Relevansi Tajrid dan Asbab

Friday, January 5th 2018. | Tasawuf

 

 

إِرَادَتُــكَ الـتَّجْرِيْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِيَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ

وَ إِرَادَتُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِيْدِ اِنحِطَـاطٌ مِنَ الْهِـمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ

“Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwat yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi.”

 

Perspektif

Dewasa ini, setelah empat belas kurun berlalunya masa kenabian, banyak manusia terlena dengan derajat makrifat yang sengaja Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Alasannya pun kompleks, lagi-lagi hanya berkutat pada syahwat. Seakan mereka mengesampingkan tahap keyakinan yang naik setingkat demi setingkat sehingga sampai pada derajat penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Pengalaman ini setidaknya menjadi runtutan perubahan tingkat seorang hamba, dari asbab menjadi tajrid, sebagaimana pemahaman atas pasal Ibnu Atha’illah di atas.

Sebelum membahas makna lebih dalam, dalam pasal ini Ibnu Atha’illah menggunakan beberapa istilah baku dalam khazanah sufi, yang harus dipahami terlebih dahulu agar kita mendapatkan pemahaman yang utuh. Istilah-istilah itu adalah: asbab, tajrid, syahwat dan himmah.

Asbab menurut bahasa berarti sebab-sebab. Secara istilah yaitu kiasan perilaku seseorang untuk bisa mencapai apa yang diinginkan dalam konteks duniawi. Semisal, ia harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, di samping berdoa agar rizkinya diluangkan.

Sedangkan tajrid menurut bahasa memiliki arti penanggalan atau pelepasan. Secara maknawi adalah meninggalkan sebab-akibat urusan duniawi dan senantiasa mengisi waktu dengan beribadah, sehingga hati seseorang selalu tertuju pada Tuhannya. Ia dituntut untuk menanggalkan gemerlapnya dunia dan berpaling pada nikmatnya beribadah. Karena dalam tahta sufi, pengalaman-pengalaman ibadah masa lalu bukanlah sebuah kebanggaan yang harus dirayakan. Semua gerak, langkah, dan doa terselimuti pertolongan Allah. Hati yang tergerak melakukan ibadah tidaklah luput dari hidayah-Nya, begitu pula ucapan dan niat baik. Maka sesungguhnya tiada lagi kata ataupun gerak langkah yang bisa mengimbangi kasih Allah Swt. Ibadah dilakukan oleh manusia semata untuk pemurnian jiwa.

Menurut etimologi, syahwat bermakna keinginan yang kuat. Secara maknawi merupakan keinginan terhadap bentuk-bentuk material dan duniawi, seperti harta, makanan dan lawan jenis. Syahwat hanya menjurus pada kemewahan dan keindahan. Ia berbisik ke telinga manusia untuk suatu tujuan yang membawa kerusakan. Maka ketika seorang hamba terus menuruti syahwatnya, ia pasti bakal menuai kerusakan. Berbeda dari syahwat, hawa-nafsu, atau biasa disebut nafsu, adalah keinginan seseorang terhadap bentuk-bentuk samar, seperti ego, kesombongan, dan harga diri.

Himmah memiliki arti keinginan kuat untuk menggapai apa yang direncanakan. Himmah bisa mengarah pada keluhuran, jika keinginan seseorang tertuju pada urusan yang tinggi, keinginan menuju Allah. Himmah juga bisa bernilai rendah, apabila tujuannya hina.

Garis Besar

Ada kalanya Allah menempatkan seseorang dalam dunia asbab dalam kurun tertentu. Misalnya, untuk mencari nafkah, mengurus keluarga, atau memimpin negara. Bila seseorang sedang ditempatkan oleh Allah dalam kondisi asbab, namun dia berkeinginan untuk tajrid (misalkan dengan ber-uzlah), maka itu dikatakan sebagai syahwat yang samar. Karena itu tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Adapun tandanya yaitu ketika seorang salik tidak bisa merasakan kenikmatan ibadah dalam ber-uzlah, hatinya selalu terketuk untuk membantu sesama, ia juga bisa menjaga agamanya, serta bisa memanfaatkan hartanya untuk membantu orang yang membutuhkan, terlebih dengan asbab ia bisa mengajak orang lain menuju kebenaran dalam menyembah Allah Swt.

Sebaliknya, saat Allah menempatkan seseorang dalam tajrid, namun dia justru menginginkan asbab, maka itu merupakan sebuah kejatuhan dari keinginan yang tinggi. Ia merasa belum cukup dengan janji Allah. Bahkan, hatinya berpaling dari nurullah.

Adapun tandanya adalah ketika seseorang bisa menikmati zikir serta bisa membersihkan kotoran dosa dalam kesendirian, menyucikan hatinya, merasakan ketenangan batin tanpa ragu ketika hanya bersama Allah. Allah telah membasuh hatinya dari kehawatiran serta memberikan ketenangan dengan menyerahkan semua urusannya hanya kepada Allah.

Garis besarnya adalah seorang salik tidak bisa menentukan dirinya dalam tingkat tajrid maupun asbab. Keduanya adalah kehendak Allah. Salik hanya perlu mengalir mengikuti takdir, serta terus berserah diri. Ia harus melalui tahapan-tahapan derajat, hingga semua kehendaknya bekesesuaian dengan kehendak Allah.

 

 

Related For Relevansi Tajrid dan Asbab