Posisi Intelektualisme Imam Al-Ghazali

Sunday, September 24th 2017. | Tokoh

“al-Ghozali datang ketika manusia sangat membutuhkan seorang yang mampu membantah kedustaan filsafat. Kebutuhan ini melebihi kebutuhan orang terhadap matahari dalam kegelapan, dan lebih dari kebutuhan tanah tandus terhadap tetesan air.

-Syaikh at-Taj Ibnu Subky-

Imam Gozali merupakan Intelektual Islam yang amat dikenal keagungannya. Namanya menghiasi khazanah keilmuan islam disejajarkan dengan sederetan nama agung pembesar lainnya. Sang “Hujjatul Islam” yang serba bisa dalam menghadapi berbagai masalah. Ahli dibidang tasawuf, fiqih, ushul fiqih, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Nama lengkap beliau adalah  Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad at-Thusi. Beliau berkunyah Abu Hamid yang lahir pada tahun 450 H. (bertepatan pada tahun 1085 M.) dan meninggal pada hari senin 14 Jumadal Akhiroh 505 H. (bertepatan pada tahun 1111 M.) dalam usia 55 tahun. Beliau tidak meninggalkan putra tapi beberapa putri. Kisah seputar wafat Imam Ghozali, Imam Ahmad (saudara imam ghozali) berkata, “Ketika waktu pagi hari, Senin tanggal 14 Jumadal Akhiroh 505 H. saudaraku (imam ghozali) berwudlu kemudian sholat, setelah itu ia berkata padaku, “Ambilkan aku kain kafan”, akupun mengambilkannya dan menyerahkannya, kemudian al-Ghozali memegang dan menciuminya dan meletakkannya diantara kedua belah matanya seraya berkata, “Saman wa thoatan untuk masuk menghadap Sang Raja”. Kemudian al-Ghozali membujungkan kedua kakinya, dan menghadap qiblat setelah itu beliaupun sudah menghadap pada sang pencipta, sedangkan waktu belum beranjak siang.”

Mengenai nama al-Ghozali ada yang menggunakan ejaan “Ghozali” dan “Ghozzali” (pendapat ibnu al-atsir dengan dua huruf Z). Yang pertama, merupakan derivasi dari kata “ghazal” yang merupakan tanah kelahirannya. Dan yang kedua, dari kata “ghozzal” yang berarti pemital benang wool. Beliau dikatakan Ghozzali, karena menurut sebagian riwayat ayahnya merupakan seorang pemintal benang wool yang sangat saleh. Tapi banyak orang memakai Ghozali yang berarti dinisbatkan pada tanah kelahirannya.  Diceritakan dari syekh Muhyiddin bin Muhammad bin Majduddin bin Syarwan bin Fakhrowir bin Ubaidillah bin Siti Nisa binti Abi Hamid al-Gozali, beliau berkata, “Siapa saja yang membaca nama al-Ghozali dengan tasydidnya za (ghozzali) dia telah salah.

Kebesaran namanya telah diakui umat islam dunia. Salah satunya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh at-Taj Ibnu Subky dalam kitab Thobaqot, ia mengatakan “al-Ghozali datang ketika manusia amat membutuhkan seorang yang mampu membantah kedustaan filsafat. Kebutuhan ini melebihi kebutuhan orang terhadap matahari dalam kegelapan, dan lebih dari kebutuhan tanah tandus terhadap tetesan air. Al-Ghozali tetap mempertahankan agama lurus dengan keberanian ucapan-ucapannya, dan melindungi lingkaran agama, sehingga agama menjadi kuat, dan tersingkaplah keremangan subhat.”

Buku-buku Imam Ghozali banyak diterjemahkan -dan ditebitkan- diberbagai penjuru dunia, temasuk kawasan Eropa. Pemikirannya selain menjadi penuntun para umat islam, juga menjadi tongkat bagi non islam. Banyak teolog Yahudi menyandarkan pendapat padanya, pemikir Nasrani, dan filosof modern. Seorang kebangsaan Perancis yang bernama Carra de Voux, mengatakan bahwa al-Ghozali telah mendahului Immanuel Khant dalam memandang “kelemahan akal”. Kitab Tahafutul Falasifah merupakan kitab yang paling baik untuk mempelajari tentang akal.

Al-Ghozali dikenal orang yang sangat cerdas dan pandai. Setelah ayahnya wafat, ia diserahkan kepada teman ayahnya untuk didik tentang agama. Kemudian dia belajar pada ulama yang sangat alim bernama Imam Haramain di Naisabur, ibukota Saljuk. Di sana ia belajar tentang madzab, khilaf, jidal, dan ushul. Semenjak muda, kealiman al-Ghozali sudah mulai tampak. Meskipun belajar pada ulama besar, namun mampu mengantongi ilmu-ilmu yang berikan Imam Haromain. Tidak hanya itu, karena kecerdasannya itu, Imam Ghozali menjadi murid kesayangan gurunya. Salah satu sanjungan yang diberikan Imam Haramain adalah “al-Ghozali itu laksana lautan yang dalam dan luas”.

Setelah gurunya wafat, ia tampil menggantikannya menjadi pengajar di Madrasah an-Nidzamiyah, Baghdad. Kemudian pada Tahun 484 H. karakternya mulai matang sebagai ulama dan panutan masyarakat. Bicaranya enak, pemikirannya luas, dan pengamatannya sangat jeli. Abdul Ghofir, salah satu temannya menggambarkan kondisi Imam Ghozali pada saat itu, “Derajat dan kharisma Imam Ghozali di Baghdad semakin menanjak, sampai mengalahkan kebesaran para tokoh dan pembesar kerajaan.” Perkataan ini tidaklah bertentangan dengan kenyataannya, karena al-Ghozali menceritakan kepada kita pengalamannya di Madrasah An Nidzomiyah “Di sana aku diserahi mengajar tiga ratus murid”.

Selain itu, beliau juga mendapat penghargaan yang sangat besar dari Kholifah Muqtadi Billah (485 H) yang pernah menawarinya untuk menjadi menantu dengan menikahi anak sang Kholifah yang bernama Turkan Khatun. Namun al-Ghozali adalah seorang ilmuwan besar yang lebih senang menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan.

Meski telah menjadi ulama yang disegani, hal itu tidak menjadikannya besar kepala atau seenaknya sendiri. Namun justru sebaliknya, Ia ibarat padi yang semakin tua semakin merunduk. Dengan segudang keilmuan yang dimiliki, ia justru lebih bisa memposisikan diri sebagai hamba yang faqir atas anugerah-anugerah Allah.

Di tengah-tengah kesibukannya mengajar, Imam Ghozali mengalami semacam keraguan (skeptisisme) intelektual. Ada semacam ketidakpercayaan pada kemutlakan akal. Beliau menemukan bahwa akal tidak dapat menyelesaikan semua masalah. Akal terlalu lemah untuk mencakup keuniversalan kehidupan. Semua kegamangan yang ada pada dirinya ditulis dalam kitab “al-Munqidz min al-dhalal”.

Dari berbagai karyanya, kitab Al-Munqidz min al-dhalal merupakan karya yang banyak menuai perdebatan. Dalam kitab ini, Imam Ghozali menerangkan tentang proses skeptisnya terhadap akal. Hatinya selalu bertanya tentang hakekat segala sesuatu (haqaiqul umur).  Dalam dunia islam, haqaiqul umur berakar dari doa Rasulullah yang sangat masyhur. Beliau memohon kepada-Nya untuk ditampakkan “segala sesuatu sebagaimana adanya”.

Dari hari kehari Imam Al Ghozali selalu berpikir dan berpikir akan inti dari segala yang ada. Kemudian ia menemuai dirinya dalam kekosongan jiwa. Bahkan hingga akhirnya meragukan segala sesuatu dari pengamatan inderawi. Sebab inderawi seringkali membujuk dirinya.

Dalam masa-masa ini, Al-Ghozali memberi gambaran kepada kita bahwa rasa gamang yang menimpa dirinya berjalan kurang lebih dua bulan. Kemudian Allah SWT. Menyembuhkan rasa itu. Jiwanya kembali sehat dan luwes. Kembali bisa menerima teori bersifat aqliyah yang tentu berkat cahaya dari Allah.

Setelah itu, beliau melakukan studi secara konferehensip (menyeluruh) tentang posisi intelektual di sekelilingnya. Dari studi itu, kemudian beliau mengelompokkan menjadi 4, yaitu:

Pertama, kelompok Kalam, yaitu: orang yang lebih banyak berpegang pada pendapat yang menyelamatkan mereka dari pertikaian. Al-Ghozali mengatakan bahwa hal itu sedikit sekali manfaatnya bagi orang yang hanya mau berpegang pada sesuatu yang bersifat dhoruri (pasti). Ilmu kalam semacam itu tidak mampu memuaskan jiwanya dan tidak bisa menyembuhkan keraguannya. Koreksi dari kelompok ini di tulis oleh Imam Ghozali dalam kitab al-Tafriqotu bainal Islam wal Zindiqoh.

Kedua, Kelompok Filsafat. Kelompok ini dibagi lagi oleh Imam Ghozali menjadi 6 bagian yang mengusai masing-masing ilmu, yaitu: ilmu pasti, logika, fisika, ketuhanan, politik, dan etika. Dari berbagai keilmuan yang ada, pada dasarnya tidak bertentangan dengan agama, kecuali didalamnya mengandung pertentangan antara filsafat dan agama.  Ia mengatakan bahwa tentang ilmu ketuhanan maka para filsuf banyak melakukan kesalahan. Mereka tidak mampu mengetengahkan dalil dan bukti atas sesuatu yang telah mereka persyaratkan dalam logika. Kritik pedas Imam Ghozali terhadap para filsuf dikumpulkan dalam kitabnya yang berjudul “Tahafutul Falasifah”.

Ketiga, Kelompok Kebatinan. Sebenarnya mereka sama sekali tidak mempunyai sesuatu yang bisa menyelamatkan dari kegelapan pemikiran maupun pandangan. Mereka tidak sanggup mengungkapkan argumentasi atas penentuan iman. Sehingga kita memaklumi bahwa mereka perlu belajar dan perlu pada seorang mursyid yang membimbing mereka. Kritik Imam Ghozali terhadap kelompok ini dikumpulkan menjadi beberapa kitab, diantaranya: Al Mustadzhhari, Hujjatul Haq, Mufashilul Khilaf, dan Qosim Al Bathiniyyah.

Keempat, Kelompok Tasawuf. Dalam kelompok inilah kemudian Imam Ghozali mencapai titik puncak (klimaks) dalam proses skeptisismenya. Ia mengatakan “Bagiku mendapatkan ilmu lebih mudah daripada beramal. Kemudian aku memulai menimba ilmu kaum sufi dengan menelaah kitab-kitab mereka, seperti karya Abi Tholib Al-Makiyya, Al-Haris Al Muhasibi, Imam Junaidi, As-Syibli, Abu Yazid Al Busthomi, serta petunjuk guru-guru yang lain. Sungguh aku melihat keluhuran mereka. Aku mulai mendapatkan apa yang mungkin diraih dari jalan mereka dengan cara belajar dan mendengar. Bahkan tampak olehku bahwa di jalan mereka itu ada sesuatu yang tidak mungkin dicapai hanya dengan belajar, melainkan harus dicapai dengan perasaan, tingkah laku, dan sifat terpuji lainnya”.

Dari taswawuf inilah kemudian Imam Ghozali merasa bahwa dirinya hanyalah seorang yang berilmu saja. Hal ini berbeda dengan para Sufi yang tidak hanya mempunyai ilmu namun juga arbabul ahwal. Kemudian beliau memutuskan untuk ber-suluk kepada Allah, meninggalkan jabatan, dan seluruh harta bendanya.

Perjalanan ini dimulainya dengan mengunjungi Syiria. Di sana lebih banyak menyendiri dan berdzikir kepada Allah. Dalam istilah tasawuf hal ini bisa disebut uzlah, khalwat, riyadhah, atau mujahadah. Kemudian  melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis. Di sana yang dilakukan tidak jauh berbeda ketika di Damaskus. Setiap hari masuk ke salah satu ruangan dikunci dan berkhalwat. Selanjutnya tergerak hatinya untuk pergi ke Mekkah Al-Mukarromah untuk menunaikan Ibadah Haji, Ziaroh ke Makam Nabi Muhammad di Madinah dan akhirnya menuju Hijaz.

Di akhir pengembarannya, beliau berkesimpulan bahwa ahli tasawuf adalah kelompok yang paling baik dan benar. Mereka mengambil jalan tertentu untuk sampai kepada Allah Azza Wajalla. Bahkan seandainya dikumpulkan pemikiran para cendikiawan, hikmah para hukama, serta ilmu ulama lainnya, maka mereka tidak bakal menemukan jalan tersebut.

Selain mengkritik filsafat dan kalam, hal menonjol lain dari Imam Ghozali adalah semangatnya membangun transformasi sosial baru. Pemikirannya merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali agama Islam dengan seluruh komponen moralitas yang tinggi. Untuk sampai pada tujuannya, beliau mengarang kitab yang sangat masyhur yaitu “Ihya Ulumuddin”.

Ihya Ulumuddin termasuk salah satu kitab agama islam yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan dan pemikiran umat islam. Kitab yang terdiri dari 4 juz itu senantiasa memberikan bimbingan kepada akal dan jiwa dalam waktu yang lama. Bahkan kitab ini mempunyai pelita tersendiri yang tidak dimiliki kitab-kitab yang lain. Maka dari itu, banyak para ulama yang memuji-muji master piece-nya Imam Ghozali ini.

Al-Iroqi atau Imam Zainuddin Abul Fadhol, seorang pakar Mustholah Hadits mengatakan: “Sesungguhnya Ihya Ulumuddin adalah kitab islam teragung”. Syaikh Abul Ghofir Al Farisi, salah seorang murid Imam Haromain mengatakan: “Ihya Ulumuddin adalah karya besar Imam Ghozali yang tidak tertandingi oleh yang lainnya”. Demikian juga Syaikh Abu Muhammad Al Kaziruni yang mengatakan: “Kalaupun seluruh ilmu dihapuskan pasti akan bisa dicari lagi dari Ihya Ulumuddin”.

Komentar para ulama lain tentang ihya:

  1. Imam Nawawi, “Hampir-hampir saja ihya menjadi alquran”
  2. Qutbul Auliya Syekh Abdulloh al-Aidrus, “Andai Allah membangkitkan orang-orang dari kubur pasti mereka memberikan pesan pada orang-orang yang masih hidup untuk mengaji kitab ihya.”
  3. Al-Allamat Abdul Qodir bin Abdulloh al-Aidrus mengatakan, “Aku menemukan bangkitnya semangat ketika belajar ihya.”
  4. Al-arif Billah Ali bin Abi Bakar bin Abdurrohman as- Saqqof mengatakan, “Andai orang kafir mau membolak-balik lampiran-lampiran ihya pasti dia akan masuk islam (yang dimaksud dengan kafir disini adalah orang yang bodoh akan kejelekan nafsunya).”

 

Referensi:

  • Al-Munqiz minad Dhalal karya Imam Ghozali
  • Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab karya KH. Moenawwar Chalil.
  • Biografi 10 imam besar karya Syaikh M. Hasan al-Jamal.
  • Kifayatul Atqiya ila Thoriq al-Auliya
  • Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali.
  • Minhajul Abidin karya Imam Ghozali
  • Taqriirat al-Sadiidah fi al-Masaail al-Mufiidah karya Al-Habib Zein bin Ibrahim bin Sumaith.

 

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Posisi Intelektualisme Imam Al-Ghazali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *