Memaknai Penganut Agama Garis Keras

Sunday, February 7th 2016. | Essay

paham-berbahaya-ISIS-dailymail

Memaknai Penganut Agama Garis Keras

 

Menyebut istilah garis keras maka yang tergambar adalah seseorang yang memiliki sifat tegas, tidak mau kompromi, dan bersedia melakukan apa saja demi yang dianggap benar itu. Demikian pula penganut agama garis keras, mereka berusaha secara tegas menjalankan dan membela agama yang dianutnya dengan pengorbanan dan resiko apapun.

 

Pengertian tersebut memunculkan gambaran bahwa tatkala seseorang menyatakan diri sebagai penganut agama tertentu maka yang terbayang adalah munculnya orang-orang yang tidak menyetujui, tidak sepakat, melarang, dan mencegah dan memusuhinya. Beragama menjadikan sekaligus memiliki musuh yang harus segera dilawan.

 

Padahal agama seharusnya dimaknai sebagai jalan hidup yang ditempuh agar meraih ketenangan, kedamaian, dan keselamatan. Suasana batin yang demikian indah itu diperoleh karena, sebagai orang beragama, mengerti terhadap dirinya sendiri, terhadap Tuhannya, dan jalan hidup yang seharusnya dilalui sebagaimana ajaran yang dipahaminya itu.

 

Jalan menuju ketenangan, kedamaian, dan keselamatan tentu tidak ada yang membahayakan terhadap siapapun. Orang yang teguh menjalankan agamanya maka seharusnya justru membangun kehidupan yang berorientasi pada suasana yang dimaksudkan itu. Ekstrim atau mengikuti garis keras dalam beragama seharusnya dimaknai sebagai berlebih-lebihan dalam mewujudkan kehidupan yang dipandang ideal itu, dan bukan justru sebaliknya.

 

Agama tidak merusak tetapi justru sebaliknya, yaitu memperbaiki dan menyempurkan kebaikan. Orang beragama pasti memiliki musuh, tetapi musuh itu, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, adalah datang dari dirinya sendiri dan bukan dari orang lain. Musuh yang dimaksud adalah bisikan hati yang merusak dan tidak berhasil dikendalikan. Bisikan hati atau disebut dengan nafsu itu di antaranya adalah ujub, riya’, sombong, dengki, hasut, fitnah, mengadu domba, pemarah, dan semacamnya. Beragama di antaranya adalah dengan sungguh-sungguh menghilangkan bisikan hati yang merusak itu.

 

Oleh karena itu, beragama secara ektrim atau mengikuti garis keras, ketika yang bersangkutan merasa memiliki musuh, maka musuh yang seharusnya dilawan secara tegas dan tanpa kompromi itu adalah datang dari dirinya sendiri. Semangat membanggakan diri sendiri seharusnya dikalahkan hingga menjadi berperasaan merendah, riya’, dan sombong diubah hingga menjadi tawadhu’, hasut dan iri hati yang menyala-nyala diganti total dengan bersyukur, dan seterusnya.

 

Beragama pada hakekatnya adalah berusaha dengan sungguh-sungguh meningkatkan kualitas diri. Beragama Islam, maka artinya adalah berusaha memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas pribadi, merelisasikan keadilan, selalu berusaha untuk berkomunikasi dengan Tuhan melalui berbagai kegiatan ritual secara istiqomah, dan selalu menjalankan amanah atau kegiatan sehari-hari dengan cara terbaik.

 

Jika beragama garis keras dimaknai sebagaimana digambarkan tersebut, yakni berusaha menjalani hidup dengan penuh kesadaran, berorientasi pada kualitas, dan kemanfaatan, maka wajah ekstrim dan garis keras yang dimaksudkan akan berbeda bentuknya. Mereka akan berwajah santun, mengutamakan kedamaian, selalu menebarkan kasih sayang, dan peduli kepada siapapun. Sebaliknya, selalu menjauhkan diri dari permusuhan dan kerusakan. Itulah wajah ektrim dan garis keras dalam beragama. Akhirnya, jika demikian itu yang dimaksudkan, maka kelompok ektrim dan garis keras akan dicintai oleh siapapun. Wallahu a’lam

tags: , , , , , ,

Related For Memaknai Penganut Agama Garis Keras