Hak Keluarga Nabi Saw  

Monday, December 18th 2017. | Qur'an

 

 

 

[قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللهَ غَفُورٌ شَكُورٌ [الشورى/23

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

 

Sababun Nuzul

Dalam salah satu riwayat Qotadah berkata, “Orang musyrik berkumpul dalam perjamuan mereka. Sebagian dari mereka berkata: ‘Apakah kalian tidak melihat bahwa Muhammad meminta upah atas apa yang telah dia sampaikan?’ Lalu Allah menurunkan ayat di atas.

Ibnu Abbas berkata, “Ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, pada saat itu beliau memiliki banyak tanggungan dan hak-hak yang harus dilunasi serta saat itu beliau tidak memiliki keluasan. Kemudian orang Anshor berkata: ‘Sungguh lelaki ini telah menunjukkan kalian semua jalan menuju Allah. Dia adalah adalah putra dari saudari perempuanmu dan saat ini dalam keadaan kurang, maka kumpulkanlah sebagian hartamu dan bawalah kepadanya untuk menolongnya.’ Mereka pun melakukannya dan mendatangi Rasulullah Saw seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah putra saudari kami dan Allah telah memberikan petunjuk kepada kami lewat tanganmu dan sekarang engkau memiliki banyak tanggungan dan hak yang harus dilunasi, kami kemudian sepakat untuk mengumpulkan sebagain harta kami untukmu dan mendatangimu agar engkau menggunakannya melunasi tanggunnganmua.’ Lalu Allah Swt menurunkan ayat ini. (Asbabun Nuzul lil Wahidi 133, Lubabun Nuqul lis Suyuti 172). Tentang sebab turunnya ayat ini, Ibnu Katsir menilai bahwa keterangan bahwa sebab turunnya ayat ini terjadi di Madinah perlu dikaji ulang, karena ayat ini adalah diturunkan di Makkah. (Ibnu Katsir [2] : 201)

 

Makna Ayat

Secara umum dalam ayat ini Allah Swt memerintahkan kepada Rasulullah Saw untuk mengatakan kepada kaum musyrikin Makkah bahwa beliau tidaklah meminta upah apa pun atas nasehat-nasehat dan petujunjuk yang beliau sampaikan kepada mereka. Beliau hanya meminta kepada mereka tidak melakukan kejelekan kepada beliau dan meminta kepada mereka untuk membiarkan beliau menyampaikan risalah Allah. Serta mengharapkan kepada mereka bila tidak mau menolong, maka janganlah menyakiti diri Rasulullah Saw karena diantara Nabi Saw dan mereka orang kafir Quraisy memiliki tali ikatan saudara dan kerabat.

Kemudian dalam lanjutannya ayat Allah memberikan janji kepada siapa pun yang berbuat baik. Allah akan menambahkan kebaikan kepada mereka dengan memberikan balasan dan pahala serta ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt senantiasa memaafkan sebanyak apapun kesalahan yang dilakukan manusia dan memberikan balasan yang banyak untuk sedikit kebaikan yang dilakukan oleh mereka agar para manusia lebih banyak dan menambah rasa syukurnya kepada Allah Swt..

Yang harus diperhatikan dalam ayat ini adalah makna al Mawadda fi Qurbah. Dalam masalah ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya meriwayatkan beberapa makna. Makna pertama, Rasulullah Saw tidaklah meminta pahala apapun yang disampaikan kepada orang-orang kecuali hanya agar mereka mau mengerjakan hak-hak Allah dan mau mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw bersabda tentang ayat ini, “Aku tidaklah meminta upah apapun atas yang aku sampaikan kepada kalian berupa bukti-bukti dan petunjuk kecuali kalian mau mendatangi hak-hak Allah dan mau mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan ketaatan padanya.”

Makna kedua, Rasulullah Saw hanya meminta agar hak-hak kekeluargaan Rasulullah Saw dipenuhi yaitu hak untuk diperlakukan dengan baik sebagai seorang keluarga dan memiliki tali ikatan dengan mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw berkata kepada kaum Quraisy, “Aku tidaklah meminta upah apapun atas hal itu, kecuali kalian memenuhi hakku yang memiliki ikatan keluarga dengan kalian dan kalian menjaga tali kekeluargaan yang ada diantara diriku dan kalian.”

Selain kedua makna ini, terdapat makna lain sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Bukhori dan lainnya yaitu, tidaklah boleh seseorang mengingkari tentang ahlu bait, ayat ini juga memerintahkan untuk selalu berbuat baik dan selalu memuliakan mereka. Mereka adalah keturunanan yang suci, berasal dari rumah termulia yang ada di muka bumi baik keunggulannya, nasab dan derajatnya, terlebih lagi ketika mereka adalah orang-orang yang alim dan selalu mentaati sunnah nabawiyah sebagaimana para pendahulunya. Mereka adalah anak cucu al Abbas dan Ali bin Abi Tholib dengan Fathimah az Zahro.

Tentang makna ayat ini, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang itu yang diperintah Allah Swt untuk selalu mengasihinya?” Rasulullah Saw bersabda, “Mereka adalah Fathima dan anak-anaknya.” (Ibnu Katsir [2]: 199-204)

 

Hak Keluarga Nabi Saw.

Keluarga Nabi Saw memiliki hak untuk dipenuhi oleh seluruh umat Islam. Termasuk hak mareka yaitu diikuti, ditaati, dikasihi, dicintai, dihormati, serta dimuliakan. Mereka tidak boleh diremehkan, dianiaya, apalagi sampai dijadikaan bahan ejekan. Imam Ahmad meriwayatkan dari al Abbas bin Abdul Mutholib, beliau berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya orang Quraisy ketika bertemu antara satu dan lainnya selalu dalam wajah yang tersenyum, namun ketika mereka bertemua kami, mereka selalu memasang wajah yang kami tidak pernah melihatnya.” Rasulullah Saw sangatlah marah sekali dan bersabda: “Demi dzat yang menguasai diriku, tidaklah iman itu memasuki hati seseorang sampai dia mencintai kalian (keluargaku) karena Allah dan Rasulnya.”

Dalam al Kasyyaf disebutkan sebuah riwayat bahwa “Surga diharamkan bagi orang yang telah menganiaya keluargaku dan telah menyakitiku dengan menyakiti keluargaku. Barang siapa yang berbuat kebaikan kepada salah satu dari anak cucu Abdul Mutholib serta dia tidak mendapatkan balasan atas kebaikannya tersebut, maka aku akan membalasnya kelak ketika bertemu denganku pada hari kiamat.” (Ibnu Katsir [2]: 202, al Kassyaf [6]: 191) Wallahu A’lam.

tags: , , , ,

Related For Hak Keluarga Nabi Saw