Islam dan Keindahan

Saturday, December 30th 2017. | Keajaiban

Penutup Ka’bah (kiswah) selalu “berganti muka” setiap tahun. Penggantiannya dilaksanakan ketika kota Mekkah sepi peziarah. Proses ini biasanya berlangsung ketika jamaah haji tengah berada di Mina. Sebelum masa inilah sayembara besar digelar, sehingga para penjahit dan seniman dunia saling berkompetisi memperoleh peluang emas. Mereka ingin ikut ambil bagian dalam proses menjahit kerudung Ka’bah.

Adalah Al-Mahdi, khalifah Dinasti Abbbasiyah ke-IV, yang memulai tradisi penggantian kiswah. Saat ia menunaikan ibadah haji, penjaga Ka’bah memberitahukan bahwa kiswah mulai tampak rapuh dan dikhawatirkan akan jatuh. Respons datang dari sang khalifah. Ia segera menitahkan agar penggantian kiswah menjadi rutinitas tahunan. Sejak itu hingga sekarang, penggantian kiswah pada musim haji merupakan program pemerintah yang tak ditinggalkan.

Sebenarnya bagian dalam kiswah berwarna putih, walaupun dari luar tampak hitam. Kiswah memuat beberapa kalimat, antara lain nama Allah, kalimat syahadat, tahlil, Ali Imran: 96, Al-Baqarah: 144, surat Al-fatihah, serta surat Al-Ikhlas. Semuanya tampak rapi dengan balutan kaligrafi indah, sehingga mengundang decak kagum para peziarah.

Pada umumnya, kaligrafi yang digunakan untuk memperindah kiswah berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan erat dengan ibadah haji. Berbalut emas dan perak, hiasan kaligrafi tersebut tampak berkilau ketika cahaya matahari menyentuhnya. Penentuan jenis kaligrafi bukan sembarangan. Biasanya jenis kaligrafi yang dipakai adalah Tsulutsi yang termasuk jenis kaligrafi populer. Disebut demikian karena ditulis dengan ujung pelatuk pena yang terpotong sepertiga (tsuluts) goresan. Adalah Ibnu Muqlah, seorang menteri (wazir) pada masa Dinasti Abbasiyah, yang dianggap sebagai pencetus sekaligus peletak dasar kaligrafi jenis ini.

Boleh jadi, pemilihan corak Tsulutsi dalam upaya mempercantik kiswah memiliki beragam pertimbangan, antara lain keindahan dan keluwesannya. Kaligrafi kiswah berhias ornamen-ornamen Islam dengan sulam timbul dari benang perak bersepuh emas. Pada setiap sisi Ka’bah tersusun 16 bagian dengan beragam ukuran, sehingga tempat ibadah kepada Allah yang berdiri pertama kali di muka bumi tersebut tampak lebih anggun dan mewah. Keindahan kaligrafi sebagai sabuk kiswah menjadi bukti bahwa umat Islam memiliki nilai seni dan cita rasa yang tinggi.

Ayat Surga

Ayat-ayat dalam kitab suci yang berkaitan dengan surga berperan sebagai pembimbing kaum beriman. Ayat-ayat tersebut menguraikan nilai-nilai estetika dan kecantikan yang telah ditunjukkan oleh Allah. Dengan menyaksikan tanda kebesaran Sang Khalik, orang-orang beriman berusaha menciptakan “gambaran surga”.

Barang-barang perhiasan merupakan salah satu anugerah Allah yang dilimpahkan kepada orang-orang beriman di dunia. Manfaat penciptaan emas dan perak adalah sebagai perhiasan, mutiara, bahan-bahan pakaian indah, serta benda-benda lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur`an. Di samping untuk menghibur dan menyenangkan manusia, keindahan-keindahan ini juga bakal dianugerahkan oleh Allah di surga kepada hamba-hamba-Nya yang tulus dan ikhlas, “Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak.” (Q.S. Al-Insaan: 21).

Dalam ayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra.” (Q.S. Al-Hajj: 23).

Konsep Estetika

Dalam pandangan Harun Yahya, pemikir Islam asal Turki, sebagai imbalan atas semua keindahan hasil karya Sang Pencipta yaitu tuntutan bagi manusia untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah dengan mematuhi semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mereka yang bersedia mematuhinya kelak dikaruniai surga dan menerima keindahan-keindahan tak terbatas untuk selamanya.

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terindah. Dia juga memberikan ilham kepada manusia agar menikmati berbagai rupa kecantikan. Di antara semua ciptaan, hanya manusia yang mengenal dan memahami konsep “kecantikan” dengan tidak saja menikmatinya, melainkan juga berusaha membuatnya.

Harun Yahya juga melihat bahwa melalui sejumlah tanda dalam kitab suci, Allah telah mengeksplorasi aneka rupa kecantikan sekaligus mendorong hamba-hamba-Nya untuk menikmatinya. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah, ‘Semuanya itu disediakan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja di hari kiamat).” (Q.S. Al-A’raaf: 32)

 

tags: ,

Related For Islam dan Keindahan