NEGERI ANTAH BERANTAH

Sunday, March 27th 2016. | Cerpen

arah

NEGERI ANTAH BERANTAH

 

“Zi, naik motornya pelan-pelan saja ya!”

Haikal yang dibonceng Rozi, memintanya agar mengendarai Honda Astrea tuanya pelan-pelan.

“Oke.” Jawab Rozi ringan.

“Eh, Kal,”

Rozi tiba-tiba memanggil Haikal, sepertinya ada yang ingin dibicarakan. Haikal pun mendekatkan telinganya ke depan.

“Nggak kerasa ya, kita sudah 7 tahun lebih mondok di sini,”

Haikal hanya mengangguk demi mendengar ungkapan Rozi.

“Kal, kamu pernah nggak merasa bosan atau gimana gitu dengan rutinitas kita yang itu lagi, itu lagi.”

Sejenak keduanya terdiam, hanya semilir angin malam dan deruman mesin tua Astrea yang menemani mereka.

“Pastinya, Zi. Itu sudah maklum, bahkan dulu aku sempat berpikir untuk boyong saja.”

Suara Haikal terhenti, dan sepertinya Rozi penasaran ingin tahu.

“Terus…”

Rozi seperti mengingatkan Haikal agar melanjutkan ceritanya yang baru prolog itu.

“Ya…waktu itu aku merasa sudah tidak mungkin lagi melanjutkan mondok, dan itu terjadi di tahun kedua.”

Rozi ber-oh panjang, masih ingin mendengar potongan cerita Haikal selanjutnya.

“Namun setelah aku pulang, agak lama juga, dua minggu, aku memutuskan untuk kembali.”

“Lalu, apa yang kemudian membuatmu memutuskan kembali ke pesantren lagi?”

“MIMPI.”

 

***

Suara meriam api menggelegar di mana-mana. Aku saksikan semua menjerit. Anak-anak, para wanita, sama berlarian mencari perlindungan. Dan sepanjang mata memandang, rumah-rumah, hasil panen, segala barang dagangan porak-poranda, sembarang ternak meng­-embek, merasakan betapa mencekamnya tekanan senjata api yang dikawani kekejian dan kebiadaban itu.

Aku masih tertegun. Semua sama sibuk dengan keselamatan masing-masing. Entah para suami ada di mana, tiada peduli. Di balik pepohonan besar, rerimbunan belukar, semua dirasa aman sebagai tempat persembunyian.

Darah berceceran, korban kebiadaban kawanan orang berambut pirang. Ditendang, dicengkeram, diseret, dan entah apa lagi. Raungan tangis tak lagi dipeduli, seperti putus urat iba mereka. Dan aku hanya bisa tertegun.

Aku mulai geram, kucengkeram tanganku dalam, segera berlari, segera kembali terhenti. Aku berpikir lagi. Mereka bersenjatakan api, sekali tembak, nyawa melayang. Konyol jika aku yang hanya bermodal ‘geram’ akan menyerang. Bisa-bisa nasibku tak jauh beda.

 

***

“Ada-ada saja, Kal. Masak gara-gara mimpi, kayak lagu saja.”

Rozi seakan tak percaya.

“Beneran, Zi. Ah, kamu nggak asyik.”

Haikal yang begitu antusias jadi mengkal dengan tanggapan guyon Rozi.

“Iya…iya…Kal, percaya. Emang gimana ceritanya? Kok bisa?”

 

***

Aku mengenal mereka. Mereka yang menjerit, yang berlarian, yang bergelimangan darah. Tapi ini di mana? Aku sama sekali tak mengenal tanah yang kupijak, aku tidak akrab dengan angin yang bertiup, juga hijau dedaunan yang satu-dua mulai kering itu.

Kawanan rambut pirang semakin merajalela. Mereka berteriak dengan bahasa yang tak kucerna. Namun aku yakin itu adalah bentakan, tekanan dan intimidasi. Dan aku, aku hanya bisa menyaksikan dan terus berkomentar, sama sekali tak banyak yang bisa kulakukan.

Negeri Antahberantah, entah di mana para pemimpinnya, membiarkan rakyatnya menderita di bawah injakan sepatu-sepatu rambut pirang. Rasanya sangat ironi melihat ini semua. Berbeda sekali dengan negeriku yang para pemimpinnya sama manis, suka datang di tengah bencana alam, meski dengan membawa kamera berbagai stasiun televisi. Tak apa, setidaknya masih peduli.

Di negeri Antahberantah ini, hidung pemimpinnya saja tak tampak. Ah, peduli amat dengan carut marut negeri Antahberantah ini, toh bukan negeriku yang permai itu. Tapi aku sekarang di sini, mana bisa aku bernafas lega di negeri Antahberantah yang berlumuran darah, berurai ronta air mata.

 

***

“Lalu, apa yang kamu lakukan, Kal?”

“Aku hanya tertegun,”

“Eh, Zi, hati-hati di depan ada lobang.”

Haikal mengingatkan Rozi yang saking asyiknya jadi tidak fokus nyetir.

 

***

 

“Bapak, Ibu, Kak Muh, Kak Dim.”

Aku bergetar. Dan kini aku benar-benar mengenal wajah-wajah melas dengan pakaian compang-camping yang merintih di depan mataku.

Benar, mereka adalah keluargaku, manusia dari negeri permaiku.

“Allah…”

Aku menjerit sendiri dalam hati menyaksikan satu persatu Bapak, Ibu dan kedua kakakku itu berjabat dengan cambukan tajam si Rambut pirang.

Mereka sama ber-ah kesakitan. Cambukan itu menembus kulit dan mengeluarkan darah segar. Dan aku hanya bisa tertegun, menyaksikan, merasa iba, menahan air mata, namun aku tak miliki nyali untuk melindungi. Yang ada dalam pikiranku, bagaimana aku akan menyelamatkan mereka, aku sendiri saja masih entah mampu menyelamatkan diri atau tidak. Keegoisan dan kebodohan beraduk.

Cairan merah keluar dari mulut Ibu, dari punggung Bapak membuatnya terperosok, kedua kaki kak Muh terseok-seok, sementara Kak Dim, sepertinya dia sudah tidak berdaya.

Betapa bodohnya aku, sama sekali tak memiliki perbekalan senjata untuk melawan kekejian mereka, menyelamatkan Bapak dan Ibu. Aku sama sekali tak berguna.

Dan dalam hitungan menit berikutnya, saat aku sibuk menyesali kebodohan yang tak bisa kuusaikan, Bapak dan Ibu, keduanya terkapar lemah, aku melihat arah pandangan mereka tertuju padaku yang bersembunyi di balik kebodohan dan keegoisanku. Aku menjerit sejadinya dalam hati. Kak Muh, di mana dia, dia menghilang, dia tidak bersama Bapak dan Ibu. Kemana dia?

 

***

“Zi, kamu ngerasa ada yang nggak beres dengan ban motor kita nggak?”

“Iya, Kal, jangan-jangan bocor, Kal, coba kita periksa dulu.”

Benar, ternyata ban belakang mereka bocor, terpaksa mereka mendorong Astrea tua itu.

“Kal, lanjutin ceritamu, sambil berdo’a di depan sana ada tukang tambal ban.”

“Nggak ah, suasananya lagi nggak enak, berduka, ban bocor.”

“Iya, makanya, biar nggak terlalu berduka, kamu lanjutin ceritamu, seru nih.”

Akhirnya mereka berdua melanjutkan cerita sambil mendorong motor tua itu, berharap akan segera menemukan tukang tambal ban.

 

***

“Kal, carilah tempat persembunyian yang aman, kumpulkanlah segenap senjata, sampai kamu siap menghadapi mereka.”

Kak Muh yang tadi hilang dari pandanganku, tiba-tiba dia memegang kakiku, dengan nafas tersengal-sengal, darah berceceran dari hidung, pelipis, mulut dan sekujur tubuhnya. Dan pesan terakhir Kak Muh itu mencambukku.

Kak Muh mengembuskan nafas terakhirnya, dan dua orang berambut pirang itu menangkapku. Dan aku tanpa pemberontakan mengikuti mereka. Mungkin dengan begini aku akan selamat.

 

***

“Itu, Kal, ada tukang tambal ban. Pas banget, Kal, kita bisa melanjutkan cerita sambil duduk santai menunggu ban selesai ditambal.”

Rozi berseru riang. Haikal ikut nyengir.

 

***

Aku menjadi tawanan mereka. Semena-mena mereka perintah sana, perintah sini, bentak sana, bentak sini, tak jarang siksaan menderaku saat aku mencoba berontak.

Sepanjang hari aku hanya mengumpulkan keberanian demi keberanian, aku harus melarikan diri dari sini. Selamanya aku akan jadi budak mereka. Ini saatnya.

Subuh buta, saat mereka masih terlelap setelah semalaman berpesta pora, aku memutuskan untuk melarikan diri.

Benar, ini memang negeri Antahberantah yang aneh. Semalam aku menyaksikan orang-orang berdasi yang aku yakin adalah penguasa Antahberantah juga ada di tengah pesta dengan para wanita, larut dalam gegap gempita.

Aku terus berlari, hingga tengah hari aku tiba di tengah belantara, dan aku yakin ini sudah sangat jauh dari pusat Antahberantah. Dan sepertinya tidak ada satu pun mahluk hidup yang menghuni rimba ini, hanya aku, pepohonan, semak belukar dan angin.

Berjari-hari aku hanya berteman sunyi. Tak banyak yang kulakukan, tak ada interaksi kehidupan, sendiri dalam sepi. Terus aku menyesali. Namun memang di saat kita sendiri, sepi, pada saat itulah kita akan dapat berpikir, merenungkan, betapa lemahnya kita, sehingga akan tumbuh letupan-letupan imajinasi untuk merubah diri ini. Dan itulah yang aku lakukan.

Tentunya, di sini aku hanya sendiri, meski di negeri Antahberantah itu segala kemewahan hidup tersedia, apa yang diinginkan segera dicapai, namun di sana aku hanya akan menjadi budak, hidup di bawah bayang-bayang mereka, selamanya. Aku benar-benar menyesali kebodohanku, jika bukan karena itu, mungkin semua tak akan seburuk ini.

 

***

“Aku terperanjat, Zi. Aku benar-benar terketuk dari mimpi itu, mimpi Antahberantah itu. Aku masih terngiang dengan pesan Kak Muh dalam mimpi itu carilah tempat yang aman, kumpulkanlah segenap senjata, sampai kamu siap menghadapi mereka. Aku tersadar, aku yang di dalam mimpi itu hanya bisa tertegun, diam, membiarkan orang-orang yang kusayang diinjak-injak, semua itu karena aku tidak memiliki senjata. Dan aku tahu, senjata satu-satunya adalah ilmu. Jika aku benar-benar memutuskan boyong, berhenti mondok, maka kejadian mimpi itu akan menjadi nyata, aku tak akan bisa melindungi orang tuaku, tak bisa menyelamatkan mereka, bahkan hidup di bawah bayang-bayang penguasa, terpencil sendiri dalam kehampaan jiwa. Mimpi itu benar-benar menyadarkanku.”

Haikal terdiam sejenak.

“Dan, aku tak mau menunggu lama, saat itu juga aku meminta Kak Muh mengantarkanku kembali ke pesantren, hingga saat ini, itulah motivasi terbesarku. Mimpi Negeri Antahberantah.”

Rozi hanya terbengong mendengarkan Haikal. Betapa segala kejadian yang disertai akal yang berpikir akan dapat merubah sesuatu yang sepertinya tak akan pernah bisa berubah. Termasuk Mimpi.

“Hebat sekali kisahmu, Kal. Aku tak menyangka ternyata seorang kepala keamanan pesantren sepertimu sempat hamper-hampir boyong. Dan lebih mengagumkannya lagi, hal yang membuatmu kembali ke pesantren adalah MIMPI.”

Rozi menepuk pundak Haikal.

“Iya, Zi, makanya sekarang aku paling nggak tega kalau ada santri yang nggak betah dan ingin boyong, sebisa mungkin sebagai keamanan, aku akan membujuknya agar berkenan tetap mencari ilmu di sini.”

Cerita Haikal selesai bersama selesainya tukang tambal ban menambal ban belakang mereka. Dan keduanya pun melanjutkan perjalanan ke pesanren malam itu.

*Adzikro@l_aqsho

[Rabu, 5 Feb 2014]

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For NEGERI ANTAH BERANTAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *