Ali Manshur Shiddiq

Friday, April 21st 2017. | Jejak Utama

Ali Manshur Shiddiq

Karyanya Mendunia

 (1921-1971 M)

 

Tidak banyak orang tahu, siapakah penggubah shalawat badar. Karyanya jauh lebih terkenal dari empunya. Ternyata ia bukan hanya ahli bahasa tetapi juga ahli fiqih, sufi, dan peka terhadap kondisi sosial. Demikian cerita singkat tentang KH. Ali Manshur Shiddiq.

 

***

Nadzar yang Tertunaikan

Pada suatu hari, di Selat Bali terjadi musibah. Air laut telah menerobos masuk dan menggenangi kabin perahu. Kepanikan menyebar seperti bisa ular menjalar di lorong nadi. Semua orang cemas dan berebut naik ke dek paling atas untuk memakai pelampung yang disiapkan dan mencari selamat sendiri-sendiri. Para awak dan beberapa penumpang yang tersisa bahu membahu mendorong motor dan mobil muatan jatuh ke dasar laut. Karena nyawa manusia lebih utama dari benda-benda itu.

  1. Ali Manshur ada di antara penumpang kapal yang nahas itu. Seperti yang lain beliau juga telah mengenakan jaket pelampung, berdiri di satu sisi dek dengan cemas. Tapi bukan semata-mata keselamatan dirinya yang beliau timbang. Karena beberapa waktu kemudian awak kapal naik ke atas dan menyeru kepada semua orang untuk membuang barang-barang bawaan ke laut, karena sekali lagi manusia lebih penting. Kiai Manshur, yang kala itu dalam perjalanan setelah menyelesaikan pendidikannya di pesantren menjadi semakin cemas. Beliau memang tidak membawa emas atau perhiasan berharga dalam kopornya, melainkan puluhan kitab hasil mondoknya selama ini. Bagi beliau, yang telah merasakan betapa beratnya mencari ilmu, kitab-kitab itu tentu tak ternilai harganya. Maka dengan sangat terpaksa Kiai Manshur melepas “kekasih-kekasihnya” itu dilarung dan terkatung-katung di lautan lepas.

Sampai beberapa waktu setelah peristiwa nahas itu beliau masih belum bisa rela. Sesekali masih terlihat air mata menggenang di sudut mata beliau. Namun, apa yang sudah terjadi memang tidak mungkin ditarik kembali, sementara hari depan masih panjang dan terlalu sayang untuk hanya dihabiskan dengan melarat-larat dalam penyesalan.

Peristiwa itu sendiri pada akhirnya dipahami sebagai salah satu tonggak terpenting dalam kehidupan beliau. Sebab, kehilangan besar itu mendorong beliau menetapkan sikap baru yang, kita tahu, telah mengantarkannya pada maqam tertentu di hadapan Allah Swt dan sesama manusia di akhir hidupnya. Beliau bernazar, setelah menunaikan ibadah haji, akan membeli puluhan kitab yang hilang itu dan mengaji-ulang semuanya, meski itu berarti memakan waktu seumur hidup.

Beliau diangkat menjadi pegawai negeri sejak tahun 1950, sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Banyuwangi. Dan pada tahun 1959 dipindah-tugaskan ke kota Mojokerto. Setahun kemudian, Beliau akhirnya dapat menunaikan ibadah haji. Tentu saja bukan dengan biaya sendiri. Karena kebetulan waktu itu beliau ditunjuk oleh kementrian agama menjadi pembimbing jamaah haji.

Maka, sesuai dengan nazar yang pernah beliau ucapkan, sejak tahun itu beliau mulai banyak mengurangi, bahkan sama sekali meninggalkan segala kegiatan di kantor. Sebagian besar waktu beliau dihabiskan untuk berkeliling dari satu kota ke kota lainnya untuk menimba ilmu dan kadang-kadang menyampaikan ceramah agama. Mungkin karena itu pula sejak tahun 60-an itu beliau tidak lagi mau menggunakan uang gaji dari pemerintah. Setiap kali memperoleh gaji beliau bagi-bagikan kepada bawahannya.

Sejak kecil Kiai Manshur memang diajarkan untuk hidup sederhana dan tidak menggantungkan hatinya terhadap persoalan duniwi. Sejak remaja beliau sudah tidak mendapat sokongan biaya dari orang tua. Karena, kita tahu, abahnya adalah kiai majdhub (orang yang lupa duniawi karena senantiasa mengingat Allah). Perwalian atas beliau diambil-alih oleh pamannya, dan untuk sekedar membantu, beliau membiayai pendidikannya sendiri dengan cara berjualan tempe dan kadang-kadang kacang goreng.

 

Ringan tangan

Dalam urusan zuhud ini, kita akan mendengar banyak sekali cerita yang mencengangkan tentang beliau. Salah satunya terjadi di Glemor, Banyuwangi. Pada suatu malam, sepulang dari kantor beliau menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar ruko untuk membeli lontong. Salah satu kebiasaan beliau adalah selalu membawa oleh-oleh ketika pulang ke rumah. Di depan pertokoan itu beliau melihat lelaki berbaring layaknya seorang gelandangan. Lelaki itu mengenakan kaos dan sarung yang acak-acakan.

Beliau memperhatikan lelaki itu dengan sekasama, dan kemudian mengenalinya sebagai salah satu pengurus NU Glemor. Beliau langsung menegur dan menyeru agar lelaki itu untuk membenahi sarungnya yang acak-acakan.

“Tidak pantas pengurus NU berpakaian seperti itu,” kata beliau yang kemudian mengajaknya pulang.

Kiai Manshur tentu saja merasa heran karena sebelumnya lelaki itu dikenal sebagai seorang pengusaha sukses yang konon sampai memiliki 14 truk.

“Saya sudah bangkrut, Kiai. Rumah, mobil semuanya terjual. Istri saya pulang ke rumah orang tuanya,” lelaki itu menangis sesenggukan di hadapan Kiai Manshur.

“Sudah, sudah, jangan sedih begitu…” Kiai Manshur masuk ke dalam bilik dan sebentar kemudian membawa kopor berisi sejumlah uang yang sekarang kira-kira senilai dua ratus lima puluh juta. Tanpa ragu-ragu beliau menyerahkan kopor tersebut.

“Apa ini, Kiai…?”

“Gunakan sebagai modal usaha. Sudah, sekarang kamu jangan menyerah dan mulai dari awal lagi,” katanya sambil membimbing lelaki itu bangkit dan mengantarkannya sampai ke pintu.

Meskipun begitu murah hati dan seperti tidak punya pertimbangan dalam menyalurkan uangnya, beliau tidak pernah kekurangan secara finansial. Karena segala sesuatunya seperti telah diatur dengan rapi dan selalu ada ketika beliau membutuhkan.

 

Ahli Fiqih yang Sufi

Pernah suatu kali, bersama putranya, kiai manshur melakukan perjalanan menuju banyuwangi karena sebuah urusan dakwah. Dari Tuban, Beliau membeli dua karcis bus untuk jurusan surabaya dan tak ada lagi uang tersisa. Namun, di terminal Lamongan beliau tiba-tiba berdiri dan mengajak putranya turun untuk melaksanakan salat duhah di masjid. Pada waktu itu terminal Lamongan masih berada di dalam kota dekat dengan alun-alun dan masjid agung. Tentu saja anak itu menjadi bingung dan tak habis pikir. Karena tidak mungkin supir bus akan bersedia menunggu cukup lama sampai mereka selesai salat. Tapi bocah itu tidak berani membantah, ia hanya diam dan menuruti apa perintah abahnya.

Namun, peristiwa yang mereka alami di masjid agung itu kemudian akan selalu diingat oleh sang bocah sampai kapanpun, sekaligus mengentalkan kekaguman, bahwa abahnya bukan manusia sembarangan. Setelah selesai salat dan baru beberapa langkah berjalan bapak dan anak itu dihadang beberapa orang yang telah berkumpul di serambi masjid. Mereka semua segera menyalami Kiai Manshur dengan penuh takzim dan menyilakan beliau untuk duduk. Salah satu dari mereka mendekat dan menyodorkan beberapa pertanyaan. Rupanya para lelaki itu adalah santri-santi kauman yang baru saja melaksanakan bahtsul masa’il dan mengalami kebuntuan untuk beberapa masalah.

Bocah itu menyaksikan sendiri dan tak lepas mengagumi, bagaimana abahnya kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan itu satu-persatu, bahkan dengan mudahnya menyebutkan nama-nama kitab rujukan, lengkap dengan nomor halaman dan paragrafnya. Sepontan dan seperti tanpa berpikir sama sekali.

Setelah itu mereka berdua dibawa untuk mampir di rumah salah satu santri dan dipersilakan menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Dan tentu saja ketika akhirnya berpamitan para santri itu berebut memasukkan amplop berisi uang ke saku Kiai Manshur. Tapi, lagi-lagi, bukannya langsung menuju Banyuwangi, beliau meluangkan waktu semalam lagi untuk menginap di kantor PWNU Surabaya. Di sana, beliau mengundang teman-temannya untuk makan bersama. Maka habislah sejumlah uang pemberian santri-santri itu. Tapi, sekali lagi melihat apa yang dilakukan abahnya, bocah itu tidak lagi bingung dan heran seperti sebelumnya.

 

[Atk & Latif]

 

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Ali Manshur Shiddiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *