Sakralitas Al-Aqsha

Sunday, December 31st 2017. | Dunia Islam

Berdasarkan lansiran republika.co.id, aksi solidaritas untuk Palestina belum lama ini digelar oleh ratusan warga Bogor, Jawa Barat. Mereka menyerukan pembebasan Masjid Al-Aqsha dari tangan zionis Israel. Sambil melakukan orasi, mereka membagikan pamflet berisi hujatan atas penistaan tentara Israel terhadap warga Palestina.

Salah seorang koordinator aksi menilai bahwa umat Islam kerap dipersulit menjalankan ibadahnya dengan pemasangan blokade di pintu masuk kompleks Masjid Al-Aqsha. Bahkan, munculnya korban terluka dan meninggal dunia diakibatkan gencarnya polisi Israel menggunakan tindak kekerasan terhadap jamaah Shalat Jumat.

Melalui aksi di atas, Pemerintah Indonesia dan dunia internasional dituntut untuk turun tangan mengatasi persoalan Palestina. Bagaimanapun, kompleks Masjid Al-Aqsha merupakan tanah waqaf umat Islam. Apalagi, PBB bidang organisasi pendidikan, sains dan kebudayaan, UNESCO, menegaskan bahwa kompleks tersebut adalah situs suci milik umat Islam.

Pada tahun 2016, UNESCO menerbitkan resolusi yang menyatakan bahwa Israel genap melancarkan agresi dan perbuatan melawan kebebasan umat Islam untuk beribadah di Masjid Al-Aqsha. Setahun setelahnya, pertengahan tahun 2017, UNESCO kembali menegaskan bahwa Israel telah melakukan agresi dan menggunakan kekerasan dengan maksud mengubah karakter kota suci Yerusalem.

Baik sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang Indonesia maupun organisasi internasional menunjukkan sakralitas Masjid Al-Aqsha. Ia menjadi lambang kebesaran sekaligus pemersatu umat Islam. Warga Palestina percaya bahwa rumah Allah merupakan tempat suci yang mesti diagungkan. Konstruksi bangunannya menggambarkan kemuliaan, kehormatan, serta kewibawaan. Itulah mengapa, seberat apa pun ancaman menghadang, para mujahid Palestina besertai umat Islam sedunia akan tetap memperjuangkannya. Nyawa bukanlah berarti apa-apa dibandingkan tegaknya lambang kebesaran Islam di muka bumi.

Akar Historis

Buku History of the Arabs: Rujukan Induk dan Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam menyebutkan bahwa berdasarkan literatur Arab, Masjid Al-Aqsha dalam pengertian umum mencakup seluruh kompleks bangunan suci yang tersusun atas Kubah Batu, makam-makam, biara (tunggal takiyah atau zawiyah), serta mata air umum (tunggal sabil) yang dibangun oleh sejumlah khalifah, mulai dari Abd al-Malik hingga sultan Utsmani, Sultan Utsmani, Sulayman yang Agung, dengan wilayah seluas 34 hektar.

Sebenarnya kata Aqsha diterapkan pada masjid yang didirikan oleh Abd al-Malik di dekat Kubah. Di atas reruntuhan Gereja Justine, St. Maryam, yang hancur di tangan Chosroes, bangunan tersebut berdiri. Shalah al-Din (Saladin) menariknya ke dalam kekuasaan Islam (1187). Gambaran paling awal tentang Kubah tersebut bermula dari masa Ibn al-Faqih dan al-Maqdisi.

Fakta ini tidak terlalu mencengangkan, mengingat masjid-masjid besar pada masa silam merupakan rekonstruksi bangunan gereja. Dengan demikian, bukti sejarah menunjukkan adanya perubahan fungsi beberapa bangunan suci. Bukan sebuah keganjilan ketika terjadi transformasi tempat peribadatan orang-orang Kristiani ke orang-orang Islam. Dalam situasi tertentu, selain kebijakan penguasa, keadaan ini merupakan imbas dari meluasnya kekuasaan raja.

Philip K. Hitti (2205: 332) mencatat bahwa pada tahun 705, putra Abd al-Malik, al-Walid, mengambil alih kawasan gereja Romawi di Damaskus yang dibangun untuk Santo Yahya. Pada mulanya, bangunan tersebut ternyata merupakan kuil Jupiter yang dalam perjalanannya dialihfungsikan sebagai masjid besar bernama Umayyah. Belum ada data pasti mengenai jumlah bangunan ibadah umat Kristen yang dirubah menjadi masjid oleh al-Walid. Pada awalnya, dua menara masjid sebelah selatan merupakan menara gereja Romawi Kuno, sedangkan menara sebelah utara awalnya adalah menara pendeta yang direnovasi oleh al-Walid sebagai model menara di Suriah, Afrika Utara, serta Spanyol.

Kota Lama

Masjid al-Aqsha merupakan salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Bagaimanapun, Yerussalem menjadi saksi atas keluhuran tempat yang oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Suci (Temple Mount) tersebut.

Kota ini merupakan representasi tiga umat sekaligus, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Di Yerussalem, tampak orang-orang Yahudi melaksanakan ibadah, terutama di Tembok Ratapan di puncak Gunung Moria. Gereja-geraja yang berdiri megah di sekeliling kompleks juga memperkuat fakta bahwa Yerussalem berada dalam “asuhan” agama-agama samawi.

Sayangnya, meski memiliki akar yang sama, para pemeluk agama-agama itu tidak mampu hidup berdampingan. Selama puluhan tahun, perselisihan di antara mereka tidak bisa dihindarkan. Kondisi demikian diperparah dengan banyaknya tentara Israel bersiaga di seluruh sudut kota dengan senjata dan kendaraan berlapis baja. Dalam buku Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan (2008: xxx) tercatat bahwa harapan bagi terciptanya kedamaian Yerussalem kerap diupayakan. Berbagai langkah untuk mengakhiri permusuhan antar umat beragama berulangkali dilakukan. Akan tetapi, upaya tersebut belum memberikan hasil memuaskan.

Related For Sakralitas Al-Aqsha