Di Balik Cantiknya Sabuk Kiswah

Wednesday, November 22nd 2017. | Cakrawala

Haji merupakan satu-satunya ibadah dalam Islam dengan corak historis. Ibadah ini merujuk serangkaian peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Meskipun demikian, haji bukanlah perulangan dari apa yang genap dialami oleh Khalilullah, sebab sejarah adalah peristiwa unik dan einmalig (berlangsung hanya sekali). Perulangan haji setelah pelaksanaannya yang pertama bukan lagi peristiwa sejarah, melainkan ibadah. Dengan demikian, haji yang dilaksanakan oleh Rasulullah bukan lagi peristiwa sejarah, melainkan ibadah dengan aspek historis.

Sebagai ibadah, pelaksanaan haji dijalankan secara ta’abbudi, dogmatis, formalistis, dan simbolistis. Selain dilengkapi dengan persyaratan tertentu, ibadah ini juga mengandung lambang peribadatan kepada Tuhan. Sebagaimana ibadah lainnya, haji memiliki hikmah dan fungsi, baik bagi individu maupun sosial. Peristiwa haji memiliki beragam nilai bagi kehidupan manusia (M. Shaleh Putuhena, 2007: 57-58).

Dalam buku Historiografi Haji Indonesia disebutkan bahwa apabila seseorang telah memiliki motivasi yang kuat untuk berangkat haji, maki ia tentu akan mengambil keputusan untuk melaksanakannya. Sebelum keberangkatan ke tanah suci, terlebih dahulu ia mengadakan persiapan biaya perjalanan dan pemantapan manasik haji. Di Indonesia, calon haji menerima manasik dari gurunya melalui pembacaan kitab manasik berdasarkan madzhab Syafì ‘i dan terkadang disertai dengan versi tarekat tertentu. Materi-materi yang diberikan dalam manasik haji di Indonesia lebih ditekankan pada rukun, wajib, dan sunat haji, ketimbang sejarahnya.

Pelindung Ka’bah

Sesaat setelah kepulangannya ke kampung halaman, banyak orang Islam menularkan kekagumannya saat menunaikan ibadah haji. Sebagian dari mereka berpandangan bahwa Masjid al-Haram merupakan representasi surga. Di masjid yang didirikan pertama kali oleh para malaikat jauh sebelum diciptakannya manusia inilah jamaah haji merasa takjub atas keindahan Ka’bah, yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam. Keheranan mereka semakin menjadi saat mengetahui bahwa Ka’bah memuat kiswah dengan balutan kaligrafi yang sangat indah.

Kata kiswah bermakna penutup. Sebagaimana artinya, salah satu fungsi kain kiswah adalah menutupi Ka’bah. Oleh warga Arab Saudi, kain yang mengelilingi sisi-sisi ka’bah dengan panjang 45 m dan lebar 90 cm tersebut difungsikan sebagai pelindung Ka’bah dari debu dan kotoran.

Kain ini dikerjakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Adnan bin Ad. Dengan bakat seni yang dimiliki, ia memintalnya dengan kulit unta. Seiring dengan berputarnya roda waktu, bahan baku kiswah berupa kain sutera, emas, dan perak. Tak heran jika biaya pembuatan kiswah menghabiskan sekitar Rp 50 miliar.

Proses Produksi

Sejumlah catatan menunjukkan, kiswah pertama berbahan kain tenunan Yaman berwarna merah dan berlajur-lajur. Pada masa pemerintahan Khalifah Ma’mun ar-Rasyid, pembuatan kiswah dengan warna dasar putih. Pada suatu masa, warna hijau dan kuning juga pernah melekat pada kiswah. Dari tahun ke tahun, program pengadaan kiswah merupakan tanggung jawab para penguasa Arab Saudi pada setiap kepemimpinannya.

Dalam rentang waktu yang lama, perangkat kiswah pernah didatangkan dari Mesir dengan kain sutera hitam sebagai bahan bakunya. Kebiasaan ini dimulai oleh Sultan Sulaiman yang memerintah Mesir hingga masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya pada akhir tahun 1920. Berkendaraan tandu, kiswah-kiswah produksi Mesir tersebut diantar ke Mekkah melalui jalur darat.

Ketidakstabilan suasana ketika meletusnya Perang Dunia I mengakibatkan pengiriman kiswah dari Mesir sempat terlambat. Sehingga, Raja Ibnu Saud (pendiri Kerajaan Arab Saudi) memantapkan diri untuk segera membuat kiswah tanpa bantuan dari luar. Keputusan ini diambil mengingat pada 10 Dzulhijjah kiswah mesti senantiasa diperbarui. Lewat perusahaan tenun di Kampung Jiyad, Mekkah, keinginan tersebut berhasil diwujudkan.

Sejak tahun 1931, sebuah pabrik yang berdiri di pinggir kota Mekkah mulai memproduksi kiswah secara mandiri. Proses pembuatannya dilakukan secara modern dengan memanfaatkan mesin tenun mutakhir. Di pabrik itulah disiapkan perencanaan, pembuatan benang, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, serta pembuatan gambar prototipe kaligrafi. Teknik produksinya diakhiri dengan pemintalan kaligrafi dan penjahitan. Sajian fakta di atas menggambarkan bahwa ternyata pembuatan kiswah menyimpan proses berliku. Demikianlah, menyimak kisah di balik pengerjaannya tentu tak senikmat memandang kiswah ketika terpasang di Ka’bah.

 

tags: , , , ,

Related For Di Balik Cantiknya Sabuk Kiswah