Abdullah Ibnu Rawahah, Syair-Syairnya Pengobar Semangat Di Medan Perang

Wednesday, March 12th 2014. | Uncategorized, Uswatun Hasanah

iranjihad3llAbdullah ibnu Rawahah adalah sahabat dari kalangan Anshor yang mengikuti Bai’ah Aqobah  Ula dan Bai’at Aqobah Tsani. Abdullah ibnu Rawahah juga dikenal penjaga stabilitas Islam di Madinah atas tipu muslihat Abdullah bin Ubay pimpinan golongan kaum munafik yang mencoba menghancurkan Islam.

Ibnu Rawahah adalah penulis dari kalangan Madinah yang terkenal dengan kepiawaian syair dan sastranya. Semenjak memeluk Islam, kemampuan bersyair ia gunakan bagi kejayaan Islam. Bahkan, Rasullullah menyukai dan sering meminta ibnu Rawahah untuk membuat dan membacakan syair-syairnya.

Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, Nabi meminta Ibnu Rawahah membacakan syairnya. Ibnu Rawahah mengucapkan syairnya :

Wahai putera Hasyim yang baik,

sungguh Allah melebihkanmu dari seluruh manusia.

dan memberimu keutamaan,

di mana orang tak usah iri.

sungguh aku menaruh firasat baik

yang kuyakini terhadap dirimu.

Suatu firasat berbeda dengan pandangan hidup mereka.

Seandainya anda bertanya, meminta pertolongan mereka

memecahkan persoalan mereka

tiadalah mereka hendak menjawab atau membela

Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang Anda bawa

Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa.

Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya: “Dan engkau pun akan diteguhkan Allah”.

iranjihad,Slogan Perang

Setiap pasukan muslimin terjun ke medang perang, Abdullah ibnu Rawahah menyenandungkan semangat jihad bala tentara Islam dengan syair-syairnya. Ia terjun ke medan perang membawa pedangnya di Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syair dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan :

Wahai diri!

Seandainya engkau tidak tewas terbunuh,

tetapi engkau pasti akan mati juga!

Abdullah ibnu Rawahah juga menyorakkan teriakan perang, membakar semangat pasukan muslimin :

Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya.

Menyingkir kamu setiap kebaikkan akan ditemui Rasul-Nya

Syahid di Muktah

Rasulullah mengutus Abdullah ibnu Rawahah sebagai panglima di perang Muktah. Sebelum pasukan Islam itu berangkat meninggalkan Madinah, Ibnu Rawahah berdiri tegak lalu mengucapkan syairnya :

Yang kupinta kepada Allah

Ampunan dan kemenangan di medan perang

setiap ayunan pedangku memberi ketentuan

Bertekuk lututnya angkatan perang syetan

Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan

Mati syahid di medan perang..

Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan tak terhingga…

pukulan pedang atau tusukan tombak,

yang akan membawanya ke alam syuhada berbahagia…

Ketika ada kegetiran di pasukan Islam saat melihat jumlah besar pasukan Romawi di medan Muktah, Ibnu Rawahah berdiri di antara barisan pasukan lalu berucap : “Kawan-kawan sekalian! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah tidak mempengaruhi mereka, melainkan karena mempertahankan  agama  kita, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah!. Ayohlah kita maju! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah!!”

Kaum Muslimin berteriak:  “Sungguh, demi  Allah,  benar  yang dibilang Ibnu Rawahah.. !” pasukan muslimin maju menghadapi 200.000 tentara Romawi pimpinan Heraklius. Dalam perang Muktah, pimpinan perang pertama adalah Zaid bin Haritsah, kemudian Ja’far bin Abi Thalib, disusul Abdullah ibnu Rawahah, tiga pimpinan perang ini secara bergantian memegang bendera Islam dan gugur sebagai syahid di medan perang.

iranjihad5

Airmata dan Senyum Rasulullah

Saat pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’  di Syam (perang Muktah), Rasulullah Saw sedang duduk beserta para shahabat di Madinah membicarakan perang. Tiba-tiba Nabi terdiam, kedua matanya basah berkaca-kaca. Beliau mengangkat wajah dengan mengerdipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh karena rasa duka dan belas kasih. Seraya memandang sekeliling, ke  wajah  para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau kemudian berkata : “Panji (bendera) perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur hingga gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula.” Rasulullah terdiam sebentar, lalu ia bersabda : “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur  bersama panji itu, sampai akhirnya ia·pun syahid pula.”

Rasulullah diam seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu bersabda : “Mereka bertiga diangkat ke tempatku di syurga.”

Perjalanan manalagi yang lebih mulia

Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia

Mereka maju ke medan laga bersama-sama

Dan mereka naik ke syurga bersama-sama

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Abdullah Ibnu Rawahah, Syair-Syairnya Pengobar Semangat Di Medan Perang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *