Abdullah bin Adlan Pengibar Bendera Dakwah di Basis Kristen

Friday, May 13th 2016. | Wawancara

IMG_1317 [Lebar Max 2400 Tinggi Max 1800]

Abdullah bin Adlan

Pengibar Bendera Dakwah di Basis Kristen

 

Awal 1987, seorang tauladan besar, Syaikhina KH Abdullah Faqih, pernah memanggil salah satu santrinya. “Abdullah, kowe tak kuliyahno nak Jakarta”. Selang beberapa hari perintah itu gugur karena feeling kedua pihak yang tidak baik setelah mereka istikhoroh. Santri itu kemudian meminta izin mondok di KH. Fadhol Senori. Sebulan berjalan di pondok Senori santri tersebut dipanggil lagi menghadap Syaikhina di Langitan. “Abdullah, mbesok Mujab (putera Syaikhina) ape melok mondok ambi awakmu, mbesok tak terno”. Selama tiga tahun santri tersebut menimba ilmu di Senori, dan bersiap membuka medan dakwah yang menikam.

 

Beliau adalah KH. Abdullah bin Adlan. Lahir di Wonokerto, Dukun, Gresik. Tidak ada yang tahu tepatnya tanggal kelahiran beliau. Beliau sendiri hanya mengetahui tahun kelahirannya yaitu pada tahun 1965. Sejak kecil KH. Abdullah sudah dibesarkan dengan akhlaqul karimah oleh kedua orang tuanya, yakni Adlan bin Yasin dan Hj. Maimunah. Tidak disangka putera ketuju dari empat belas bersaudara ini bisa nyantri di Langitan. Awalnya beliau yang masih duduk di bangku MI di Madrasah Miftahul Ulum Gresik, hanya ingin ikut-ikutan ke pondok bersama saudara sepupunya setelah  pulang liburan dari Langitan. Sampai beberapa bulan di Langitan beliau malah tidak mau diajak pulang sewaktu dijemput oleh kedua orang tuanya. Akhirnya ia pun resmi menyantri di Langitan.

Tepatnya pada tahun 1997 beliau awali perantauan ilmunya di bangku kelas 2 Ibtida’iyah. Meski masih dalam usia kecil beliau bisa menjalani hidupnya di pesantren dengan mandiri. Baginya yang terpenting dalam mondok disamping ngaji adalah berkhidmah. Beliau menambahkan bahwa santri seharusnya senantiasa manut sama Kiai. ”jangan sampai seorang santri menyakiti hati Kiai dan Guru. Bagai manapun caranya seorang santri harus bisa mendapatkan ridlo mereka”, ungkapnya.

Setelah dari Langitan tepatnya tahun 1987 KH.Abdullah muda melanjutkan nyantri di KH. Fadhol Senori, Tuban (guru Syaikhina KH. Abdullah Faqih) bersama dengan Agus Mujab Faqih. Sampai pada Tahun 1991, beliau kemudian dipanggil oleh Yai Faqih (panggilan beliau kepada Syaikhina) untuk dikirim ke Pujon, Malang dengan tujuan membantu Kh. Ihya’ Ulumuddin membuka pesantren.

Pesantren Sebagai Induk Dakwah

Darah dakwah tidak bisa berhenti mengalir di tubuh KH. Abdullah. Semua perjalanan hidup yang beliau lalui hanya dihabiskan untuk berkhidmah dan berdakwah. Hal itu juga yang membuatnya merasa bersyukur menjadi santri Yai Faqih. Beliau mengungkapkan ada keistimewaan tersendiri dari santri Langitan. Diantaranya adalah santri Langitan dapat diterima dakwahnya dimasyarakat dari berbagai lini dan latar belakang.

Setelah hampir selama setahun KH Abdullah di Pujon melakukan dakwah dengan berkeliling, beliau kemudian melanjutkan roda dakwahnya dengan mendirikan pesantren di dusun Bondo desa Wates kecamatan Wates Kediri. Berjalan setahun di daerah tersebut, beliau sudah punya jadwal pengajian rutin dan berpindah pindah dari kampung ke kampung. beliau juga sering kali mendapatkan undangan ceramah di berbagai tempat.

