Pondok Pesantren Al-Yasini; Menuju Pendidikan Terpadu

Tuesday, September 26th 2017. | Jelajah Pesantren

Pesantren telah lama menjadi lembaga yang memiliki kontribusi penting dalam ikut serta mencerdaskan bangsa. Dalam ranah pesantren, pendiriannya tidak seperti lembaga-lembaga lain yang langsung jadi (instan). Dalam pendirian sebuah pesantren, di butuhkan beberapa waktu (proses) dan satu proses bisa memakan waktu yang lama, seperti proses dari perintisan ke proses pengembangan. Dari beberapa proses itulah baru bisa kita melihat sebuah lembaga yang matang, lembaga benar-benar siap mengkader anak bangsa.

Rantai Ke-pengasuhan

Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini didirikan oleh KH. Yasin Abdul Ghoni pada tahun 1940. Seperti halnya pesantren di zaman dahulu, model pengajaran yang di gunakan di Pesantren Al-Yasini adalah model kalongan, dimana para santri setelah mengaji pulang ke rumah masing-masing atau biasa di sebut santri kalong.

Pasca wafatnya Kiai Yasin, Pesantren Al-Yasini sempat mengalami kavakuman di karenakan putra-puta belaiau yang masih belia. Baru setelah putra beliau yang bernama Imron Fatchullah menikah kemudian mulai lagi menghidupan kegiatan pesantren di tahun 1953. KH. Imron Fatchullah bersama istri Ibu Nyai Hj. Zakiyah Abdulloh Ro’is beliau mulai mengembangkan pendidikan klasikal tingkat madrasah salafiyah.

Setelah mengasuh selama kurang lebih 37 tahun, estafet kepengasuhan di lanjutkan oleh putra beliau KH. A. Mujib Imron. Pada masa inilah Pesantren Al-Yasini mulai mengembangkan pendidikan terpadu sebagai penunjang mutu para santri.

Redaktur Majalah Langitan saat wawancara dengan KH. A. Mujib Imron

Menuju Pesantren Terpadu

Gus Mujib (sapaan akrabnya) prihatin terhadap wagra nahdliyin yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang non-nahdliyin. Dari keprihatinan itulah, pada tahun 1994  timbul inisiatif Gus Mujib untuk membuat wadah sekolah bagi warga nahdliyin, tentu dengan memadukan sekolah salafiyahnya.

“Di sini yang menjadi tolak ukur kenaikan kelas adalah pada madrasah salafiyahnya, kalau salafiyah tidak naik kelas, maka sekolah formalnya juga tidak naik” tutur Gus Mujib.

Dahulu, ketika KH. Imron Fatchullah membangun madrasah di Pesantren Al-Yasini ketika pagi, ruangan di gunakan Sekolah Dasar, dan ketika sore di gunakan sebagai diniyyah. Hal itu pun di teruskan oleh Gus Mujib, yakni saling memadukan antara pendidikan salafiyah dan formal.

“Saya meneruskan abah, abah kalau membangun madrasah pagi di gunakan sekolah formal, kalau sore di gunakan mengaji” terang Gus Mujib.

Walaupun pendidikan formal di Pesantren Al-Yasini sudah diakui pemerintah, namun Yayasan Al-Yasini tetap mempunyai kewenangan besar di dalamnya, seperti menentukan kepala sekolah dan guru harus melalui persetujuan dari pihak yayasan.

Sejak tahun 1990 pesantren dipimpin KH. A. Mujib Imron, SH. MH (Eks Anggota DPD RI periode 2004-2009). bersama KH. M. Ali Ridho Kholil (alm) serta saudara-saudara beliau Dr. Ir. H. Ahmad Fuadi, M.Si, Hj. Masluchah, Nyai H. Chanifah Imron, Hj. DR. Ilfi Nur Diana Imron, M.Si. Atas doa dan bimbingan Ibu Nyai Hj. Zakiyah Abdulloh Ro’is pesantren berkembang lebih pesat, hingga pada tahun 2005 Pondok Pesantren Al-Yasini telah diresmikan menjadi Pondok Pesantren Terpadu oleh Menteri Agama RI Bapak H. Maftuh Basyuni.

Kini Pondok Pesantren telah memiliki santri mukim 2.670 dari total santri 4.251 yang tersebar di berbagai lembaga formal (SDI, SMPU, Mts, SMPN, MAN, SMA, SMK Kesehatan, SMKN, STAI & AKBID) dan non formal (RA/TK, MADIN dan SALAFIYAH), yang berasal dari berbagai daerah dari Jawa, Kalimantan Sumatra, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Sistem Pendidikan di Pondok Pesantren Terpadu menitik beratkan kepada pendidikan keterpaduan antara Kurikulum Salafiyah dan Kurikulum Nasional. Sehingga santri lulusan Al-Yasini mempunyai kompetensi keilmuan dalam bidang agama khususnya dan juga kemampuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan keahlian.

tags: , , , , , , , ,

Related For Pondok Pesantren Al-Yasini; Menuju Pendidikan Terpadu