriyah Rasul, yang semua itu akan membawa mereka kepada kesengsaraan yang abadi kelak di akhirat.

 

Pribadi yang Alim

Sejak kecil, beliau telah menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Keutamaan budi, ilmu dan ketaqwaan, telah menyatu dalam dirinya. Setelah tumbuh dewasa, beliau menjadi pribadi yang alim, terutama dalam ilmu hadits dan fiqih. Beliau menjadi rujukan para ulama’ pada masa itu, ketika mereka mempunyai masalah. Tidak hanya itu, beliau juga kerap meriwayatkan hadits dari ayahnya (Sayyidina Husain), pamannya (Sayyidina Hasan), Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi Saw.).

Setelah beranjak dewasa, Ali Zainal Abidin dijuluki As-Sajjad, karena banyaknya bersujud. Sedang gelar Zainal Abidin (hiasannya orang-orang ibadah) diberikan, karena beliau selalu beribadah kepada Allah Swt. Bila menjelang waktu shalat, maka wajahnya pucat dan badannya gemetar. Ketika ditanya, “Mengapa demikian?” Jawabannya: “Kamu tidak mengetahui di hadapan siapa aku berdiri shalat dan kepada siapa aku bermunajat”.

 

Peduli Fakir Miskin

Salah satu sifat keluhuran budi beliau adalah kepeduliannya terhadap anak yatim, fakir, miskin, serta hamba sahaya. Bahkan hampir dalam setiap malam beliau memikul berkarung-karung bahan makan dan roti. Beliau dengan senang hati membagikannya kepada para fakir miskin secara sembunyi-sembunyi, sehingga mereka tidak tahu makanan itu berasal dari mana. Itu semua beliau lakukan semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah SWT, seperti kata-kata yang selalu beliau bisikkan dalam hatinya: “Bersedekah secara diam-diam akan memadamkan api murka Allah”.

Namun seperti bau harum yang tetap akan tercium keharumannya, kebaikan itu tetap diketahui masyarakat ketika beliau meninggal dunia. Hal ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi seorang dermawan yang menyedekahkan hartanya secara diam-diam. Sebagaimana perkataan penduduk Madinah: “Kami telah kehilangan sedekah secara diam-diam, karena Ali bin Husein telah meninggal dunia”.

Kepada budak pun beliau bersikap demikian, beliau tidak pernah menahan budak lebih dari satu tahun. Ketika beliau membawa seorang budak ke rumahnya di awal atau pertengahan tahun, beliau pasti membebaskannya pada malam hari raya Idul Fitri. Bahkan suatu ketika di malam terakhir bulan Ramadhan beliau membebaskan dua puluh orang budak seraya berkata: “Aku ingin Allah melihatku membebaskan budak-budakku, sehingga Ia akan membebaskanku dari api neraka kelak di hari kebangkitan”.

 

Rindu Surga

Karena kezuhudan dan kealimannya, beliau menganggap dunia hanya sebagai ladang untuk menanam dan mencari keuntungan sebesar-besarnya di akhirat kelak. Itu tergambar dari perilaku beliau sehari-hari, baik dalam ucapan maupun tingkah laku. Semua didedikasikan untuk beribadah kepada Allah SWT. Seperti salah satu kalam hikmah yang beliau ucapkan ketika menasihati orang lain: “Barang siapa yang rindu kepada surga, ia akan bergegas mengerjakan kebajikan dan mengekang hawa nafsunya, dan barang siapa yang takut siksa neraka, ia akan bergegas untuk bertaubat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tidak mengerjakan kembali hal-hal yang haram”.

 

Wafatnya Sang Waliyullah

Untuk kesekian kalinya, anak cucu Rasulullah Saw berduka cita. Ali Zainal Abidin diracuni dan meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H., dan disemayamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam pamannya sayyidina Hasan. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah ilmu, kezuhudan dan ibadah serta kepedulian terhadap fakir miskin.

 

[Wildan Shofa]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , ,

Related For Ali Zainal Abidin; Ahli Sujud yang Rindu Surga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *