Antara Gereja St John the Evangelist dan Masjid Jami’ Kabir

Saturday, May 7th 2016. | Cerpen, Dawai

4834

Antara Gereja St John the Evangelist dan Masjid Jami’ Kabir

Namaku John. Johny Andres Sylveria. Terlahir dari keluarga Kristen. Ayahku adalah seorang pendeta gereja St John the Evangelist. Sebuah gereja di daerah Cheetham Hill, Greater Manchester. Sekitar 2,3 km dari Manchester City Centre. Sedang ibuku adalah seorang yang tak begitu jelas agama yang ia peluk. Aku sendiri tak tahu pasti entah ia punya agama atau tidak. Sebab ia meninggal karena kanker saat aku masih berusia enam tahun. Terlalu kecil bagiku untuk mengerti arti dari sebuah agama. Ayah pernah bilang bahwa ibu adalah seorang kristiani. Namun dia tak begitu taat.

Akhirnya aku dibesarkan seorang diri oleh ayah. Dibimbing agar kelak aku dapat melanjutkan tugasnya. Menyadarkan orang agar kembali pergi ke gereja, mengenalkan kembali tuhan mereka, mengenalkan kembali tujuan hidup mereka sebenarnya. Sebab kebanyakan dari mereka hanya datang ke gereja bila sudah kapok menderita dalam bayang-bayang dosa, sehingga mereka akhirnya mampir ke bilik pengakuan dosa dan berharap dosa mereka diampuni tuhan. Namun tak sedikit yang akhirnya kembali lagi terjerumus dalam dosa-dosa yang baru, bahkan yang lebih parah dari dosa yang mereka perbuat sebelumnya.

Ayah benar-benar menaruh harapan besar padaku. Sehingga di usia sembilan tahun aku sudah harus masuk asrama. Di asrama kami dibimbing agar kelak menjadi kader-kader kristiani yang religius. Aku hanya pulang ketika akhir pekan atau liburan. Sehingga kadang aku merasa jauh dari ayah. Seolah ada batas di antara aku dan dia. Dan itulah yang kadang membuat aku canggung saat bertemu dengan ayah saat itu. Masuk tingkat Senior High School atau SMA, tiap hari aku sudah diwajibkan menelaah Injil, mencoba meresapi dan mendapatkan pencerahan darinya. Dan saat aku sudah mulai akan menginjak bangku kuliah, ayah sudah berhasil membuat langkahku tertuju ke sana, “Pintu ruang kuliah jurusan teologi!”. Usia 18 tahun aku mulai masuk kuliah hingga akhirnya aku berhasil meraih gelar Doctor of Theology (Th.D.) di salah satu universitas terkemuka di tanah kelahiranku, Inggris, Britania Raya.

Keilmuanku dalam bidang ini tak usah diragukan lagi. Sebab aku berhasil menjadi peraih gelar Doctor of Theology termuda di sana. Dan selanjutnya jelas sudah tugas dan jalan hidup ini. Membela agama ini, melanjutkan perjuangan ayah dan tentunya bersinggungan langsung dengan para tokoh dan orang gereja.

“John, remember… all you do now will bring you become a great crusader. (Ingatlah John… Apa yang kau lakukan saat ini akan membawamu menjadi seorang pasukan ‘perang’ salib yang hebat.)”. Setidaknya itulah yang membuat aku selalu merinding. Pesan ayah agar aku menjadi pejuang hebat bagi agama, seolah menjadi sihir tersendiri sehingga membuat aku benar-benar tergila-gila pada Injil atau pada sesuatu yang berkaitan dengan teologi. Dan pastilah sudah, kelak aku yang akan menjadi suksesor ayah di St John the Evangelist.

Namun kini aku adalah seorang muslim. Aku adalah seorang yang iman kepada Nabi Muhammad dan Kitab yang dibawanya. Aku adalah muslim. Ya, Aku adalah muslim. Sampai mati aku berharap tetap muslim…

&&&

Sanaa Yaman, 20 Januari 1999.

Dua hari sudah kuinjakkan kaki di sini. Tugas yang besar datang padaku. Membuatku harus meninggalkan rumah. Meninggalkan Cheetham Hill tercinta. Berkeliling ke berbagai negara. Memasuki daerah-daerah asing yang terkadang membuat aku menjadi asing sendiri di sana. Musim dingin yang datang mengharuskan aku untuk bermantel tebal. Memang, Desember dan Januari adalah musim dingin rutin di sini. Secangkir coklat panas aku seduh untuk menemani kesendirianku. Kulihat tampak jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedang temperatur suhu udara masih cukup rendah, yaitu di kisaran 3 derajat celcius.

Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan musim dingin yang seperti ini di Inggris. Namun kali ini yang membuat berbeda adalah suasananya. Di sana-sini banyak kutemui mereka-mereka bergamis dan bercadar. Tak ada wanita berbelah dada seksi seperti di Inggris yang tampak.

Sanaa, kota tua penuh sejarah. Kulihat dari dalam jendela rumah, angin berhembus kencang. Memaksa aku untuk diam di sini setidaknya hingga nanti waktu adzan Dzuhur berkumandang. Kunyalakan api untuk sekedar memberi kehangatan. Coklat panas ini setidaknya sudah cukup untuk menghangatkan tubuh. Aku berharap siang nanti cuaca tak sedingin ini agar nanti aku bisa ke Masjid Jami’ Kabir. Masjid yang dibangun atas perintah Nabi Muhammad kepada para sahabatnya.

Yaman adalah negara kelima yang telah aku kunjungi dalam dua tahun ini. Sebelumnya aku telah mengunjungi Togo, Uruguay, Malaysia dan Jepang. Di sana aku bertemu dengan bermacam-macam orang. Dengan adat, bahasa dan cara berpakaian yang berbeda.

Berat sebenarnya meninggalkan Cheetham Hill. Meninggalkan kenangan bersama ayah. Meninggalkan St John the Evangelist yang seolah sudah seperti rumah sendiri. Ayah, Sejak kematian ibu, ia berjuang sendiri mendidik diriku. Ia pula yang selalu memberiku api semangat untuk selalu kuat dalam menghadapi keadaan. Ayah, maafkan aku bila belum bisa membuat ayah bahagia. Maafkan bila aku selama ini terlalu keras kepala dan tak mau menjadi penerus ayah di St John the Evangelist. Maaf untuk segalanya, ayah.

Kubuka kembali lembaran al-Qur’an ini. Sesekali kupalingkan wajah ini keluar jendela. Aku telah hafal seluruh isinya. Bahkan mulai dari makna dan tafsir-tafsirnya. Aku sendiri menguasai setidaknya sebelas bahasa. Namun hanya tujuh yang benar-benar aku kuasai. Di antaranya adalah bahasa Urdu, Mandarin, Rusia, Prancis, Spanyol, Jerman dan tentunya bahasa Arab. Jadi mudah saja bagiku memahami makna al-Qur’an karena aku adalah seorang poliglot (seseorang yang menguasai banyak bahasa).

Ayat demi ayat berlalu kubaca. Mencoba mengalir bersama indahnya susunan bahasanya. Semakin jauh aku ikuti, semakin jelas pula kebenaran ayat-ayat tersebut. Dan hal itu pulalah yang membuat aku semakin yakin bahwa kitab ini bukan gubahan manusia. Dan tak pelak, itulah yang membuat hati ini bergejolak. Ya Karim… Irhamna… Kuhela nafas panjang sambil menutup mata. Inilah jalan hidup yang Tuhan berikan.

&&&

Aku terbangun dari tidur. Tak kusangka ternyata aku terlelap di atas kursi. Samar-samar dari kejauhan aku mendengar suara adzan. Menggugah diri ini untuk segera bersiap menuju masjid. Aku berdiri lantas melangkahkan kaki. Kunyalakan api kompor untuk memasak air panas agar bisa kugunakan untuk berwudlu. Tak lama air pun mendidih dan langsung saja kucampur dengan air yang suhunya cukup dingin ini.

Berbeda memang dengan di Inggris yang begitu mudah untuk mendapatkan air panas di waktu musim dingin seperti kali ini. Tak perlu repot-repot harus memasak air dulu. Memang beginilah Yaman. Cukup kurang maju di banding negara-negara lain.

Tapi Nabi Muhammad pernah bersabda: الإيمن يمن . Sebuah keistimewaan tersendiri tentunya bagi mereka-mereka ahli Yaman.

Langkah kaki ini kupercepat seiring semilir angin yang berhembus makin kencang. Kulangkahkan secara cepat menuju tujuan utamaku, Masjid Jami’ Kabir. Kulihat orang-orang berduyun-duyun menuju arah yang sama denganku. Melangkah dengan langkah yang sama. Agak tergesa-gesa, sebab rintik hujan juga mulai turun membasahi jalanan.

