Adab

Thursday, November 23rd 2017. | Pojok Pesantren

 

Yang khas dari pendidikan ala pesantren adalah membentuk karakter, adab atau moral yang terpuji. Termasuk di Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban. Pesantren yang didirikan KH. Muhammad Nur lebih dari 165 tahun ini, mengedepankan pendidikan adab untuk menumbuhkan akhlaqul karimah.

Pendidikan moral menjadi ciri khas Langitan. Ini dimulai sejak pesantren ini berdiri hingga sekarang. Tercatat dalam buku yang mengulas keteladanan pengasuh Langitan, Al Maghfurlah KH. Abdullah Faqih, beliau dikenal sebagai alim ulama yang pengajar sekaligus pendidik berperilaku lembut.

Adalah KH. Ahmad Mustofa Bisri yang memberikan kesaksian dalam buku “Teladan Syaikhina KH. Abdullah Faqih – Seri 2” tentang Mbah Yai Faqih. Menurut Gus Mus, demikian Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin Rembang ini biasa disapa, Mbah Yai Faqih bukan hanya mengajar santri. Tetapi juga mendidik dan mengayomi masyarakat dengan sikap beliau, tidak hanya dengan tutur kata saja.

“Mendidik dalam arti beliau tidak sekedar memberi nasehat. Dan bila beramar ma’ruf nahi munkar, hampir tidak terasa amar maupun nahinya karena kelembutannya itu. Menasehati pun beliau tidak terasa menasehati karena beliau menyampaikan dengan ikhlas dan tidak menggurui,” kata Gus Mus tentang Mbah Yai Faqih.

Beberapa metode yang digunakan Mbah Yai Faqih dalam mendidik santri adalah pembiasaan, ta’zir (hukuman), keteladanan, nasehat dan do’a. Beliau membiasakan perilaku baik, termasuk sopan santun santri kepada ustadz dan yang lebih tua. Santri dibiasakan hidup yang bersih dan rapi, serta selalu berbuat baik kepada sesama.

Ketika menjumpai santri dalam keadaan tidak rapi, Mbah Yai Faqih membenarkan dan memberi contoh yang baik. Beliau juga membiasakan santri untuk bersedekah kepada sesama. Dengan pembiasaan kebaikan setiap hari, akan menghasilkan perilaku yang baik yang istiqomah di kemudian hari.

Pendidikan moral yang diterapkan Mbah Yai Faqih semasa hidupnya, disertai dengan praktek. Bukan sekedar himbauan ucapan saja, tapi dengan contoh nyata dari keseharian beliau. Mbah Yai Faqih pernah dawuh, lisaan al chaal afsahu min lisaan al maqaal (mendidik dengan perbuatan, lebih baik daripada dengan ucapan saja).

Teladan berbuat baik terhadap sesama, salah satunya ditunjukkan dengan sikap dermawan. Bukan sekedar himbauan, Mbah Yai Faqih dikenal suka bersedekah. Maka, meskipun Mbah Yai Faqih telah wafat, sejatinya beliau masih hidup di hati para santri Langitan. Baik santri yang telah boyong, maupun yang masih mondok.

Kebaikan dan nasehat beliau selalu teringat dan dijalankan. Sudah melekat dalam pandangan masyarakat, pendidikan di Langitan lekat dengan adab/akhlaq yang mulia. Santri Langitan dikenal memiliki budi pekerti luhur. Setiap Ramadhan, rutin dikaji kitab Hidaayatu al Adzkiyaa yang melandasi para santri agar berperilaku baik.

Sebagaimana kalam Abuya as Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani, sikap patuh dan rendah hati yang dibarengi dengan sedikit ilmu, itu lebih baik daripada sifat licik dan sombong yang dibarengi dengan banyaknya ilmu. “Aku senang kepada santri yang berani, tapi sopan,” demikian kalam beliau Allahu Yarchamhu.

Abuya as Sayyid Muhammad yang menjadi guru langsung pengasuh Langitan saat ini, KH. Abdulloh Munif Marzuqi, KH. Ubaidillah Faqih, dan KH. Ahsan Ghozali, juga mengatakan, orang alim tidak cukup dengan ilmunya saja, tetapi ia harus memiliki akhlak yang baik. “Akhlak lebih didahulukan daripada ilmu. Aku terlebih dahulu mengajarkan akhlak dan moral, sebelum aku mengajarkan ilmu dan kitab,” kata Abuya.

Pengasuh Ma’had Daarul Musthofa, Hadlramaut, Yaman, al Musnid al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, yang menjadi guru pengasuh Langitan KH. Abdullah Habib Faqih juga menegaskan tentang pentingnya adab. “Orang yang tinggi adab, walaupun kekurangan ilmu, lebih mulia dari orang yang banyak ilmu, tetapi kekurangan adab,” tegas Guru Mulia.

 

(Abdullah Mufid Mubarok)

tags: , , , ,

Related For Adab