Agar Anak Beroleh Hidayah Sejak Di Sulbi Ayahnya

Saturday, May 20th 2017. | Tasawuf

 

Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang santgat berharga. Demikian Al-Ghazali menyebutkan dalam Ihya Ulumuddin. Lebih lanjut dalam keterangan Al-Ghazali, jika anak dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa.

Inilah barangkali pesan moral Islam kepada para orang tua berkaitan dengan pendidikan anak-anaknya. Orang tua sangat berkepentingan untuk mendidik dan mengarahkan putra-putrinya ke arah yang biak dan memberi bekal berbagai adab dan morarilas agar mereka terbimbing menjadi anak-anak yang dapat kita banggakan kelak di hadapan Allah. Namun banyak yang beranggapan bahwa pendidikan anak diberikan manakala ia sudah terlahir ke dunia. Padahal pendidikan kepada anak haruslah dimulai saat ia masih berada dalam tulang sulbi sang ayah. Tentu pendidikan yang dimaksud bukan seperti layakanya kita mengajar anak-anak atau para siswa. Pendidikan yang dimaksud adalah dimulai dari pribadi suami istri sebagai calon orang tua.

Banyak contoh dan teladan yang diberikan oleh murabbi dan muallim kita, Rasulullah SAW mengenai keteladanan mendidik dan membimbing anak di bidang akhlak, akidah dan ibadah bahkan intelegensi.

Diceritakan, ketika orang-orang musyrik dari kalangan penduduk kota Thaif menolak seruan Nabi Muhammad yang mengajak mereka untuk masuk agama Islam, lalu mereka mencaci dan melemparinya dengan batu, maka malaikat penjaga gunung menawarkn kepada nabi bahwa ia bersedia untuk menimpakan dua bukit Makkah kepada mereka. Pada saat itu juga, nabi yang berhati lembut lagi penyayang menjawab:

أرْجُو أَنْ يُخْرِجَ الله مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ وَلَا يُشْركُ بِهِ شَيْئًاee

Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang mau menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya dengan susuatu apapun (HR. Bukhari no. 2992 Kitab Bad’u al-Khalqi, dan Muslim no. 3352 Kitab Jihad wa as-Siyar dan lain-lainnya)

Nabi Muhammad memberikan bimbingan pula kepada kaum muslim agar melakukan hal-hal yang menghasilkan kemaslahatan bagi anak-anak mereka pada masa mendatang. Untuk itu beliau bersabda:

 

eeلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ بِسْمِ اللهِ اللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَارَزَقْتَنَا فَيُوْلَدُ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فَلَا يُصِيْبُهُ الشَّيْطَانُ أَبَدًا

 

Manakala seseorang di antara kalian sebelum menggauli istinya terlebih dahulu mengucapkan: “Bissmillahi allahumma jannibnaa asy-syaithaana wa jannibi asy-syaithaana maa razaqtana” (Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, hindarkanlah kami dari gangguan setan dan hindarkan pula anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami dari gangguan setan). Kemudian dilahirkanlah dari keduanya seorang anak, niscaya selamanya setan tidak akan dapat mengganggunya. (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam hadis ini terkandung anjuran yang merngarahkan kepada kita bahwa sebaiknya permulaan yang kita lakukan dalam hal ini bersifat rabbani bukan syaithani. Apabila disebutkan nama Allah pada permulaan senggama berarti hubungan sebadan yang dilakukan oleh suami istri yang bersangkutan berlandaskan ketakwaan kepada Allah dan dengan izin Allah anaknya nanti tidak akan diganggu oleh setan.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kita untuk memilih orng-orang yang salih, baik laki-laki maupun perempuan, saat melakukan pernikahan agar mereka berkemampuan untuk membesarkan dan mendidik generasi yang salih. Demikianlah karena sesungguhnya bibit yang tidak salih jelas tidak akan dapat memberikan keturunan yang salih. Dalam sebuah pepatah disebutkan bahwa orang yang tidak memiliki sesuatu, pasti tidak dapat memberikannya. Sehubungan dengan hal ini, Allah SWT telah berfirman dalam Q.S an-Nur ayat 32 yang artinya: ”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.”

Makna yang semisal telah disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadisnya: “Pilih-pilihlah buat menitipkan nutfah (benih) kalian, nikahilah orang-orang yang sepadan, dan nikahkanlah di antara sesama mereka.” (HR. Imam Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 14060, Ibnu Majah juz I Kitab an-Nikah no. 1968).

tags: , , , , , , , ,

Related For Agar Anak Beroleh Hidayah Sejak Di Sulbi Ayahnya