Risiko Kemakmuran

Tuesday, October 3rd 2017. | Essay

Istilah risiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat istilah yang tidak biasa. Banyak orang berusaha menjadi makmur, kyai justru mengingatkan bahwa kemakmuran pun bisa saja membuahkan risiko yang kadang tidak ringan, misalnya perpecahan di antara keluarga, organisasi, dan bahkan komunitas yang lebih besar.

Ketika orang masih miskin,  hidupnya rukun dan damai, tetapi setelah menjadi kaya, justru mereka berselisih, dan atau konflik yang tidak mudah didamaikan. Terjadinya perselisihan dan konflik itu tidak lain adalah  karena kemakmurannya. Ketika sudah kaya, ada sesuatu yang harus dibagi. Tatkala  pembagian itu tidak adil, maka akan mengakibatkan sakit hati, dan akhirnya perselisihan tidak dapat dielakkan.

Tidak saja dalam  lingkup keluarga, konflik yang diakibatkan oleh kemakmuran juga terjadi pada organisasi, dan bahkan juga dalam komunitas yang lebih besar. Pada awalnya, sebuah organisasi  kelihatan rukun dan damai, tetapi setelah datang kemakmuran, justru terjadi keributan.

Tidak sedikit lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan atau organisasi,  pada awalnya mereka bersama-sama berjuang membesarkannya, namun setelah menjadi besar terjadi perselisihan. Ketika dirasa sudah  ada sesuatu yang harus dibagi, dan pembagiannya tidak adil, maka terjadilah saling berebut, dan akhirnya berseteru dan saling menyingkirkan.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kemakmuran ternyata tidak selalu membuahkan kedamaian. Kemakmuran dapat membuahkan risiko yang tidak sederhana. Untuk memperebutkan kemakmuran, orang saling bermusuhan, dan bahkan hingga sampai hati meninggalkan saudara, kawan, dan juga orang yang sudah sekian lama bersama-sama  berjuang.

Pada tataran keluarga, banyak terjadi perselisihan disebabkan oleh pembagian waris, dan atau  kemakmuran. Oleh karena itulah Islam memberikan tuntunan tentang pembagian harta dimaksud. Masing-masing pihak yang  menjadi ahli waris diberikan haknya. Islam dalam mengatur pembagian harta waris hingga detail, yaitu siapa mendapatkan berapa, disebutkan secara rinci.

Mendasarkan kenyataan tersebut, ketika seseorang berdo’a memohon rezeki, selain agar jumlahnya banyak, juga yang halal dan membawa berkah. Sebab  tidak sedikit harta yang tidak halal ternyata tidak membawa berkah. Orang  Islam  dilarang mendapatkan harta yang tidak halal,  dan juga mengkonsumsinya.  Islam mengajarkan, dalam mendapatkan harta harus selektif, tidak boleh sembarangan.

Berkeadaan miskin tidak mengapa daripada  kaya,  tetapi harta yang diperoleh tidak halal. Yang ideal adalah hartanya banyak, halal, baik, dan membawa berkah.  Mengikuti prinsip tersebut, sebagai seorang Islam, seharusnya tidak melakukan korupsi, suap menyuap, dan sejenisnya. Sebab harta haram tidak boleh dimakan dan atau digunakan untuk apapun.

Kemakmuran seharusnya diraih, tetapi janganlah membawa risiko, yaitu melahirkan perselisihan, berebut, dan bahkan perpecahan. Kemakmuran seharusnya membawa kedamaian dan kesejahteraan. Akan tetapi yang terjadi terkadang sebaliknya, yaitu setelah makmur justru menjadi ribut. Hal yang demikian, orang menyebut harta yang diperoleh tidak  berkah. Wallahu aâ’lam.

 

Related For Risiko Kemakmuran