Akan tetapi beberapa waktu kemudian beliau mendapat panggilan dari KH Abdullah Faqih. “Abdullah, nek sajake wong-wong wes kenal karo awakmu, kowe wes gak usah nekani pengajian-pengajian”, dawuh Yai Faqih. Alasanya karena jika beliau sudah terjun dalam pengajian-pengajian umum, maka tidak akan bisa lagi mengurusi pondok. Sejak saat itu KH. Abdullah selalu menolak apabila diundang untuk mengisi pengajian. Tentu saja perintah guru baginya adalah harga mati.

Meski demikian pengasuh pondok pesantren Tarbiyatun Nasyi’in (Al Minhaj) itu tidak begitu saja membiarkan masyarakat sekitarnya kekeringan akan ilmu agama. Sebagai gantinya setiap santrinya yang sudah mampu diwajibkan untuk berdakwah di masyarakat sekitar. Bahkan tak sedikit dari orang-orang yang biasa mengikuti pengajian minta untuk dikirimi da’i. Hebatnya, semua itu dijalani tanpa bayaran. Bagi beliaiu, di daerah tersebut dakwah bisa diterima itu sudah untung. Semua tidak lain karena daerah tersebut merupakan daerah  basis Kristen. Hal itu bisa dilihat dari setiap desa di kecamatan wates yang hampir semuanya berdiri bangunan gereja. Bahkan ada diantaranya yang berdiri 4 sampai 5 gereja dalam satu desa. KH. Abdullah mengungkapkan bahwa di daerahnya sangat-sangat membutuhkan para da’i.

Meski di daerah Kediri sendiri banyak berdiri pesantren, namun sebagian besar santri-santri yang datang adalah dari luar kota Kediri. Banyak masyarakat awam yang masih belum bisa membaca al-Qur’an, begitu juga bacaan-bacaan shalat seperti Fatihah dan tahiyat. Pada akhirnya peluang itu diambil oleh orang-orang LDI dan Wahabi. Beliau mengatakan bahwa memang sasaran empuk dari mereka adalah masyarakat Nahdliyin. Banyak masjid NU yang akhirnya jadi masjid LDI, bahkan ada yang asalnya ketua ANCAB NU jadi aktifis Wahabi.

Dari Ancaman Sampai Fitnah

Sudah barang tentu setiap medan dakwah pasti ada ribuan rintangan yang siap membendungnya.  Tak lepas dari bendera dakwah yang beliau kibarkan di daerah wates, disitu sudah hadir musuh-musuh yang begitu getol berupaya untuk menjegal dakwah beliau. Semuanya bahkan pernah beliau alami, mulai dari ancaman, gugatan, sampai fitnah dari masyarakat sekitar.

Pernah suatu ketika KH. Abdulllah dituntut oleh warga sebab dianggap meresahkan masyarakat. Penyebabnya hanya kerena beliau menjelaskan kepada mereka tentang tidak bolehnya orang islam mengikuti perayaan natal. Saat itu juga para warga ramai mempersoalkan perihal tersebut. Meski demikian apa yang beliau lakukan rupannya juga menuai hasil. Setahun berikutnya ketika natal tiba suasana menjadi tidak seramai sebelumnya. Penjual kartu natal pun mengucapkan selamat kepada beliau karena kartu natalnya tidak laku.

  1. Abdullah juga pernah suatu ketika di datangi oleh seorang Kiai yang ingin memastikan apa saja yang diajarkan dipesantren beliau. Setelah dijelaskan semuanya, Kiai itu akhirnya merasa lega. karena sebelumnya ia banyak mendapat kabar dari masyarakat kalau KH. Abdullah adalah penyebar aliran sesat. Kiai itu pun semakin percaya setelah tahu bahwa KH Abdullah adalah alumni Langitan. Ia mengungkapkan bahwa beliau memang benar-benar banyak cobaannya. Kasus semacam ini tidak hanya sekali dua kali saja di alami oleh KH Abdullah. Bahkan berbagai macam bentuk fitnah bertubi-tubi datang menimpa beliau. Semua itu hanya dibiarkan berlalu begitu saja oleh KH. Abdullah. Baginya mengurusi santri lebih penting dari pada menanggapi tuduhan masyarakat.

Sahal Yasin & Saifudin Amin

 

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Abdullah bin Adlan Pengibar Bendera Dakwah di Basis Kristen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *