Tafa’ul dan Tathoyyur (Bagian I)

Wednesday, September 20th 2017. | Aswaja

Seseorang sedang menderita sakit. Dia ingin bertafa’ul dengan ucapan yang didengarnya. Lantas dia mendengar seorang tamu berujar padanya, “Hai orang yang sehat”. Atau ada seorang yang kehilangan barang yang bertafa’ul dengan ucapan seseorang, “Hai orang yang menemukan barangnya”.

Dua ucapan itu memberi kekuatan dalam diri mereka. Ucapan “Hai orang yang sehat” menumbuhkan kepercayaan bagi orang yang sakit akan diberi kesembuhan, dan “Hai orang yang menemukan barangnya” menimbulkan prasangka bahwa orang yang kehilangan bisa menemukan barangnya. Ini adalah contoh tafa’ul sebagaimana diutarakan oleh Ibnu Katsir.

Tafa’ul memiliki definisi yang sangat dekat dengan husnud dzon (berprasangka baik) kepada Allah Swt. Seorang yang mengaku mukmin harus menjaga dua hal di atas. Keduanya bisa memberi harapan kepada orang mukmin agar masa depannya lebih baik dari hari yang sedang ia jalani, agar kebaikan-kebaikan yang ia abaikan bisa tergantikan, agar ia dijauhkan dari cobaan, dan mendapat kebaikan yang nyata.

`Imam Mawardi berkata, “Tafa’ul adalah penguat terhadap niat, pendorong untuk melakukan kebajikan, dan penolong agar memperoleh kemenangan. Tafa’ul juga sebagai bentuk lapang dada seorang mukmin, husnud dzon kepada Tuhannya, dan usaha untuk menempatkan diri dalam kebaikan.”

Lawan dari tafa’ul adalah tathoyyur. Perbedaan tafa’ul dan tathoyyur adalah bahwa tafa’ul jalan berhusnudzun kepada Allah SWT. Sedangkan tathoyyur berprasangka buruk kepada-nya. Nabi suka melakukan tafa’ul, karena mempunyai prasangka baik merupakan hal yang selalu diperintah agama. Sedangkan tathoyyur adalah su’ud dzon kepada Allah yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang hamba.

Terdapat sebuah hadits qudsi yang menyatakan bahwa Allah akan memberi kebaikan bagi hamba-Nya yang berprasangka baik dan memberi keburukan bagi hamba-Nya yang berprasangka buruk.

عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ رضي اللهُ عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى اللهُ عليه وسلم قَالَ: “إِنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ يَقُولُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah Ra. bahwa Nabi Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman, ‘Aku berada pada prasangka seorang hamba kepadaku, apabila dia berprasangka baik, maka dia akan mendapat kebaikan itu, dan apabila dia berprasangka buruk maka dia akan mendapat keburukan itu.”

Nabi juga sering melakukan tafa’ul dalam peperangan. Ini beliau lakukan karena bisa memberi harapan dan mendapatkan banyak manfaat. Adapun berharap pada kebaikan lebih baik dari pada putus asa darinya.

Nabi sangat menganjurkan umatnya mengikuti sunah. “Dan tetaplah terhadap sunahku dan sunah Khulafaur Rosyidin.”

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رضي اللهُ عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى اللهُ عليه وسلم قَالَ: يُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

Artinya: “Dari Anas bin Malik bahwa nabi Saw. bersabda, ‘Mengherankanku tafa’ul yang baik, yakni kalimat yang baik.” (H.R. Bukhori-Muslim)

 

Ajaran Tafa’ul

Dengan berkaca pada kehidupan Rasulullah, maka akan ditemukan banyak sekali contoh tafa’ul. Salah satunya, beliau suka melakukan sesuatu dengan mendahulukan sisi kanan karena ashabul yamin adalah penghuni surga. Beliau juga sering mengubah nama sahabat yang jelek pada masa jahiliah dengan nama yang baik, dengan harapan prilakunya menjadi baik.

عَنْ ابنِ عَبَّاسٍ رضي اللهُ عنهما قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم يَتَفَاءَلُ وَلَا يَتَطَيَّرُ، وَيُعْجِبُهُ الاسْمُ الْحَسَنُ

Artinya: “Dari Ibnu Abbas Ra. Ia berkata, Rasulullah Saw. melakukan tafa’ul dan tidak bertathoyyur, dan mengagumkan beliau sebuah nama yang baik.” (H.R. Ahmad).

Di tengah-tengah perang Khandaq, saat beberapa kabilah Arab dan orang Yahudi berkumpul dan terbentuklah pasukan yang mencapai sepuluh ribu pasukan. Sedangkan hawa begitu dingin, perut tercabik-cabik oleh rasa lapar, dan bulu-bulu berdiri akibat rasa takut, saat itulah Nabi menanamkan tafa’ul dalam hati para sahabat. Beliau meyakinkan mereka dan memberi kabar gembira dengan akan ditaklukkannya Faris, Syam, dan Yaman.

Barra` ibn Azib al-Anshari Ra. menuturkan, “Ketika Rasulullah memerintahkan kami untuk menggali parit, di salah satu bagian parit kami menemukan sebongkah batu besar yang sulit diangkat dengan cangkul. para sahabat pun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah. Setelah melihat batu besar yang kami temukan itu, beliau pun mengambil cangkul lalu berucap ‘Bismillah!’ Dan memukul batu tersebut sehingga pecahlah sepertiganya. Beliau berkata, ‘Allahu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah, sungguh aku melihat istana-istananya yang berwarna merah dari tempatku ini.”

Lalu beliau memukul lagi untuk yang kedua sehingga pecahlah sepertiga bagian yang lain. Rasulullah lalu berkata, ‘Allahu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Persia. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat istana Madain yang berwarna putih dari tempatku ini.”

Lalu beliau memukul lagi untuk yang ketiga seraya berujar ‘Bismillah!’ sehingga pecahlah bagian yang masih tersisa. Rasulullah lalu berkata: ‘Allahu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat gerbang Shana’a dari tempatku sekarang ini.” (H.R.Ahmad).

Masih banyak sekali contoh tafa’ul yang diajarkan Nabi bila kita mau membaca kitab-kitab yang menerangkan as-Sirah  an-nabawi (perjalanan hidup baginda Nabi).

 

Faidah Tafa’ul

Tafa’ul mempunyai beberapa faidah. Antara lain sebagai berikut:

  1. Bisa menarik kebahagiaan dan rasa senang dalam hati dan menghilangkan prihatin dan kesusahan. Nabi mengajarkan agar rasa prihatin dan susah dihilangkan.

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رضي اللهُ عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى اللهُ عليه وسلم كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

Artinya: “Dari Anas bin Malik, ia berkata, Nabi Saw. berkata, ‘Wahai Tuhanku, Aku berlindung dari prihatin dan susah.” (H.R. Bukhori).

  1. Menguatkan azm (keinginan), membangkitkan kemenangan, dan pendorong untuk semakin giat dalam beramal.
  2. Nabi sangat menganjurkan umatnya mengikuti sunah. “Dan tetaplah terhadap sunahku dan sunah Khulafaur Rosyidin.”
tags: , , , , ,

Related For Tafa’ul dan Tathoyyur (Bagian I)