Lelaki Pengeja Mimpi

Wednesday, December 27th 2017. | Cerpen

Bulan lindap. Hujan mulai menggenangi bumi Al-Ihya. Malam seperti kepak sayap malaikat; bintang-gemintang sempurna lesap dari pandangan mata. Dari langit, sesekali halilintar terdengar memecah keheningan paling sunyi.

Di bilik sepi, saat hampir seluruh santri tenggelam dalam pelukan mimpi, Ridwan melangkahkan kakinya menuju mata air. Membersihkan segala yang dzahir, lalu doa-doa terbit dari bibirnya yang basah oleh untaian dzikir, memuji keagungan Tuhan. Menyerahkan segalanya, adalah manusia paling alpa di atas bumantara.

Santri kesayangan Abah Im itu tertunduk, khusyuk. Gerimis dari pelupuk matanya membanjir, menciptakan sungai-sungai kecil sepanjang untaian doa, sepanjang malam-malam cahaya. Seorang santri menyenandungkan ayat-ayat Ilahi, alunannya begitu menyayat hati. Dua tiga santri dengan shaff yang berbeda tampak memesrai sang Khalik lewat sujud panjang Tahajjud, juga dzikir kerinduan paling moksa di antara malam kidung renjana.

Ridwan teringat dawuh Abah Im dua minggu lalu. Beliau memintanya untuk menjadi muadzin selama empat puluh hari tanpa jeda. Jika ternyata di persimpangan jalan ada waktu yang terlupakan, maka ia harus mengulanginya lagi dari awal. Saat itu, ia hanya sendiko dawuh, karena dalam mana pun, tak dibenarkan baginya untuk sekadar bertanya. Ridwan hanya berkata, ‘nggih’, saat menerima dawuh itu.

“Kalau sudah selesai, lekaslah ke rumah saya,” permintaan Abah Im selanjutnya. Dan lagi, Ridwan hanya mampu mengangguk takdzim.

Itu perkataan Abah Im, setelah Ridwan tengah menempuh perjalanan kurang lebih dua minggu dalam dirinya menjadi seorang muadzin. Ia sebenar-benar tak pernah menyangka, karena dekat di depan mata, banyak sekali seorang santri yang memiliki suara emas bagai soneta di taman surga.

Ridwan hanya mengikuti alur yang telah Tuhan gariskan. Baginya, diberikan kesempatan menuntut ilmu di Pesantren Al-Ihya ‘Ulumaddin asuhan Romo Kiai Haji Imdadurrohman Al ‘Ubudy, adalah sebuah anugerah yang terlalu mahal untuk digadaikan dengan apa pun. Ia tak ingin menyia-nyiakan apalagi mematahkan harapan orangtuanya, yang telah bersusah payah berusaha untuk tetap diberi kekuatan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan yang –baginya– terasa begitu pahit. Nyatanya, keluarganya memang tak seberuntung keluarga-keluarga yang lain, yang mampu menyekolahkan putra-putrinya hingga ke jenjang tertinggi, apalagi hanya sekadar memondokkan anaknya di pesantren.

Hanya niat yang tulus dan tekad yang kuat, serta doa yang tak pernah putus dari tali rantai kasih-sayang, orangtuanya memondokkan Ridwan ke sebuah pesantren di Kesugihan, Cilacap.

Orangtuanya berharap, kelak Ridwan menjadi hutan; yang meneduhkan, mendamaikan, memberikan banyak kemanfaatan bagi orang lain. Pun, menjadi laut; yang di dalamnya memiliki hati setegar karang, saat gelombang ujian menerpanya di kehidupan yang akan datang.

“Belajar yang serius, Wan. Ngaji sama sekolahnya yang rajin, taati semua peraturan pesantren.” Pesan orangtuanya, saat hendak mengantarkan Ridwan ke penjara suci, tempat orang-orang menempa hati dan meretas ridla Ilahirabbi.

“Iya, Bah.” Dalam hening, Ridwan mencoba memahami tiap kalimat yang ayahnya katakan. Ia ingin… jika belum mampu membahagiakan orangtuanya, setidaknya Ridwan selalu menjaga segalanya agar tak menyakiti mereka, termasuk dalam hal bertutur kata.

“Tidak usah terlalu berambisi dengan hal-hal yang sifatnya duniawi. Cukup menjadi Iwan yang baik, yang bermanfaat bagi orang lain. Ayah sama ibu sudah senang. Kami doakan, semoga Iwan menjadi anak yang shaleh, yang berguna bagi Agama, Nusa, dan Bangsa.” Pesan dan doa menjadi penutup percakapan mereka. Selebihnya, di antara embusan angin, malam adalah perigi paling sunyi yang selalu menyetubuhi mimpi.

“Apa yang akan kauberikan untuk orangtuamu, Ridwan?” Tiba-tiba, suara Ustadz Yusuf memecah hening musim dingin, lamunan sepi itu akhirnya terempas begitu saja. Saat itu, Ridwan tengah menikmati malam dengan segala keindahannya; bulan beraroma tembaga, dan cahaya bintang, serupa merkuri yang cahayanya membias di batas cakrawala.

“Iwan belum tahu, Ustadz. Mungkin hanya doa yang saat ini bisa saya berikan.” Jawab Ridwan, keluguannya mampu mengubah siapa pun yang membenci, menjadi untaian kasih sayang tak bertepi.

“Saat ini, itu sudah cukup. Harapan orangtua kamu, dan semuanya, pasti ingin anaknya bahagia. Maka, selagi kamu masih diberi kesempatan untuk menuntut ilmu, pergunakanlah waktumu dengan sebaik-baiknya. Karena tidak ada jalan yang mudah menuju kebahagiaan, Ridwan. Apalagi kebahagiaan yang hakiki. Kita seibarat perahu yang ingin menyeberangi lautan, jika perahu itu hanya diam di atas daratan, pastilah tak akan pernah bisa berjalan, bukan?  Seperti halnya keinginan dan sebuah cita-cita, jika kita tak mau menempuh jalannya, harapan itu hanya tinggal sebuah angan-angan yang tak akan pernah menemukan muara.”

Ridwan mengangguk. Asa adalah tentang sebuah pengharapan yang di dalamnya ada proses dan doa yang harus kita satukan.

Muharram sebentar lagi akan datang, dan pada saat itu tugas Ridwan menjadi muadzin selama empat puluh hari telah usai.

Dalam rangka menyambut event tahunan, pondok pesantren Al-Ihya ‘Ulumaddin mengadakan berbagai acara; Seminar Keghazalian, Maulid Simtudduror, Pelatihan Kepenulisan, Khataman Kitab-kitab alat, dan malam puncaknya adalah pengajian akbar.

Ridwan tengah latihan khataman di aula, saat khadam atau santri ndalem Abah Im memanggilnya, “Kang Ridwan, ditimbali Abah, sekarang.” Sedikit gugup, akhirnya Ridwan meminta izin kepada panitia khataman. Dalam hatinya, ia masih bertanya-tanya meski mungkin Abah Im akan dawuh tentang tugas adzannya yang telah paripurna.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam, silakan masuk…”

Abah Im duduk bersila, meletakkan ‘Majalah Langitan’ edisi terbaru yang beberapa menit lalu sempat menemaninya.

Ridwan duduk takdzim di hadapan beliau. Hatinya sedikit gugup, pikirannya mengelana jauh.

“Kang Ridwan,” Abah berdehem, satu kali.

“Iya, Bah.” Masih dengan wajah tertunduk, Ridwan menjawabnya.

Abah Im mengambil sebuah amplop dengan kop berwarna hijau yang terletak di atas meja, kemudian membukanya, sebuah kertas yang terlipat rapi diberikan kepadanya.

“Kamu baca undangan ini, Kang Ridwan.” Dawuh Abah Im, dengan senyum tulus yang terpancar dari wajah teduh beliau.

Ridwan menerima kertas itu dengan perasaan rikuh. Kemudian membukanya perlahan…

Undangan Perlombaan Lukisan Kaligrafi Tingkat Provinsi

Waktu; 22 Oktober 2018

Tempat; Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang.

Sejenak Ridwan tertegun, ia masih belum paham akan maksud Abah Im.

“Kamu bisa ikut, Kang Ridwan. Perwakilan dari Pesantren Cilacap. Nanti segala persyaratan biar diuruskan sama pengurus.” Seolah mengerti, Abah Im menjelaskan perihal undangan yang saat ini ada di tangan Ridwan.

“Tapi, Ridwan belum benar-benar menguasai teknik Melukis Kaligrafi yang baik, Bah. Takut nanti akan mengecewakan.” Sekali lagi Ridwan berpikir, karena memang di pesantren ini bukan hanya dia yang –sedikit– mampu melukis Kaligrafi.

“Ini bukan masalah menang atau kalah, Kang. Tapi dalam rangka partisipasi dari Cilacap, khusunya dari Pesantren Al-Ihya ‘Ulumaddin.” Jelas Abah Im. “Jika toh nanti ternyata Kang Ridwan menang, itu hanya bonus saja. Dan jika kalah, ambillah pelajaran dan pengalamannya.” Lanjut Abah Im, bijak.

Ridwan mengangguk paham. Mungkin ini salah satu jalan baginya untuk meraih mimpi. Walau bagaimanapun, Ridwan pernah membayangkan suatu saat nanti, ia menjadi seorang pelukis kaligrafi hebat yang baik. Yang lewat karyanya, ia bisa keliling Nusantara, dan jika Tuhan mengizinkan, ia ingin keliling Dunia.

Lewat tangan Tuhan, ia bisa menggoreskan aksara dengan segala keindahan kuasa-Nya; Langit-Bumi seisinya adalah inspirasi baginya untuk mengeja mimpi. Dan mungkin saja, ini adalah sebuah jawaban atas doa-doa orangtuanya yang senantiasa dilangitkan. Dengan segala kerendahan hati dan restu dari Abah Im, Ridwan akan mengikuti perlombaan Lukisan Kaligrafi.

Meski dawuh dari Abah Im telah purna, Ridwan masih sering adzan di Masjid Al-Ihya. Bukan apa-apa, terkadang, ia merasa harus adzan saat muadzin yang lain tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.

Seperti pagi ini. Suasana masih begitu sepi. Embusan angin sesekali menyapa daun-daun mangga yang tumbuh di antara komplek Sabilul Hidayah dan komplek Raudlatul Qur’an, hawa dingin seketika menyergap ia yang hendak mengambil air wudhu. Suara gemericik air yang jatuh dari pancuran paralon mencipta ricik yang bisik. Sayup-sayup, dari Masjid yang lain terdengar suara tarhim mulai bersahutan.

Lima menit kemudian, Suara Ridwan yang mengumandangkan adzan shubuh terdengar begitu syahdu.

“Ridwan, kamu mau ikut lomba Lukisan Kaligrafi?” tanya Ustadz Yusuf, saat mereka tengah duduk di aula komplek, usai muhafadzah ba’da shubuh.

“Ustadz tahu dari mana?” Ridwan malah balik bertanya.

“Dari Kang Faiz, pengurus bagian Sekretaris. Beliau juga yang nanti akan membimbing Ridwan. Beliau bilang, kamu diminta sama Abah Im untuk mewakili Al-Ihya. Kemarin Kang Faiz juga sudah menyiapkan beberapa persyaratannya.”

“Iya, Kang. Mohon doanya. Semoga Iwan sukses.”

“Iya, Ridwan. Itu pasti, tanpa kamu meminta pun, pasti saya doakan.” Kata Ustadz Yusuf seraya tersenyum.

Beliau bangga memiliki teman santri yang baik lagi lugu. Teringat beberapa hari lalu, Ridwan sempat mengatakan kalau orang yang pendiam itu pasti baik. Tapi Ustadz Yusuf kurang bersetuju, baginya, tidak semua orang pendiam itu baik. Pun sebaliknya, tidak semua orang yang baik itu pendiam. Mereka sempat sedikit saling bersikukuh, meski akhirnya, semua itu hanya sebagai candaan dua orang santri yang sama-sama masih mencari jati diri.

Waktu pelaksanaan lomba Lukisan Kaligrafi semakin dekat. Ustadz Yusuf yakin, Ridwan pasti akan sukses. Melihat beberapa bulan lalu, Ridwan sempat menyerahkan sebuah lukisan kaligrafi yang teramat indah; sebuah lafal Subhanallah di antara air terjun yang mengalir di atas danau kecil yang penuh bebatuan. Di belakangnya, ada hutan dengan pohon-pohon rindang menaungi sebuah gubuk kecil di atas bukit yang menghubungkan air terjun dengan danau kecil itu. Beliau percaya, itu adalah sebuah mahakarya agung yang luar biasa.

“Semoga sukses, Ridwan.” Doa Ustadz Yusuf mengiringi keberangkat Ridwan bersama Ustadz Faiz ke Semarang.

“Aamiin. Terima kasih, Ustadz.”

~**~

SEMARANG siang ini begitu terik, semua peserta dari berbagai daerah berkumpul di Aula Masjid Agung. Ridwan sudah siap menggoreskan aksara dan lafadz-lafadz keagungan di atas kanvas yang beberapa jam lalu dibagikan oleh panitia. Bismillah… Ridwan memulainya.

Dua jam berlalu.

Perlombaan telah usai, seuntai senyum terpancar dari bibir Ustadz Faiz.

“Ini bukan tentang kalah atau menang, Iwan. Tapi tentang perjuangan dalam mengharumkan nama baik almamater pesantren. Ingat ‘kan, kata-kata Abah Im tempo lalu. ‘Pengalaman itu terlalu mahal untuk dibayar dengan hadiah yang ditawarkan oleh panitia, dan saat ini, atas izin Allah, kamu mendapatkan semuanya, Wan.” Ustadz Faiz terlalu bereuforia. Ia memeluk Ridwan seraya memberikan selamat atas prestasinya.

“Iya, Ustadz. Terima kasih banyak atas bimbingannya.” Jawab Ridwan, masih dengan hati yang sedikit tak percaya.

Mereka bersiap-siap kembali ke Ma’had tercinta.

~**~

Teruntuk, Adikku; Muhammad Ridwan

Ia membaca sebuah amplop surat yang ditulis oleh Ustadz Yusuf. Waktu itu, Ridwan baru saja sampai di pesantren. Galih, teman sekamarnya memberikan surat itu dengan sedikit gagu. Ia takut, Ridwan akan sedih mengetahui kabar itu…

“Ustadz Yusuf ke mana?”

Ridwan tak mendapatkan jawaban apa-apa. Komplek Sabilul Hidayah malam ini terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Saat itu, Ridwan hanya mampu menerka-nerka dalam hati, ‘Ke manakah Ustadz Yusuf?’

Di kamar Al-Badru, Ridwan menyandarkan punggungnya. Pelan-pelan ia membuka surat itu dan mulai membacanya…

Assalamu’alaikum, wr, wb…

Ridwan, maafkan saya… Saya pamit. Maafkan saya tidak sempat menemui Ridwan. Semoga kamu baik-baik saja.

Dan maafkan saya pula, tidak bisa memberikan ucapan selamat secara langsung atas kesuksesan Iwan. Saya yakin, kamu pasti berhasil. Dan benar, Ustadz Faiz telah mengkhabarkan hal itu sebelum kamu kembali ke Ma’had.

Saya harus pulang, Wan. Tepat setelah kamu berangkat ke Semarang, sakit asam lambung yang sudah saya  biarkan beberapa bulan ini kambuh, mungkin sudah terlalu akut. Dan ibu, langsung memintanya untuk segera pulang. Do’akan saya, semoga Allah segera mengangkat segala macam penyakitnya. Aamiin.

Tetaplah menjadi Iwan yang baik, yang selalu tunduk dengan segala peraturan Kiai. Teruslah menjadi Lelaki Pengeja Mimpi yang akan mengharumkan nama Al-Ihya. Kapan dan di mana pun kamu berada.

Semoga, kelak kamu menjadi anak yang sukses, yang selalu berbakti kepada kedua orangtua, berguna bagi Agama, Nusa, dan Bangsa. Aamiin…

Wassalamu’alaikum, wr, wb…

From; Maulana Yusuf Habibi

Ridwan hampir tak percaya membaca surat itu. Hatinya terasa kelu. Badai seperti menghanyutkan segala perasaannya; antara sedih, bahagia, dan kecewa telah menguasai sebongkah hati dan pikirannya.

Malam semakin meraja, embusan angin dan derai air hujan yang tiba-tiba turun dari langit menjadi sonata yang tak lagi indah untuk dirasakan.

Pada sebuah kamar yang hanya diterangi oleh lampu pijar, Ridwan  tenggelam bersama aliran airmatanya yang jatuh bersama untaian doaa… []

 

Muhrodin “AM”*

Adalah lelaki penyuka hujan dan senja. Lahir di Lampung, 23 Februari. Saat ini masih tercatat sebagai santri Pon-pes Al-Ihya ‘Ulumaddin, Kesugihan 1, Cilacap. []

tags: , , , , ,

Related For Lelaki Pengeja Mimpi