Dari kejauhan di samping pintu masjid tampak kulihat beberapa orang sedang duduk berjajar. Seperti sedang menunggu seseorang. Tampak di antara mereka, seorang yang sudah cukup tua bergamis abu-abu dengan mengggunakan surban di kepala memandang tajam ke arahku. Sepertinya aku pernah melihatnya. Ya, aku pernah melihatnya saat di pasar di hari pertama aku tiba di Sanaa ini.

Tatap matanya kuhiraukan begitu saja. Kulangkahkan kaki ini semakin cepat, mendekat ke arah pintu yang ada di dekat mereka. Memang tampangku asing. Namun caraku berpakaian adalah sama dengan mereka. Aku berjubah. Jenggotku panjang dan sengaja kuberi warna kemerah-merahan sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad. Aku juga berkopyah dengan surban kutaruh di atas pundak ini. Tak ada bedanya penampilanku dengan penampilan mereka. Apa lagi aku juga fasih berbicara dengan bahasa mereka.

Semakin dekat aku menuju pintu masjid. Namun kulihat mereka semakin kompak memandang aku. Dan akhirnya langkah ini terhenti saat bapak tua itu berkata, “Mau kemana Kau?”. Sejenak aku terdiam dan berhenti melangkah. “Masjid.”, jawabku dengan nada agak canggung. Sementara yang lain hanya diam memandang. Sambil duduk dia berkata “Tak usah!”. Namun sejurus kemudian aku membalas, “Aku hanya ingin masuk ke dalam, melaksanakan sholat dan membaca al-Qur’an dalam i’tikaf.”.

Namun lagi-lagi ia berkata “Tak usah!”. Aku terdiam sejenak. Terpaku dengan keringat dingin mulai mengalir membasahi kening ini. Lantas ia malah berkata “Tak usah kau masuk ke masjid. Apa kurang jelas mata hatimu dalam melihat? Lihatlah kembali ke cermin! Di dahimu tertulis jelas tulisan KAFIR! Kembalilah ke tuanmu! Ceritakan kejadian ini kepadanya, agar ia berhenti membodohi Allah!”.

Sontak tubuhku lemas tak berdaya. Gemetar dan menggigil seolah malaikat maut mendekat hendak mencabut nyawa ini. Lidahku kaku. Air mata mengalir dari kedua mataku. Aku lantas jatuh tersimpuh di hadapan mereka. Semakin keras gemetar yang menjangkit di tubuh ini. Kulihat banyak orang berkerumun memandang aku dari dekat. Bagaimana mungkin ia tahu? Namun keyakinan dalam hati ini semakin kuat. Dia adalah umat Muhammad. Kalau umatnya saja seperti ini, apalagi Muhammad dan Tuhannya. Aku telah menyembunyikan kebohongan dari mereka.

Segera kuseka air mata yang mengalir semakin deras. Tak ragu lagi diri ini bila harus iman pada Muhammad dan Tuhannya. Biarlah Jesus kutinggalkan terpaku di atas salib. Dan semilir angin yang berhembus, mengiringi mulutku yang berucap,

“أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ  أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ”

Dengan suara agak terbata aku berkata pada mereka. “Tidakkah kalian mendengar kesaksianku? Kali ini aku beriman.  Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya! Bantu aku untuk beriman dengan benar kepada Allah dan Nabi Muhammad! Bantu aku sebagaimana orang-orang Anshor menolong orang-orang Muhajirin…”

Mereka yang lain segera mendekat kepadaku. Membangunkanku. Dan memapah aku berjalan. Bersandar pada tembok masjid ini. Sedang pak tua itu hanya memandang ke arahku. Seolah lewat tatap matanya ia berkata “Kalimat itulah yang kuharapkan darimu…”

Masjid Jami’ Kabir menjadi saksi. Kali ini aku adalah benar-benar muslim. Johny Andres Sylveria adalah muslim. Kalimat ini tulus… Benar-benar tulus… Syahadat yang tulus yang muncul dari mulut seorang Johny Andres Sylveria. Maafkan aku ayah. Aku harus meninggalkan agama ayah. Meninggalkan St John the Evangelist dan beralih masuk ke dalam masjid. Meninggalkan tugas gereja sebagai seorang orientalis…

 

Penulis adalah santri Mamba’us Sholihin

dan Langitan, yang berharap doa para pembaca

agar diridloi orang tua, guru, kyai, Alloh dan rosul-Nya

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Antara Gereja St John the Evangelist dan Masjid Jami’ Kabir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *