Al-Hakam dan Sejarah Mesir

Thursday, September 21st 2017. | Uswatun Hasanah

 

Sejak dahulu kala, para pemikir Islam memiliki perhatian luar biasa terhadap kajian sejarah. Bagi mereka, sejarah turut mengabadikan peradaban dan kebudayaan Islam yang turut berkontribusi terhadap kemajuan Barat. Citra Islam yang menghargai ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan keindahan, terekam dengan apik lewat karya sejarah. Betapa sejarah menduduki posisi penting dalam kehidupan manusia. Dengan sejarah, manusia mampu melihat masa silam dengan arif. Dengan sejarah pula, manusia berusaha menghadapi masa depan dengan penuh semangat. Sejarah menjadi titian yang menghubungkan antara masa lalu dengan masa yang akan datang.

Kesadaran inilah yang mendorong lahirnya banyak ahli dan pakar sejarah Muslim. Mereka benar-benar tidak ingin tertimpa penyakit “buta sejarah”, di mana sejarah dianggap sekadar bagian dari masa lalu (a thing of the past) yang terputus dengan kehidupan masa kini. Mereka ingin menolak asumsi sebagian masyarakat bahwa “pengetahuan usang” seolah hanya menampung beragam kenangan dan romantisme klasik. Lebih jauh, mereka berusaha meyakinkan kepada generasi selanjutnya tentang spiritualitas sejarah.

Tulisan-tulisan para sejarawan Muslim menyiratkan bahwa dalam taraf tertentu, sejarah mampu menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Dengan “melek sejarah”, niscaya karakter kebangsaan dalam diri warga negara semakin mudah terbentuk. Dalam konteks sekarang, sejarah memberikan peluang ditegakkannya fondasi negara-bangsa (nation-state). Bagaimanapun, sebuah bangsa yang besar senantiasa mencurahkan apresiasi terhadap warisan sejarahnya. Kesadaran sejarah bangsa terbangun dari ruang dan waktu, di mana pemahaman mengenai kondisi yang telah lampau turut membentuk cita-cita dan harapan.

Riwayat Bangsa Tertua

Buku Peta Budaya Dunia menyebutkan, Mesir merupakan salah satu bangsa tertua di dunia. Negaranya yang terletak di Afrika Utara sering memperoleh julukan Negeri Seribu Piramid. Hal ini dikarenakan, di negara ini banyak dijumpai peninggalan peradaban Mesir Kuno berupa piramid dan artefak lainnya. Saat ini, Mesir diakui sebagai salah satu pusat budaya dan politik utama di wilayah Arab dan Timur Tengah.

Mesir berpenduduk mayoritas beragama Islam yang berada di Afrika Utara dan Semenanjung Sinai (Asia Barat Daya). Negara ini berbatasan langsung dengan Gaza, wilayah yang sejak lama menjadi lahan konflik antara Israel dan Palestina. Pemerintah Mesir menetapkan Kairo sebagai ibu kota Mesir yang sekaligus menjadi kota terbesar di Benua Afrika. Sejarah terbentuknya Mesir menjadi republik bermula dari tahun 1953. Historiografi menunjukkan, Mesir adalah negara pertama yang memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.

Salah satu sejarawan Muslim yang layak tercatat diabadikan dengan “tinta emas” dalam ikhtiar menulis sejarah Mesir adalah Ibnu Abd al-Hakam. Ia genap mencatat sejarah awal Mesir dalam buku berjudul Futuh Misr wal Maghrib wa Akhbaruha (Penaklukan Mesir dan Maghribi). Dalam buku yang tersusun atas tujuh jilid ini, al-Hakam menguraikan sejarah penaklukan yang pernah dilakukan oleh umat Islam.

Karya Monumental

Melalui karya inilah, al-Hakam mampu menyajikan uraian lengkap, holistis, dan filosofis. Itulah mengapa, kualitas karangannya tercium hingga berbagai pelosok negeri. Buktinya, apa yang ditulis ternyata sampai ke London, Inggris, dan Paris, Prancis. Kredibilitasnya dalam meracik data, mencermati fakta, menarik kesimpulan, serta menghidangkannya ke khalayak pembaca juga menarik minat Yale University Press untuk menerbitkan bukunya pada 1920-an.

Mengutip laman Republika (06/01/2010), jilid I buku al-Hakam merinci sejumlah keistimewaan yang dimiliki Mesir dan sejarah kuno negara tersebut. Jilid II mengisahkan penaklukan orang-orang Islam di bawah komando Amr Ibn al-As. Sementara itu, selain penguasaan atas Alexandria, jilid III karya al-Hakam juga memuat khitat atau permukiman Muslim di al-Jiza atau Gizh dan al-Fustat atau Kairo kuno. Adapun jilid IV menyebutkan beberapa langkah yang ditempuh Amr Ibn al-As di Lembah Nil.

Dalam karya monumental tersebut, al-Hakam memberikan penjelasan tentang penaklukan oasis al-Fayyum, Tripoli, dan Barqa serta wafatnya Al-As. Dalam jilid yang sama, ia menyinggung ekspansi Muslim ke provinsi kekuasaan Roma di Afrika, yaitu Ifrikiya. Tak luput dari perhatiannya yaitu pertempuran pasukan Muslim dengan Nubian yang berlangsung di Afrika Selatan. Pada jilid V, al-Hakam menunjukkan catatannya tentang penaklukan di Afrika Utara dan Spanyol. Sedangkan jilid VI buku ini dikenal dengan qadis Mesir dan jilid VII menjelaskan tradisi-tradisi Mesir.

 

tags: , , , , ,

Related For Al-Hakam dan Sejarah Mesir