Tafa’ul dan Tathoyyur (Bagian II)

Friday, December 29th 2017. | Aswaja

Tathoyyur biasa disebut dengan thiyarah. Dua lafadz ini adalah bentuk masdar dari تَطَيَّرْتَ atau اطَّيَرْتَ. Dilihat dari segi bahasa, tathoyur atau thiyarah berarti burung. Sedangkan menurut Syara’ thiyarah adalah tasyaaum (merasa mendapat keburukan) dengan suatu ucapan, perbuatan, atau perkara yang dilihat.

Pada dasarnya thiyarah mengarah pada setiap orang yang menggantungkan diri pada seekor burung, baik gerak-gerik maupun suaranya. Ke mana burung itu pergi, maka ke situ arah kehidupan akan dijalani. Orang Arab dahulu melakukan thiyarah dengan cara mengusir atau menerbangkan kijang atau burung. Apabila keduanya berlari ke arah kanan, maka mereka menganggapnya baik, dan bersiap meneruskan perjalanan atau aktivitasnya. Namun, apabila berlari ke arah kiri, maka mereka menundanya, seakan melihat nasib buruk bersiap menerkamnya.

Sebagian orang mempunyai anggapan buruk sebab suara sebagian burung seperti burung hantu atau burung gagak. Mereka berkata, “Sesungguhnya burung itu membawa kabar buruk.” Ada yang beranggapan buruk dengan adanya benda hitam di awan atau kecelakaan yang tiba-tiba terjadi. Ada pula yang merasa keburukan akan melandanya pada awal pernikahannya. Sementara itu, orang Jawa terbiasa mengkhawatirkan datangnya bulan seperti bulan Safar dan ulan selo, atau hari naas semisal dino geblake si mbah.

Begitu juga dengan penjual. Saat membuka tokonya, datang seorang yang pincang hendak membeli dagangannya. Akan tetapi, dia menolaknya. Dia tidak mau menjual sesuatu kepada orang cacat sebelum mendapatkan pelanggan dengan fisik normal. Dia mempunyai firasat akan mendapat hal buruk  bila melayani orang tersebut.

Lebih buruk lagi, mereka yang mendapat kebaikan, lalu menyandarkannya pada diri sendiri, dan saat mendapat keburukan, ia bertathoyyur kepada sesuatu. Sebagaimana yang dilakukan oleh Fir’aun dan kaumnya.

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوْا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوْا بِمُوْسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلاَ إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللهِ وَلكِن أَكْثُرهم لا يعلمون

Artinya: “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Al-A’raf: 131)

Sebuah Larangan

Rasulullah Saw. melarang umatnya berthiyaroh. Beliau mengatakan bahwa thiyaroh termasuk syirik asghor (syirik kecil). Hal ini dikarenakan thiyaroh bisa menghilangkan kesempurnaan dan keutuhan tauhid. Di samping itu, adanya keyakinan dalam hati pelaku bahwa sesuatu bisa menarik kemanfaatan dan menolak bahaya. Unsur syirik inilah yang menjadi landasan keharaman thiyaroh, meskipun sebagian ulama menghukuminya makruh tahrim. Nabi Saw. bersabda:

لاَ عُدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ

Artinya: Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan sial karena sebab tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (H.R. Al-Bukhari)

Dalam hadits lain, disebutkan bolehnya thiyarah dalam tiga hal. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra. Bahwa rasulullah saw. bersabda:

لاَ عُدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَالشُّؤْمُ فِى ثَلاَثٍ : فِى الْمَرْأَةِ وَالدَّارِوَالدَّابَّةِ

Artinya: Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah (anggapan buruk), dan merasa mendapat keburukan itu dalam tiga perkara:  istri, rumah, dan hewan ternak. (H.R. Bukhari)

Rasulullah Saw. memperbolehkan seseorang merasa tertimpa keburukan dalam tiga hal di atas, karena tidak termasuk dalam kategori thiyarah yang dicegah. Ketiganya bisa dirasakan keburukannya. Misalnya istri yang mandul, tetangga dengan perangai buruk, serta hewan yang tidak bisa melahirkan dan  memiliki banyak cacat.

Ikhitar Penolakan

Thiyaroh termasuk pengeridu atau godaan setan. Boleh jadi, setiap orang pernah mengalaminya. Untuk menghilangkannya, seseorang harus selalu bertawakal kepada Allah.  Thiyaroh tidak akan mendatangkan bahaya kecuali pada seseorang yang berprasangka pada sesuatu. Orang yang sama sekali tidak meyakininya tidak akan menemui kesialan.

Disebutkan dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan Abdullan bin Umar ra.

 

مَنْ عَرَضَ لَهُ مِنْ هَذِهِ الطِّيَرَةِ شَيْءٌ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.  رَوَاهُ الْبَيْهَقِى

Artinya: Barang siapa yang dalam hatinya mulai muncul tanda-tanda thiyaroh maka berdo’a: Wahai Tuhanku, tidak keburukan kecuali keburukan yang engkau taqdirkan dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang engkau taqdirkan, dan tidak tuhan selain engkau.” (H.R. Baihaqi)

Lihat Tafa’ul dan Tathoyyur (Bagian 1) 

[Muslimin Syairozi]

tags: ,

Related For Tafa’ul dan Tathoyyur (Bagian II)