KH. Ahmad Basyir; Kenceng Pada Putra Sendiri, Welas Terhadap Santri

Monday, November 10th 2014. | Wawancara

Ahmad Basyir Wawancara Eksklusif dengan KH. Ahmad Badawi

Pagi itu setelah Tim reportase majalah Langitan ziarah ke pesarean almaghfurlah KH. Ahmad Basyir di komplek pemakaman Jekulo, Kudus, Jawa Tengah. Tim pun berkesempatan sowan langsung kepada salah satu putra simbah Basyir, KH. Ahmad Badawi, di kediamannya untuk wawancara ekslusif.

 

Di Mata Para Putra, Bagaimanakah Sosok Mbah Basyir?

Mbah Basyir adalah sosok seorang Bapak yang sekaligus guru. Beliau selalu memberi contoh teladan bagi putra-putra beliau, santri dan juga masyarakat luas. Dan anak di mata beliau adalah penerus, yang tidak terlalu di manja. Anak-anak beliau semua juga ngaji bersama para santri, beliau tidak pernah mengekang keinginan putra-putranya, tentu saja keinginannya harus jelas.

Selain itu, Mbah Basyir juga benar-benar memperhatikan pendidikan putra-putra beliau. Semua putra-putra beliau harus mondok, tak lain agar ada yang melanjutkan perjuangan beliau. Dulu, waktu KH. Baidlowi kecil, sebagai seorang anak yang memiliki prestasi di bidang akademis mendapat tawaran beasiswa dari guru-gurunya untuk melanjutkan study formalnya, tapi Mbah Basyir tidak berkenan, karena putra beliau harus mondok di pesantren, sebab tidak ada yang mampu melanjutkan perjuangan di pesantren, kecuali seseorang yang pernah ngaji di pesantren.

 

Bagaimana Mbah Basyir Mendidik Putra-putranya?

Mbah Basyir lebih tegas kepada putra-putranya ketimbang  santri-santri, itu karena beliau memegang teguh wasiat Sang Guru; Nek karo anakmu seng kenceng, neng karo santri seng welas, kalau mendidik anakmu yang tegas, tapi kamu harus penuh kasih sayang terhadap santri. Hal ini dulu membuat para putra merasa cemburu karena sang ayah lebih disiplin kepada putra-putranya.

Dan dalam mendidik putra-putranya, Mbah Basyir tidak pernah memerintahkan sesuatu kepada anak-anaknya, beliau lebih menggunakan pendekatan teladan dan hikmah, semata-mata mbah Basyir tidak ingin menyinggung perasaan putra-putranya, tapi bagaimana anak-anaknya tergugah dan sadar akan kewajibannya.

Begitu juga kepada para santri, tak ada kewajiban-kewajiban, sebab menurut beliau mewajibkan perkara yang tidak diwajibkan syari’at itu bahaya. Sunah ya sunah, karena kesunahan itu untuk meraih fadilah, sehingga orang yang tidak pernah melakukan kesunahan, berarti kurang fadilahnya. Selalu pendekatan hikmah yang digunakan, sehingga dengan sendirinya orang akan lebih tergugah dan sadar akan kewajibannya sendiri, tanpa unsur paksaan dan tekanan. Seperti dalail al khoirot, Mbah Basyir tak pernah mewajibkan santri-santrinya, beliau hanya berpesan; sopo seng enome riyalat, tuane bakal nemu derajat, siapa yang masa mudanya riyalat (tirakat, puasa, wiridan, dll.) maka di masa tuanya akan menemukan derajat mulia. Dengan begitu, siapun yang masih memiliki akal sehat akan berpikir, bagaimana agar bisa menjadi sebagaimana yang didawuhkan Mbah Basyir.

 

Keseharian Mbah Basyir?

Sebagaimana kebanyakan kiai, keseharian beliau mengajar ngaji para santri, menemui tamu-tamu, bercengkrama dengan anak cucu, mutola’ah. Mbah Basyir sering mengajak putra-putranya untuk musyawarah bersama, entah beliau pura-pura ada masalah agar putranya mau musyawarah, beliau tak segan menanyakan penyelesaian sebuah masalah tersebut kepada para putra. Hal itu sebagai pembelajaran bagi kami (putra-putra Mbah Basyir), bahwa meskipun nanti kita adalah kiai besar, kalau toh memang kita tidak bisa dan menuntut kita untuk bertanya pada orang lain yang kebetulan bisa, walaupun dia anak kita, santri kita, tidak perlulah malu atau sungkan.

 

Selain Dalail al Khoirot, Apa Keistiqamahan Mbah Basyir Lainnya?

Mbah Basyir sangat menghormati guru-gurunya, penghargaan kepada para guru begitu besar. Pagi, selepas jama’ah Subuh, Mbah Basyir selalu menyempatkan diri untuk ziarah ke pesarean sang guru, Mbah Yasin, yang letak pesareannya dekat dengan kediaman beliau, karena memang pesantren tempat beliau nyantri pada Mbah Yasin dekat dengan kediaman beliau.

Dari Mbah Yasinlah sanad Dalail al Khoirot diperoleh Mbah Basyir. Dan karena Mbah Basyir yang begitu teguh memegang prinsip dari sang guru, beliau pun mengistiqamahkan Dalail sampai beliau wafat. Dan dari keistiqamahan beliau ini pula, Dalail al Khoirot selalu identik dengan Mbah Basyir, pondok pesantren Darul Falah, Jekulo, Kudus.

 

Apakah Beliau Mewajibkan Dalail Kepada Para Santri Darul Falah?

Beliau tak pernah mewajibkan. Hanya saja beliau berpesan kepada para santri akan pentingnya riyalat (tirakat), dan salah satunya adalah dengan Dalail, puasa dan lain sebagainya. Sehingga Dalail itu sudah semacam tradisi, ciri khas di sini (PP. Darul Falah), selain juga jama’ah, puasa, ngiring jenazah, manaqiban Syeikh Abdul Qadir Jaelani.

Mbah Basyir juga sangat suka berziarah, baik kiai-kiai a’yan (yang masih hidup) maupun yang ghoiru a’yan (sudah wafat), sehingga dulu saya (KH. Baidlowi kecil) sering diajak sowan-sowan para kiai, tapi tradisi kiai mengajak sowan-sowan anaknya sekarang mulai punah, sehingga yang kebagian barakah cuma orang tuanya yang kiai saja.

Adi Ahlu Dzikri & Syarif Hidayat

 

Ahmad Basyir

 

Comments

comments

tags: , , ,

Related For KH. Ahmad Basyir; Kenceng Pada Putra Sendiri, Welas Terhadap Santri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *