Berimankah Fir’aun?

Friday, September 22nd 2017. | Qur'an

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ (90) آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (91) فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (92

Artinya: “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (90) Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.(91) Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Q.S. Yunus: 90-92)

Cerita tenggelamnya Fir’aun pada masa nabi Musa memberikan pelajaran yang sangat berharga. Sebagai seorang raja yang berkuasa, dia diyakini tidak bisa meninggal. Dengan sombongnya, raja Mesir ini mengaku sebagai penguasa alam. Hingga para pengikutnya pun menganggap dirinya sebagai titisan Tuhan. Mereka tidak percaya mengenai tenggelamnya sang raja, sampai Allah, yakni Raja dari segala raja menampakkan kekuasan-Nya, dan mengeluarkan jasadnya dari laut. Maka, hilanglah keraguan di hati mereka. Allah memberikan pelajaran pada kita, betapa orang yang mengaku sebagai Tuhan bakal dihinakan sedemikian rupa.

Tafsir Ayat

( …. وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيل ) Arti ayat di atas seolah memuat kejanggalan: bagaimana bisa seseorang yang sudah tenggelam bisa mengucapkan kalimat?

  1. Menurut madzhab kita, ucapan Fir’aun adalah kalam nafsi (ucapan hati), bukan kalam lisan (ucapan bibir). Ayat ini juga menjadi dalil golongan ahlu sunah wal jamaah tentang adanya kalam nafsi.
  2. Maksud kata “tenggelam” adalah pendahuluannya. Sebelum Fir’aun tenggelam dan mengetahui nyawanya akan direnggut malaikat Izrail, dia berusaha menyatakan keimanannya dengan tujuan tertentu.

( …. الان وقد عصيت ) Bisa jadi pertanyaan ini datang dari malaikat Jibril, dengan membandingi firman وأنا من المسلمين  dan ada yang mengatakan datang dari Allah Swt, dengan dalih dua lafadz setelahnya, فاليوم ننجيك ببدنك  dan ucapan وإن كثيرا من الناس عن آياتنا لغافلون  yang tidak mungkin diucapkan selain oleh Allah.

( …. فاليوم ننجيك ببدنك ) Allah melemparkan jasad Fir’aun di najwah (dataran tinggi). Sebagian ulama membaca ” ننحيك ” yakni Allah melemparkannya ke nahiyah (pesisir). Ka’ab berkata, “Air laut melemparkan Fir’aun ke pesisir laut, kondisinya bak sebuah lumut.”

Secara dzahir, ayat ini berada dalam konteks ikhbar (memberi kabar), namun sebagian ulama menganggapnya isyifham (pertanyaan) yang mengandung faidah tahdid (menakut-nakuti): “maka hendaknya kalian beriman sebelum datang kematian.” Namun, penafsiran ini dinilai terlalu jauh, selain dihubungkan dengan ayat setelahnya, juga karena adanya pembuangan hamzah istifham.

Dia mengeluarkan Fir’aun dan menyelamatkannya dari jurang laut yang sangat dalam. Hanya saja, jasad itu tak lagi memuat ruh. Bukan penyelamatan yang sesungguhnya, melainkan bentuk hinaan atas kesombongannya. Konteks yang serupa adalah ayat-ayat yang kita ketahui. Allah menyuruh nabi memberi kabar gembira kepada orang-orang zalim dengan siksaan yang sangat pedih. Sebagaimana ucapan, “Kamu akan saya merdekakan, akan tetapi setelah mati, atau kamu akan saya lepaskan dari penjara, akan tetapi setelah mati”.

Beberapa pendapat mengenai penyelamatan Allah terhadap jasad Fir’aun:

  1. Sebagaimana disebutkan, Fira’un diselamatkan dalam kondisi tenggelam, hanya saja ruhnya telah menghilang.
  2. Jasad Fir’aun masih dalam keadaan utuh tanpa ada perubahan. Fisik fir’aun terbilang aneh dan tidak ada seorang pun dari Bani Isra’il yang menyerupainya.
  3. Dikeluarkan dalam kondisi telanjang tanpa busana. Kondisi demikian menambah penghinaan terhadapnya.
  4. Dikeluarkan beserta pakaian perangnya. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas, “Fir’aun memakai pakaian perang khusus, maka Allah mengeluarkannya dari air beserta pakaian itu supaya dia bisa dikenali.”

Pernyataan Iman

Pada ayat di atas, Fir’aun menyatakan keimanannya tiga kali, pada saat berkata “Saya beriman”, “Tiada Tuhan yang berhak disembah”, dan “Saya termasuk orang yang beriman”. Akan tetapi, ucapan itu tidak diterima. Beberapa ulama memberi alasan mengapa taubat Fir’aun tidak diterima:

  1. Fir’aun beriman saat turunnya adzab, dan pernyataan iman pada situasi seperti ini mengalami penolakan. Dalam kondisi nyawa sudah direnggut oleh malaikat, pernyataan iman tidak lagi diterima. Allah Swt. berfirman: “Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (Q. Ghofir: 85)
  2. Fir’aun mengucapkan kalimat di atas sebagai lantaran agar selamat dari bahaya yang menimpa dan akan membinasakannya. Ucapannya keluar sama sekali tidak dilandasi rasa ikhlas. Dia juga tidak berikrar atas keesaan Allah Swt., serta keagungan-Nya.
  3. Pengakuan Fir’aun sekadar taqlid. Dilihat dari ucapannya, seakan dia tidak mengetahui adanya Allah Swt. Hanya saja dia mendengar bahwa alam ini ada Tuhannya. Fir’aun berikrar akan Tuhan yang dia dengar dari Bani Isra’il. Dalam surat Thoha dijelaskan bahwa Fir’aun adalah orang yang tidak pernah sakit dan mengingkari adanya Dzat
  4. Beberapa kitab menyebutkan bahwa ketika sebagian kaum Bani Israil melewati laut, mereka sibuk menyembah anak sapi. Ketika Fir’aun berkata, “Aku beriman kepada Tuhan yang di imani Bani Isra’il, maka mereka beralih pada anak sapi yang mereka imani pada waktu itu.” Pada hakekatnya, kalimat itu justru menambah kekufurannya.
  5. Hati orang-orang Yahudi lebih condong pada tasybih dan tajsim, sehingga mereka masih beribadah kepada anak sapi yang mereka anggap sebagai jelmaan atau titisan Allah Swt. Ketika Fir’aun menyatakan iman, maka seakan dia beriman kepada tuhan yang bersifat jismiyah, hulul, dan nuzul. Semua yang diyakininya adalah bentuk
  6. Iman hanya bisa sempurna dengan meyakini keesaan Allah dan kenabian Musa as. Maka ketika Fir’aun mengakui Tuhan, akan tetapi tidak mengakui kenabian Musa, maka imannya batal. Lihat: Tafsir al muhith: 5: Tafsir al munar: 11: 388. Tafsir al kabir.
tags: , , , , , ,

Related For Berimankah Fir’aun?