Abah Anom – Pengayom Masyarakat tempat Matahari Terbit

Wednesday, August 1st 2018. | Pemikiran

K.H. A Shohibulwafa Tajul Arifin atau biasa dikenal dengan Abah Anom adalah sosok yang sangat arif. Mayoritas tamu yang datang kepada beliau dengan maksud menyampaikan pelbagai permasalahan hidup pulang dengan perasaan lega. Beliau selalu memberikan solusi-solusi terbaik bagi siapa saja yang didera masalah.

Pintu rumah Abah Anom selalu terbuka bagi siapa pun. Tak heran jika banyak orang merindukannya, meski beliau sudah wafat. Mereka sangat rindu dengan wejangan dan nasihat yang diberikan oleh Abah Anom yang senantiasa mampu menyirami kegersangan hati umat.

Menurut Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Guru Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam Majalah Sinthoris 10/2017, “Saya sering mengamati Abah Anom melayani tamu-tamunya yang berkonsultasi datang silih berganti mengadukan ragam masalah kehidupan. Abah seakan tidak kenal lelah mampu melakukannya dengan nyaman dan tenang. Tamu yang datang pun puas dan memperoleh jawaban atas masalah yang dialaminya.”

Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya menjadi saksi bagaimana putra K.H. Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad tersebut benar-benar membuka diri bagi orang-orang yang datang dari berbagai penjuru Indonesia hingga mancanegara. Saking banyaknya, jumlah santri beliau tak terhitung. Mereka yang menuntut ilmu kepada beliau bukan hanya santri Pesantren Suryalaya, namun juga orang-orang yang telah ber-bai’at kepada beliau secara langsung maupun melalui perantara.

Memuliakan Tamu

Siang-malam Abah Anom selalu menerima dan menghormati tamu. Pernah suatu ketika sepasang suami-istri yang berumur lanjut datang kepada beliau dengan membawa sebungkus rengginang hitam. Mereka menginginkan Abah Anom untuk mencicipi jajanan buatan mereka. Betapa bahagianya keduanya saat melihat Abah Anom bersedia mencicipi. “Eh, raos pisan (enak sekali),” kata beliau sambil mengunyah sekaligus menikmati makanan ringan tersebut.

Lalu beliau memanggil sang istri, “Mi! Kemari ambil sarung dan samping.” Tak berselang lama, istri beliau memberikan sarung dan amplop sebagai ongkos perjalanan tamu. Setelah semua hajat disampaikan, tamu tadi segera berpamitan.

Rengginang yang sempat ditelan oleh Abah Anom kemudian diberikan kepada khadam-nya. Nih habiskan.” Ujar beliau. Khadam beliau segera memakannya. Tidak disangka, rengginang tadi ternyata sangat keras dan susah digigit. Kejadian ini menunjukkan bahwa Abah Anom bermaksud agar setiap tamunya tidak merasa kecewa. Sungguh sikap yang mencerminkan betapa mulianya akhlak beliau.

Ada cerita lain yang menarik. Saat beliau masih dalam keadaan sehat, ada tamu yang membawa mobil. Rupanya ia adalah seorang pejabat. Abah Anom menyuruh khadam beliau untuk menanyakan maksud kedatangan tamu tadi. Kemudian khadam beliau menyampaikan maksud tamu tadi kepada Abah Anom baru kemudian dipersilahkan. Berbeda jika tamu tadi orang biasa atau mereka yang datang dengan berjalan kaki, Abah Anom selalu mempersilahkan langsung untuk pergi ke madrasah. Abah Anom menerima dengan telaten dan mendengarkan kelah-kesah mereka tanpa lelah.

Dakwah dengan Kelembutan

Pangersa Abah selalu menggunakan bahasa yang halus dan lembut saat menyampaikan dakwah, misalnya dengan ucapan “Alangkah baiknya kalau…” atau memakai perumpamaan. Bahkan, kepada keluarga beliau juga menggunakan bahasa yang halus dan “enak didengar”. Untuk menjadi pribadi yang luhur, baik dalam berpakaian, beribadah, maupun dalam hal-hal lainnya, mereka senantiasa diberi kesempatan dan keleluasaan.

Beliau mempunyai pertimbangan tertentu sesuai dengan kepribadian anggota keluarga. Bahkan, mereka diberi waktu untuk mendewasakan diri agar mampu memecahkan berbagai persoalan sekaligus menggali potensi diri. Tak heran apabila hingga sekarang putra-putri beliau memiliki kepercayaan diri yang besar dalam menyelesaikan bermacam problematika kehidupan. Mereka bahkan mampu berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial.

Abah Anom selalu menanamkan nilai kejujuran dalam lingkungan keluarga. Dari sikap inilah lahir komunikasi yang baik di antara mereka. Misalnya saat hendak bepergian ke Suryalaya dengan tujuan mengikuti acara manaqib, beliau selalu membicarakannya dengan keluarga: siapa di antara mereka yang ingin turut menyertai kepergian beliau.

Capaian Prestasi

Kasih sayang beliau kepada umat sangat luar biasa. Melalui Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah (TNQ), Abah Anom membimbing masyarakat untuk lebih dekat kepada Alllah Awt. dengan banyak membaca dzikir. Tausyiah-tausyiah beliau menjadi rujukan dalam pelbagai persoalan baik agama maupun ranah kehidupan lainnya.

Selain itu, kontribusi beliau sebagai pengayom masyarakat tidak perlu diragukan. Abah Anom genap menerima penghargaan selaku Pelopor Swasembada Pangan dan Pemberdayaan Ekonomi (1961), Distinguished Service Awards oleh International Federation of Non-Government Organisations (IFNGO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (2009), dan Kalpataru (1980). Capaian prestasi ini merupakan wujud dedikasi beliau dalam ikhtiar mensejahterakan masyarakat.

Beliau juga menyediakan tempat rehabilitasi bagi kaum pecandu narkotika, remaja nakal, orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan, serta mereka yang kerap melanggar perintah Allah. Pendekatan yang dilakukan bernama metode Inabah, yang sekarang telah dipraktekkan di berbagai daerah cabang dari Pesantren Suryalaya.

Semoga kita bisa meniru cara Abah Anom meluapkan kasih sayang terhadap umat, melaksanakan pesan-pesan beliau, serta memperoleh berkah dari beliau. Amin…

[Ichsan]

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Abah Anom – Pengayom Masyarakat tempat Matahari Terbit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *