Rasulullah Mandiri Semenjak Usia Belia

Friday, January 12th 2018. | Uswatun Hasanah

 

 

Rasulullah Saw merupakan Nabi yang mulia. Sikap mandiri, produktifitas tinggi serta karakter pekerja keras telah tertanam dalam diri Rasulullah Saw sejak belia. Bagaimana tidak? Meninggalnya kedua orangtua serta kakek tercinta saat beliau masih kecil merupakan pukulan telak yang bisa jadi membuat semangat hidup menurun. Namun, kondisi serba terbatas tersebut mampu disikapi Rasulullah Saw dengan cerdas. Malah justru dengan kondisi tersebut, Rasulullah kecil berhasil bangkit menjadi sosok pemuda yang kuat hatinya dan kuat semangatnya sehingga beliau mampu menjadi sosok pemuda yang mempunyai nilai karakter lebih tinggi dibanding pemuda lain seusianya.

Kisah ini berawal di usia beliau yang menginjak 12 tahun. Di usia tersebut, beliau mendapatkan pengalaman berharga dari sang paman tercinta Abu Thalib. Lebih tepatnya Pengalaman mencari rezeki pertama kali melalui jalur perdagangan. Beliau didampingi oleh pamannya beserta kafilah dagang bersama-sama menuju Kota Syam yang merupakan salah satu kota pusat perdagangan terbesar pada saat itu. Secara tidak langsung dalam usia yang masih relatif muda, Rasulullah memberikan teladan kepada kita bahwa di usia muda bukanlah waktunya berleha-leha. Justru di usia emas inilah level produktifitas, kemandirian beserta karakter pekerja keras dalam diri muda harus mulai diasah.

Setibanya di tengah perjalanan, Abu Thalib bertemu dengan seorang Pendeta Nasrani bernama Bahira. Pendeta yang faham betul dengan isi kitab Injil tersebut terus mengamati Rasulullah Saw. Sejurus kemudian terjadilah percakapan singkat Bahira dengan Abu Thalib sebagai bentuk klarifikasi atas pengamatan yang telah dilakukan Bahira. Hasilnya, Bahira takjub bahwa segala apa yang termaktub dalam kitab-kitab terdahulu betul-betul pas “sesuai” dengan ciri-ciri Rasulullah Saw yang akan menjadi Nabi akhir zaman.

Di akhir pembicaraan, Bahira berpesan kepada Abu Thalib untuk senantiasa menjaga Rasulullah Saw dari kejahatan orang-orang Yahudi yang mempunyai maksud jahat jika mereka tahu bahwa Nabi akhir zaman telah turun di muka bumi ini. Pesan Bahira lainnya mengatakan bahwa Rasulullah Saw akan memegang perkara yang besar di kemudian hari yakni berupa Risalah Nubuwwah dari Allah Swt. Setelah mengetahui info rahasia tersebut, Abu Thalib cepat-cepat membawa Rasulullah saw kembali ke Makkah.

Selain mengais rezeki lewat jalur perdagangan, Rasulullah Saw muda juga aktif mengasah skill produktifitas kerja, skill leadership dan skill kesabarannya melalui jalur menggembala kambing. Kita pasti mengetahui betapa kegiatan gembala kambing ini merupakan kegiatan yang luar biasa. Butuh kesabaran ekstra, butuh kemampuan memimpin yang mumpuni dalam memantau kambing-kambing yang ada. Kegiatan ini juga merupakan ajang peningkatan produktifitas kerja di usia muda. Dengan semangat menggembala kambing penduduk Mekkah tersebut, upah beberapa qirath berhasil didapatkan oleh Rasulullah muda saat itu.

Terdapat tiga cerminan hikmah atas usaha gembala kambing yang dilakukan Rasulullah ini. Pertama, Rasulullah merupakan pribadi yang anti-zona nyaman atau anti-menggantungkan hidup dalam tanggungan orang lain. Sebenarnya sah-sah saja ketika Rasulullah hanya ikut pamannya tanpa melakukan upaya berdagang dan menggembala kambing. Buat apa susah-susah toh nyatanya pamannya sangat sayang dan siap menanggung apa-apa yang Rasulullah inginkan. Namun, bukan itu yang Rasul inginkan. Di fase ini, Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa hidup mulia itu adalah kehidupan yang sama sekali tak menggantungkan diri kepada orang lain tapi malah justru bagaimana caranya agar kita berhasil memberi segala apa yang terbaik buat orang lain.

Kedua, tentang harta yang disukai Allah dan rasulnya. Dalam kasus di atas, Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang cara bagaimana agar kita memiliki harta berkah yang disukai oleh Allah dan Rasulullah. Harta yang dimaksud merupakan harta hasil perjuangan, hasil dari produktifitas diri, hasil keringat dan hasil pelayanan profesional yang kita lakukan kepada umat. Tidak hanya bangga merasa puas dengan merendahkan martabat diri seraya berharap harta akan datang sendiri melalui pemberian orang lain, namun usaha maksimal kita dalam menggapai rezeki itulah yang mendapatkan poin lebih di mata Allah dan Rasulnya.

Ketiga, sebagai kader dakwah Islam hendaknya kita memiliki sikap Profesional dalam berdakwah. Maksud kata Profesional disini adalah mampu menjadikan aktifitas dakwah kita betul-betul dakwah lillah. Bukan dakwah yang dijadikan sebagai ajang profesi mengais rezeki di dalamnya.

Mari kembali kepada suri tauladan Nabi saw tercinta. Mulai awal kehidupan beliau hingga akhir hayatnya, beliau selalu profesional dalam berdakwah. Menjadikan dakwah betul-betul sebagai tugas suci ilahiyah. Sepi akan orientasi duniawi didalamnya. Di lain sisi bekerja secara profesional melalui berbagai usaha mandiri tetap dilakukan oleh Rasulullah sebagai bentuk penopang buat dakwah ilahiyah yang dilakukan.

Semoga Allah menuntun kita menjadi insan produktif dimulai sejak dini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw muda dalam kisah singkat diatas. Amin. Wallahu a`lam.

tags: , , , , , ,

Related For Rasulullah Mandiri Semenjak Usia Belia