Akar Majapahit di Makam Syekh Jumadil Kubro

Thursday, December 17th 2015. | Cakrawala

makam syekh jumadil kubro

Trowulan, kota yang menghidangkan pesona Majapahit. Ingatan tentang perjalanan kami ke kota metropolitan tersebut begitu membekas. Panas udara terasa membakar ubun-ubun. Sesampai di sana, kami berhenti sejenak. Rencananya, kami akan meluncur ke makam setelah matahari terbenam. Ini dilakukan agar kami bisa bertawassul tepat di depan makam Syekh Jumadil Kubro. Pada waktu itu, kebetulan para pengunjung mulai berkurang.

Banyak situs yang bisa ditemukan di kecamatan Trowulan, Mojokerto. Namun yang paling ramai adalah situs makam Islam kuno. Di sinilah bersemayam Syekh Jumadil Kubro, pembawa angin baru Islam di tengah kerajaan Majapahit pada abad kedelapan. Tampak banyak sekali traveler dan rombongan zairin di depan makam ulama besar ini. “Sangat disayangkan kalau sudah sampai di mojokerto tapi tidak mengujungi berbagai wisata edukasi yang terbilang saling berdekatan,” tutur salah seorang warga Mojokerto.

Sebelum sampai di makam, kami melewati beberapa situs peninggalan Majapahit, antara lain Kolam Segaran yang menghampar bagaikan laut. Merupakan kolam kuno terbesar di Indonesia, luasnya mencapai tujuh hektar. Dulu, kolam ini dipercaya sebagai tempat raja menjamu para tamunya dari mancanegara.

Bila dilihat dari kanan jalan, kolam ini tampak seperti laut. Emperan terbuat dari batu bata yang disusun rapi. Kolam ini ditemukan pada tahun 1926 M. oleh Henry Meclaine Pont. Saat itu, kondisinya masih tertimbun tanah. Setelah beberapa kali mengalami perbaikan, akhirnya kolami ini tampak lebih baik. Oleh seba itulah, masyarakat setempat menjadikannya sebagai objek wisata dan tempat memancing ikan.

Ada juga Candi Bajang Ratu yang merupakan gapura terbesar pada masa Majapahit. Mengenai penamaan candi tersebut, banyak versi yang beredar. Bajang menurut bahasa berarti kecil. Nama tersebut dihubungkan dengan Raja Jayanegara yang dinobatkan sebagai raja saat masih berusia muda. Raja kedua majapahit ini menjadikan  Bajang Ratu sebagai jalur masuk kerajaan dari belakang. Setelah ia wafat, candi ini dibuat jalan masuk ke bangunan suci untuk memperingati kematiannya.

.

Komplek Makam Islam Kuno

Sesampai di lokasi, kami melihat sebuah batu besar bertuliskan Makam Troloyo di Desa Sidodadi, Kecamatan Trowulan. Sang juru kunci, Arifin menuturkan, Troloyo terdiri dari dua kata, sentra yang berarti tegal atau tanah lapang dan laya yang berarti rusak atau mati. Tempat ini berisi makam para pedagang Islam yang menyebarkan agama kepada masyarakat Majapahit. Dari luar, komplek terlihat begitu luas dengan cungkup besar. Para pengunjung yang melewati gerbang masuk silih berganti. Di luar komplek,  mereka sudah disambut oleh para penawar jasa atau tukang ojek dengan upah seikhlasnya.

Tujuan awal peziarah adalah makam Syekh Jumadil kubro yang menjadi jantung komplek tersebut. Namun melihat komplek yang begitu luas, tak sedikit dari mereka yang berdo’a di makam-makam sekitarnya. Seperti makam Syekh Maulana Ibrahim, Syekh Maulana Ishaq, Syekh Abdul Qadir Jaelani, serta Sunan Ngudung yang merupakan besan Raden Fattah. Sunan ngudung inilah yang diminta oleh Raden Fattah untuk mengislamkan Majapahit dan akhirnya terbunuh di sana. Juga ada petilasan walisongo yang menjadi tempat singgah walisongo dalam berdakwah.

Di utara masjid terdapat dua makam panjang yang disertai sebuah cungkup, yaitu makam Raden Ayu Anjasmara Kencana Wungu. Juga ada makam dengan sebutan makam pitu. Pada nisan makam pitu ini tidak memuat nama, hanya ada tulisan tahun wafat dan kalimat thoyyibah denga ukiran kombinasi Islam dengan Hindu.


Museum Majapahit

Kebesaran Majapahit menjadi inspirasi para sejarawan untuk terus mengungkap kebenarannya. Trowulan yang dipercaya menjadi ibu kota Majapahit menjadi bahan eksploitasi untuk menggali semua yang berkaitan dengan kesuksesan kerajaan besar tersebut. Guna merekam kedigdayaan Majapahit inilah didirikan Museum Majapahit.

Lokasi museum berada di sebelah kanan dekat dengan kolam segaran. Museum ini sering digunakan bahan studi para guru sejarah serta anak didiknya. Bagaimanapun, berbicara tentang sejarah Indonesia, mengungkap kerajaan besar merupakan keniscayaan. Semua arkeologi dan peninggalan-peninggalan Majapahit bisa kita jumpai di museum ini. Setidaknya dengan melihatnya, kita bisa merasakan dan  membayangkan  bagaimana kehidupan orang-orang terdahulu.

Museum ini pertama kali dibangun pada tahun 1927. Dua orang yang berperan besar dalam pendiriannya adalah seorang arkeolog berkebangsaan Belanda, Henry Maelaine Pont dan Bupati Mojokerto saat itu, yaitu Adipati Aria Teramadjaja Adi Negara. Di sana, kita dapat mengunduh semua informasi mengenai Majapahit. Museum ini bisa dikatakan sebagai miniatur Majapahit. Pemerintah setempat berusaha menjadikannya bukan hanya sebagai museum, melainkan juga tempat edukatif dan kreatif.

Koleksi museum terbagi menjadi tiga kelompok. Ada yang berasal dari tanah liat berupa alat-alat produksi seperti cangkir, ceret dan alat-alat rumah tangga. Ada juga koleksi berupa keramik China dan Veitnam yang berbentuk teko, guci, dan vas bunga. Di samping itu, didapati juga mata uang kuno. Museum ini akan terus dikembangkan guna memberikan inspirasi bagi mereka yang datang.

musium

Sang Syekh Giat Berdakwah

Nama beliau adalah Syekh Jamaluddin Husein Akbar. Tak diragukan lagi, beliau termasuk keturunan Nabi Muhammad Saw dari garis Sayyid Husein. Syekh Jumadil Kubro dikenal sebagai bapak dari para wali. Beliau memiliki tiga putra yaitu Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi), Maulana Iskha’, dan seorang wanita yang dipersunting pangeran Raja Rum.

Bersama putra-putranya, beliau datang ke Indonesia melakukan ekspansi Islam. Para pejuang itu terbagi menjadi tiga, beliau bersama anggotanya menuju tanah Jawa, Sayyid Ibrahim dan rombongannya ke Kota Gresik. Adapun Maulana Ishak ke Aceh.

Selain berdagang, beliau juga memprioritaskan berdakwah. Tempat singgah pertama beliau adalah Demak. Namun selanjutnya beliau mendekati kerajaan Majapahit dan berdiam di Trowulan. Saat itu, Majapahit dipimpin oleh Raja Tribuwana Wijaya Tungga Dewi.

Beliau berjuang mengislamkan penduduk Majapahit. Pada waktu itu, dala hati mereka tertancap keyakinan pada leluhur dan benda-benda yang dianggap suci. Beliau mendekati para pejabat dengan lembut. Pelan tapi pasti, beliau tiupkan angin Islam di telinga mereka. Berkat kelembutan dan keramahan, beliau dan pengikut Islam lainnya dapat diterima dengan baik.

Kala itu, masyarakat Majapahit terbagi menjadi tiga, yaitu masyarakat asli beragama Budha dan Hindu, masyarakat pendatang Islam dari Timur Tengah, dan pendatang dari Tionghoa. Perjuangan terus beliau lakukan hingga akhirnya beliau wafat pada tanggal 15 Muharram 797 H.

[Muslimin Syairozi]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Akar Majapahit di Makam Syekh Jumadil Kubro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *