Kunci Sukses Seorang Da’i

Thursday, December 28th 2017. | Uncategorized

Di antara ciri seorang da’i yang sukses adalah mempunyai keluasan ilmu dan mampu menyampaikan ilmu dengan benar, dan tentu saja dengan hikmah. Dua aspek ini menjadi sandangan pokok baginya. Bila penyeru di jalan Allah Swt. hanya berbekal ilmu yang minim, maka dikwatirkan ketika ia ditanya masyarakat tentang suatu hukum yang tidak diketahui, ia akan menjawab pertanyaan itu asal-asalan. Sekiranya rasa malu kepada masyarakat jauh lebih besar daripada rasa malu kepada Allah dan rasul-Nya.  Hal ini banyak sekali terjadi di kalangan para da’i. Disebutkan dalam Surat Al-Isra’ ayat 36 yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (Q.S. Al-Isra’: 36)

Keluasan ilmu dapat diperoleh dengan cara banyak mengaji kepada seorang guru. Di zaman ini, seorang guru sangatlah penting. Guru yang “benar-benar guru”, yakni memiliki sanad yang menyambung kepada ulama salaf. Sulit membedakan antara kiai dengan petani. Terkadang kiai berprofesi petani, sementara itu banyak petani yang juga sekaligus menjadi kiai. Keduanya mampu berbicara tentang agama, karenanya sangat penting ber-tabayyun kepada guru. Tabayyun tidak harus dilakukan secara langsung, melainkan bisa melalui riwayat hidup mereka saat menimba ilmu.

Keluasan ilmu juga dapat dicapai dengan rajin membaca. Banyaknya perbendaharaan bacaan akan menambah kebijakan dalam menyikapi masyarakat. Membaca akan membantu dalam membedakan benar dan salah. Namun demikian, bahan bacaan harus dipilih dengan ketat. Apalagi, banyak sekali bacaan yang bertolak belakang dengan ajaran Ahli Sunah wal Jamaah. Bahkan, aliran-aliran baru yang  menyimpang lebih agresif dalam membuat artikel. Mereka menjadikan internet sebagai sarana ampuh. Media sosial yang menjadi kebutuhan masyarakat menjadi lahan besar untuk menyebarkan ajaran mereka.

Perkembangan zionisme, kapitalisme, sekuralisme selalu memanfaatkan media. Sehingga, berita-berita yang ada banyak berisikan ideologi mereka. Mereka perhias tulisan-tulisan mereka dengan al Qur’an dan Hadits yang dipahami hanya dengan nafsu. Seorang da’i harus ber-tabayyun dengan artikel-artikel tersebut sekaligus melihat background penulisnya. Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(Q.S. Al-Hujurat: 6)

Alasan utama perintah tabayyun (memeriksa dengan teliti) yaitu adanya orang-orang fasik yang sangat senang menyebarkan fitnah. Misalnya melalui media. Berita meluas melalui internet, dan dalam waktu singkat disebarkan netizen. Padahal, mereka belum sepenuhnya memahami apa yang telah dibaca. Dalam hal inilah, seorang da’i seharusnya menulis artikel sesuai pemahaman ulama salaf sekaligus berusaha menolak pemahaman yang menyimpang.

Seperti disebutkan sebelumnya, seorang da’i menyampaikan ilmu dengan benar dan hikmah. Begitu berat menyampaikan kebenaran di zaman akhir. Banyak sekali da’i yang terserang penyakit duhn. Mereka takut menyampaikan kebenaran karena mengharapkan pemberian orang lain. Seorang penceramah tidak berani menyampaikan kebenaran yang menyinggung hati orang yang mengundangnya karena takut tidak akan diundang lagi.

Dalam berdakwah da’i mengambil tema sesuai apa yang terjadi di masyarakat dengan memberi pemahaman terbaik untuk permasalahan mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ta’lim al Muta’allim, Nabi bersabda, Mencari ilmu adalah fardlu ‘ain bagi semua orang Islam. Yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu hal, yakni ilmu yang berhubungan dengan keadaan mereka. Kewajiban masyarakat mempunyai ilmu atas setiap hal yang mereka lakukan menuntut seorang da’i memberi tema yang dibutuhkan.

Teladan dalam menyampaikan kebenaran dengan risiko besar genap diberikan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau harus memberitakan apa yang beliau alami, yakni isra‘ mi’raj. Beliau mengetahui bahwa dengan menyampaikan peristiwa besar itu akan membuat banyak kaum Quraisy membenci beliau, dan menyingkirnya orang-orang yang sebelumnya bersama beliau. Meski isra‘ mi’raj sangat jauh dari nalar manusia, namun peristiwa tersebut benar dan nyata. Dengan tegas beliau menyampaikan apa yang beliau peroleh dari isra‘ mi’raj. Setelah turun dari Mustawa, beliau menyampaikannya kepada Abu Jahal dan Suku Quraisy. Mereka mendustakan kebenaran nabi. Orang-orang yang sebelumnya membenarkan kenabian beliau, sedikit demi sedikit mulai diserang keraguan. Hanya satu orang yang tetap membenarkan beliau, yakni Abu Bakar ra. Hingga setelah beberapa tahun kemudian, banyak yang meyakini kebenaran Rasulullah Saw. Bagaimanapun, kebenaran akan menang dan kebatilan akan disirnakan.

Satu lagi ciri da’i yang sukses dalam menyampaikan kebenaran adalah berdakwah secara benar di hadapan para penguasa zalim. Terdapat hadits yang disebutkan dalam kitab al Mu’jam al Kabir

أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

 Artinya: “Jihad yang paling afdhal adalah berkata benar di hadapan pemimpin zalim”.

Risiko ditangkap, dipenjara, atau dibunuh menjadi bayang-bayang yang mengerikan. Penguasa lebih sensitif dalam menyikapi setiap ucapan yang ditujukan pada mereka. Jika tidak secara bijak menyikapinya, seorang da’i bisa jadi hanya menjadi bulan-bulanan mereka lantaran keseleo lidah. Namun, selagi yang diucapkan adalah kebenaran, maka segala risiko bernilai baik di sisi Allah Swt.

tags: , ,

Related For Kunci Sukses Seorang Da’i