Meneladani Kisah Said bin Al-Musayyab

Monday, January 8th 2018. | Uswatun Hasanah

Namanya Said bin Al-Musayyab bin Hazn bin Abi Wahab bin Amru bin A’id bin Imran bin Makhzum Al-Qurasy Al-Mahzumi Al-Madani. Panggilannya adalah Abu Muhammad Al-Madani. Beliau adalah salah satu pembesar para tabi’in.

Said bin Al-Musayyib dilahirkan dua tahun setelah berjalannya khilafah umar bin khattab. Sedangkan wafatnya, dari Abdul Hakim bin Abdullah bin Abi Farwah, dia berkata, “Said bin Al-Musayyib meninggal dunia di Madinah pada tahun 94 Hijriah pada masa pemerintahan khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Pada saat meninggal dunia, dia berumur 75 tahun. Tahun ketika Said meninggal dunia disebut sanah al-fuqaha’ (tahun bagi ulama’ fikih) lantaran pada saat itu banyak ahli fikih meninggal dunia.”

Berilmu Luas

Said bin Musayyib adalah tokoh terkemuka di Madinah pada masanya dan sangat dihormati dalam bidang fatwa. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah imam para ulama’ fiqih. Abu Thalib berkata, “Aku penah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Siapakah Said bin Al-Musayyib?” Dia menjawab, “Siapa yang menandingi Said bin Al-Musayyib? Dia adalah orang yang dapat dipercaya dan termasuk orang yang shaleh.”

Aku bertanya lagi, “Apakah riwayat Said dari Umar bin Khattab dapat dijadikan hujjah?” Dia menjawab, “Dia adalah hujjah bagi kita. Dia pernah melihat Umar bin Al-Khattab dan banyak mendengar hadits darinya. Kalaulah riwayat Said dari Umar tidak diterima, siapa lagi yang dapat diterima?”

Malik berkata, “Sesungguhnya Al-Qasim bin Muhammad pernah ditanya seseorang tentang suatu permasalahan, lalu dia berkata, “Apakah Anda telah bertanya pada orang selainku?” Orang itu menjawab, “Ya, sudah. Aku bertanya kepada Urwah dan Said bin Al-Musayyib.” Lalu dia berkata, “Ikutilah pendapat Said bin Al-Musayyib, karena dialah guru dan pembesar kami.”

Abu Ali bin Al-Husain berkata, “Said bin Al-Musayyib adalah orang yang paling luas wawasan keilmuannya tentang hadits-hadits dan perkataan para sahabat.  Di samping itu, dia juga orang yang paling mumpuni pendapatnya.”

Faqih yang Abid

Utsman bin Hukaim berkata, “Aku pernah mendengar Said bin Musayyib berkata, Selama 30 tahun, setiap kali para muadzin mengumandangkan adzan, pasti aku sudah berada di dalam masjid.”

Dari Abdul Mu’in bin Idris dari ayahnya, ia berkata, “Selama 50 tahun Said bin Musayyib melaksanakan shalat subuh dengan wudhu shalat isya’.” Said bin Al-Musayyib berkata, “Aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat selama lima tahun (shalat pada awal waktu). Aku juga tidak pernah melihat punggung para jama’ah, karena aku selalu berada di barisan terdepan selama lima tahun itu.”

Ia menunaikan haji sekitar 40 tahun dan tidak pernah terlambat dari takbir pertama di masjid Rasul. Tak pernah diketahui darinya bahwa ia melihat tengkuk seseorang dalam shalat sejak itu selamanya, karena ia selalu berada di shaf pertama. Ia dalam kelapangan rizki, sehingga bisa menikah dengan wanita Quraisy manapun yang dikehendaki. Namun, ia lebih memilih putri Abu Hurairah, karena kedudukannya di sisi Rasulullah, keluasan riwayatnya, serta keinginannya begitu besar dalam mencuplik hadits.

Dia berkata, “Abu Wada’ah bercerita kepada saya, ‘Sebagaimana Anda ketahui, saya adalah seorang yang tekun hadir di Masjid Nawabi untuk menuntut ilmu. Saya paling sering menghadiri halaqah Sa’id bin Musayyab dan suka mendesak orang-orang dengan siku bila mereka saling berdesakan dalam majelis itu. Namun, pernah berhari-hari saya tidak menghadiri majelis tersebut. Beliau menduga saya sedang sakit atau ada yang menghalangiku untuk hadir. Beliau bertanya kepada beberapa orang di sekitarnya namun tidak pula mendapat berita tentang diriku.”

Memilih Menantu

Abu Wada’ah adalah seorang yang tekun hadir dalam halaqah Said Bin Musayyab di Masjid Nabawi. Akan tetapi, Abu Wada’ah beberapa kali tidak menghadiri halaqah karena mengurus istrinya yang baru meninggal. Saat itu Said bin Musayyab mengira Abu Wada’ah sedang sakit atau berhalangan.

Karena kemuliaan akhlak dan budi pekerti Abu Wada’ah, Said bin Musayyab berkeinginan untuk menjadikannya sebagai menantu. Singkat cerita, Said menoleh kepada orang yang berdekatan dengan Said dan Abu Wada’ah, dan beliau memanggilnya. Begitu mereka datang dan berkumpul di sekeliling mereka berdua, Said bin Musayyab bertahmid dan bershalawat, lalu menikahkan Abu Wada’ah dengan putrinya dengan mahar berupa uang dua dirham.

Sebelum menikahkan putrinya dengan Abu Wada’ah, Khalifah Abdul Malik telah datang kepada Said bin Musayyab untuk meminang putrinya. Tapi, dengan rendah hati Said bin Musayyab menolaknya karena takut putrinya akan bergelimang harta dunia hingga melupakan akhirat.

tags: ,

Related For Meneladani Kisah Said bin Al-Musayyab