Dakwah dalam Sorotan Fiqih

Wednesday, January 3rd 2018. | Fiqih

Sebagai makhluk yang diberi keistimewaan berupa akal, tentu manusia ingin memberi kemanfaatan kepada orang lain. Dengan dasar bahwa suatu kebanggaan dalam hati bisa menuntun saudara pada jalan kebenaran, manusia yang diberi beban syariat akan berusaha mengajak saudaranya berada pada jalan kebenaran.

Berangkat dari sabda Nabi Saw, “Siapa yang menunjukkan kebaikan niscaya mendapat pahala orang yang ditunjukkan tanpa mengurangi pahalanya”, banyak orang yang berambisi menjadi da’i dengan misi menyampaikan ajaran agama. Mereka seolah saling bersaing untuk mendapat jamaah sebanyak-banyaknya sebagai lahan menanam kebaikan. Dalam beberapa kasus, ada beberapa da’i yang tidak menghiraukan etika berdakwah sehingga menjadi sorotan fiqih.

  1. Pasang Tarif

Permasalahan pemasangan tarif seorang da’i sempat ramai di media sosial. Berbagai pandangan negatif muncul dari sana. Bagaimana seorang yang berjuang di jalan Allah mempermasalahkan honor dari perjuangannya. Padahal, seringkali ia menyinggung bahwa ancaman besar diperuntukkan bagi orang yang menjual agama dengan dunia.

Seorang da’i dianalogikan dengan guru atau orang yang mengajarkan al Quran. Mereka sama-sama mengajarkan agama kepada masyarakat. Ulama berbeda pendapat tentang diperbolehkannya mengambil upah dari pekerjaan di atas.

Sebagian ulama memperbolehkan melakukan akad isti’jaroh terhadap ibadah yang tidak membutuhkan niat, seperti adzan, merawat mayit, dan mengajar Al Qur’an dengan menta’yin orang yang mengajar dan kadar ilmu yang diajarkan. Ini pun harus menetapi syarat-syarat dari akad ijarah. Sebagaimana adanya ta’yin (kejelasan) kadar ceramah yang disampaikan, dan kepuasaan hati orang yang mengundang. Dan ulama lainnya mengatakan tidak boleh, karena mengajar termasuk perbuatan hisbah(ibadah karena Allah Swt.)

Namun, dinilai sangat tidak baik apabila seorang da’i memasang tarif. Hal ini dikawatirkan mengundang banyak gunjingan serta efek negatif lainnya. sebagai seorang yang mengerti agama sangat tidak pantas menjadikan honor sebagai tujuan. Lihat : Mausu’ah al Fiqh al Islamy[1]:17. Hasyiyah Qulyuby[3]:74. Asna al Mathatib fi Syarh Raudl al Tholib[1]:132.

  1. Melempar Lelucon

Zaman sekarang masyarakat lebih memilih da’i yang gemar melucu dari pada da’i yang selalu serius. Ini menjadi alasan seorang da’i berusaha menyisipkan guyonan dalam ceramahnya. Dalam pandangannya, masyarakat akan lebih antusias mengikuti pengajian bila ceramahnya banyak disisipkan humor.

Menyisipkan guyonan dalam ceramah diperbolehkan. Hanya saja tidak sampai melewati batas kewajaran. Guyonan yang disampaikan tidak sampai membawa pendengar terlena dalam suasana tertawa terbahak-bahak yang tidak sesuai dengan nash al Qur’an dan sunnah. Dengan demikian, humor hanya akan membuat mereka lalai dari mengingat dan tafakkur kepada Allah, menjadikan hati semakin keras, dan hilangnya haibah penceramah. Guyonan yang diperbolehkan hanyalah sebatas menenangkan pendengar. Bahkan, dianggap baik bila guyonan mampu membuat nyaman hadirin. Lihat: Shohih Ibnu Hiban [13]: 106. Al Bajuri [2]: 71.

  1. Menyampaikan Cerita Isra’iliyah dan Hadits Palsu

Banyak sekali cerita-cerita isra’iliyah yang terdapat dalam kitab ulama salaf, terutama kitab tafsir.  Cerita-cerita yang dikisahkan oleh kaum Yahudi-Nasrani dan kaum-kaum terdahulu terlebih dahulu harus dipilah. Jika cerita isra’iliyyah itu bertentangan dengan nash al Qur’an dan hadits, maka tidak diperbolehkan menceritakannya. Sebaliknya, bila tidak bertentangan, maka boleh menceritakannya.  Adapun untuk cerita yang tidak diketahui, maka lebih baik kita hanya “diam”: tidak membenarkan atau mendustakannya.

Sama halnya dengan hadits palsu. Banyak sekali beredar hadits yang dibuat-buat semata untuk kepentingan pribadi. Menceritakan hadits ini sama sekali tidak dibenarkan, karena termasuk kegiatan menyebar kebohongan paling besar, yakni kebohongan yang disandarkan pada nabi Saw. Seorang penceramah harus berhati-hati dalam menyampaikan hadits. Ada beberapa kitab yang mengumpulkan hadits-hadits palsu. Seperti kitab al Abathil karangan Imam Husain al Juzqhoni dan al Maudlu’aat karangan Imam al Hafidz Abul Farj ibnu Jauzi.

Haram bagi orang yang meriwayatkan hadits palsu jika ia mengetahui status kepalsuannya atau mempunyai prasangka kuat tentang itu. Dan dalam meriwayatkannya, dia tidak menjelaskan kepalsuannya.

Ada beberapa cara dalam meriwayatkan hadits: apabila statusnya shahih atau hasan maka dengan cara berucap, “Rasulullah  Saw. berkata, atau berbuat,” yakni dengan menggunakan kalimat yang menguatkan. Apabila statusnya dla’if maka dengan cara berucap, ”Diriwayatkan dari Rasulullah Saw. atau diceritakan dari Rasulullah Saw.” Lihat: Syarh an Nawawi ‘ala Muslim [1]: 71. Tafsir Ibnu Katsir [1]: 31. Asanid at Tafsir [1]: 50.

  1. Dakwah dengan Musik

Dewasa ini, sudah menjadi trend di Indonesia bahwa pada bulan Ramadan setiap musisi meluncurkan lagu religi. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk mengenalkan lagu religi mereka. Banyak dari musik pop, rap, dangdut, hingga reggae yang berbau religi. Bahkan, ada musisi yang memfokuskan diri untuk membuat lagu religi dengan bersumber pada hadits atau kalam ulama. Hal demikian tidak lain karena ada niat berdakwah dalam jiwanya. Ada anggapan bahwa dakwah semacam itu lebih meresap dalam lubuk hati penikmatnya.

Terlepas dari anggapan atau tujuan-tujuan lain, fiqih memandang bahwa dakwah dengan menyisipkan al Qur’an atau hadits dalam musik tidak dibenarkan. Alat musik berupa gitar dan lainnya merupakan alat yang diharamkan oleh agama.. Lihat: Madzaibul Arbaah [3]: 128. Fatawi Arromliy: 387.

 

Related For Dakwah dalam Sorotan Fiqih